Cerpen Eko Pujiono
TUHAN MASIH MENCINTAIMU, walaupun saya tidak lagi. Kamu masih selamat. Percobaan bunuh dirimu gagal total. Tiga hari kamu dirawat di rumah sakit. Saya yang menunggui dirimu. Gara-gara bapak, kamu selamat. Untung bapak pulang ke rumah. Ada sesuatu yang tertinggal. Cepat-cepat bapak pulang dari bengkelnya.
Waktu itu, bapaklah yang membopongmu ke rumah sakit. Bapak histeris melihat keadaanmu yang mengenaskan. Dia marah-marah kepada saya. Mengomel; yang saya dengar bagai angin lalu. Saya hanya membiarkan tubuhmu terkapar di lantai. Menyaksikan dengan bola mata saya, kamu kejang-kejang. Mulutmu mengeluarkan busa. Hanya satu yang terpikirkan oleh saya, ”Dasar tolol! Racun serangga kamu minum.”
Telah satu bulan peristiwa itu berlalu. Saya takut kamu nekat. Kalap. Mencoba bunuh diri lagi. Biarpun waktu itu gagal, saya tetap takut kamu mengulangi. Tak pernah lagi saya ucapkan kata-kata itu. Saya kunci rapat-rapat mulut ini. Saya tidak mau melihat kamu meregang nyawa tepat di hadapanku.
Semenjak itu, saya jarang ngobrol denganmu. Biarpun saya dan kamu tidur sekamar. Kini, saya memilih tidak tidur seranjang denganmu. Saya menggelar tikar di lantai. Itu tempat tidur saya yang nyaman.
Kamu tampak sering melamun. Tak banyak aktivitas yang kamu lakukan sehari-hari. Sering kulihat kamu di dalam kamar. Tidur-tiduran. Sesekali kudengar sesenggukkan tangismu. Tangismu itu tak pernah kuhiraukan. Sudah tuli telinga saya mendengar tangismu.
Waktumu banyak kamu habiskan di rumah. Kamu tidak bekerja. Ijazah sarjanamu tidak berguna. Dulu kamu pernah bekerja, biarpun dua bulan sesudahnya kamu dipecat. Kamu dituduh menggelapkan uang perusahaan. Biarpun tidak terbukti, kamu sudah terlanjur dipecat. Tanpa pesangon. Reputasimu buruk. Sesudah itu, tidak ada perusahaan yang mau menerima lamaranmu.
Sehari-hari, paling-paling yang kamu lakukan hanya ke warung untuk berbelanja. Kadang pula kamu meminta saya mengantar ke pasar. Lalu, ke dapur membuat masakan. Mengurus rumah. Mencuci dan menyetrika pakaian. Sendiri kamu lakukan. Di rumah ini hanya tinggal bapak, saya, dan kamu.
Suatu pagi di ruang makan. Hanya ada saya dan kamu.
”Kamu bohong. Sandiwara apa lagi yang kamu buat?” tanya saya di ruang makan rumah orangtuaku.
”Sandiwara apa? Aku tidak bersandiwara. Bukankah kamu yang suka bersandiwara? Hei, pekerja teater,” katamu terheran-heran sambil memegang gelas berisi air putih yang tinggal setengahnya saja.
”Bukankah kamu sendiri juga tahu. Saya pekerja tata lampu. Teater keliling. Bukan berarti saya suka bersandiwara. Bisa akting saja, tidak! Kamu mungkin yang bersandiwara?” tanya saya dengan sinis.
Lama kamu diam. Sedikit merenung. Mungkin melamun. Kamu letakkan gelas di sebelah piringmu yang masih berisi makanan. Belum habis. Tinggal setengahnya. Saya lihat dari tadi makanmu tidak bernafsu. Kamu aduk-aduk isi piring dengan sendok yang kamu pegang.
”Mau kamu apa?” tanyamu tiba-tiba memecah sepi di antara saya dan kamu.
”Saya hanya ingin pisah darimu...,” saya katakan dengan lembut.
”Pisah? Jangan!” balasmu dengan kaget. ”Aku tidak mau pisah denganmu. Aku terlalu sayang kepadamu. Remuklah hatiku jika kamu benar-benar menginginkan itu,” sambungmu dengan mengiba.
”Biarlah itu terjadi. Sudah hancur lebur hati saya kamu bohongi.”
”Siapa yang bohong?”
”Kamu!”
”Aku?”
”Ya, kamu! Siapa lagi kalau bukan kamu. Dasar tolol!”
Segera kamu bangkit. Pergi ke dapur. Entah apa yang kamu cari di sana. Ketika keluar kamu membawa jerigen kecil berisi minyak tanah. Kamu jinjing menggunakan tangan kanan. Lalu, kamu menghampiri saya. Untuk apa minyak tanah itu, pikir saya.
”Aku rela berpisah denganmu. Satu yang harus kamu tahu, aku sangat mencintaimu.” sekali lagi kamu mengiba di depanku. Tangan kirimu memegang ke dua tangan saya. Tak saya hiraukan.
”Aku rela berpisah denganmu. Satu yang harus kamu tahu, aku sangat mencintaimu.” katamu sekali lagi. Kini sambil berlutut.
Sekali lagi kamu katakan kalimat bodoh itu. Dasar tolol, pikir saya. Kemudian kamu bangkit.
”Ok kalau begitu. Kamu mau pisah? Aku turuti. Kamu harus lihat aku mati.” kamu mengancam.
”Mana berani kamu?” tantang saya.
Matamu berkaca. Sedikit sembab. Mukamu memerah. Saya palingkan muka. Saya tidak mau melihat. Wajah penipu yang memelas. Ahh, tidak patut dilihat.
Beberapa saat kemudian kamu mengoceh. Berkata tentang segala hal. Tentang cinta, saya, dan kamu sendiri. Lalu, kamu mengandai-andai. Bicara mimpi-mimpi indah. Tak lupa, kamu juga berjanji. Terdengar meyakinkan. Bagai sales. Yang saya dengar hanya ocehan belaka. Suara-suara yang memekakkan telinga. Khotbah amburadul. Bla.., bla..., bla... Dasar tak tahu diri. Saraf!
Tiba-tiba tidak terdengar suaramu lagi. Kamu diam. Lama. Ketika saya lihat dirimu, kamu sudah terkapar. Mulutmu berbusa. Saya hanya membiarkan tubuhmu terkapar di lantai. Menyaksikan dengan bola mata saya, kamu kejang-kejang. Hanya satu yang terpikirkan oleh saya, ”Dasar bodoh! Minyak tanah kamu minum. Kebodohan yang kamu ulangi.”
Lagi-lagi Tuhan masih mencintaimu, biarpun saya muak denganmu. Kamu masih hidup. Percobaan bunuh dirimu yang ke-dua gagal total. Karena iba, saya membopongmu ke rumah sakit. Kali ini hanya dua hari kamu dirawat di rumah sakit. Lagi-lagi saya yang menunggui dirimu.
***
Saya masih ingin berpisah darimu, biarpun tak pernah saya ucapkan lagi. Saya hanya ingin pisah darimu. Lain tidak..., tidak lebih. Hanya berpisah. Titik. Saya sudah tidak mau dengar kata-kata rayuanmu lagi. Saya ogah dengan janji-janjimu. Saya sudah muak dengan impian-impian tololmu. Apalagi percobaan bunuh diri yang gagal.
Dulu, katamu, saya tampan. Hati saya membumbung tinggi. Kamu satu-satunya perempuan yang mengatakan itu selain ibu saya. Saya benar merasa sebagai seorang laki-laki. Seseorang yang sempurna. Dipuja seorang perempuan yang mencintai saya seutuhnya.
Dulu, janjimu, kamu mau jika saya nikah. Mau menerima segala keadaan saya. Biar miskin, susah, payah sungguh kamu mau. Saya sangat terharu dengan itu. Memang saya ini seorang yang tak punya apa-apa. Lahir di keluarga miskin. Sedikit pendidikan dan memiliki pekerjaan yang kasar. Sebagai kuli lighting. Bayaran juga tidak menjanjikan.
Dulu, mimpimu, ingin membuatkan saya sebuah rumah sederhana dengan kolam renang kecil di belakang rumah. Kamu juga menjamin bakalan menyejahterakan kehidupan saya kelak ketika sudah menikah. Ahhh..., sungguh indah. Saya, kelak, sebagai seorang suami hanya tinggal ongkang-ongkang kaki. Saya tidak perlu bekerja. Saya hanya cukup menikmati hasil peras keringatmu.
Dulu, sempat saya berangan-angan. Hidup saya bakalan berbahagia, kiranya.
Ahhh..., rupanya itu hanya ilusi yang kamu buat. Tidak cukup lama kamu mampu membuat bayang-bayang semu itu. Hanya dua setengah tahun. Tidak lebih. Saya sudah mulai menguak bobroknya ucapanmu itu. Dasar perempuan pengangguran. Pembual. Penyebar omong kosong. Kini, kamu sama miskinnya dengan hidup saya. Kecantikanmu pun sudah mulai pudar. Wajahmu mulai keriput. Tak pernah kamu rawat. Pekerjaanmu hanya merengek. ”Jangan tinggalkan aku.” Kalau saya tidak menuruti, kamu mengancam. ”Kamu mau pisah? Aku turuti. Kamu harus lihat aku mati.”
***
Mungkin karena sudah muak, Tuhan tidak lagi menyanyangimu. Ajal menjemputmu. Pada percobaan bunuh diri yang ke-tujuh, kamu mampus juga. Di kamar mandi kamu menghembuskan nafas terakhir. Tidak ada yang tahu kapan kamu meregangkan nyawa. Pagi buta itu, bapak yang pertama kali melihat tubuhmu membiru. Kaku. Ceceran darah memberi suasana ngeri kematianmu. Pembuluh darah di pergelangan tangan kirimu putus. Pasti kamu sendiri yang melakukannya.
Pada hari kematianmu, saya berada di luar kota. Biasa, ada pementasan keliling di beberapa kota. Saya agak kaget ketika ditelpon bapak bahwa kamu meninggal. Secepat kilat saya pulang. Saya tidak menduga kamu bunuh diri. Kali ini sukses dan berjalan lancar. Saya turut serta prosesi pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir jenazah istri saya yang sedari dulu ingin sekali saya cerai. Sore hari itu, tubuhmu yang dibalut gaun putih telah dikebumikan. Selayaknya pula, saya teteskan air mata untuk mengantar kepulanganmu menghadap Sang Pencipta. Anggun, selamat tinggal.
Malam hari, di kamar terasa senyap. Lebih sunyi daripada hari-hari yang lalu bersamamu yang penuh kebisuan. Ditemani temaran lampu, saya merapikan barang-barang milikmu. Saya tak ingin berlama-lama menyimpan kenangan denganmu. Saya rasa semuanya hanyalah kenangan buruk. Semua barang yang dapat mengingatkan dirimu, saya pak kemudian saya masukkan ke dalam kardus. Pakaianmu, foto-foto, sepatu, sandal, pernak-pernik milikmu, buku, dan semua milikmu, termasuk pula alat rias.
Di dalam laci meja rias, saya menemukan buku harianmu. Sampulnya berwarna biru. Masih tampak baru. Saya tidak pernah melihat kamu menulis buku harian. Aahh.., mungkin itu hobi barumu setelah gagal bunuh diri dengan menenggak racun serangga.
Saya pun membukanya tepat di halaman sebuah pena sebagai pembatas. Halaman terakhir yang kamu tulisi. Tertanggal 25 November, satu hari sebelum kamu bunuh diri. Di halaman itu kamu menulis:
Aku tidak bisa tidur1
Orang ngomong, anjing ngonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendiding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan batu
Aku hendak bicara
Suara hilang, tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
Dia hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil tertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba
Air mata saya tumpah. Perasaan haru membuncah. Membaca kata demi kata kalimat yang tertulis di buku harianmu, perasaan menyesal muncul. Semakin banyak saya baca tulisanmu, semakin dada ini sesak. Semakin banyak halaman saya baca, semakin banyak air mata mengalir. Saya menyesal. Anggun, maaf ....
Semarang, 26 November 2008
1Sajak Chairil Anwar Kesabaran dalam Deru Campur Debu
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Agustus 2009
BIRU di SAVANA
Oleh Eko Pujiono
“Pernahkah kamu keliru dalam mengartikan mengenai sesuatu?” tanya seekor burung elang kepada teman akrabnya, kelinci.
“Misalnya?”
“Soal cinta, aku tak paham apa sejatinya itu cinta.”
“Akupun sama. Ibuku tak pernah memberitahuku apa itu cinta. Kemudian guruku di sekolah dulu juga tak pernah menerangkan apa pengertian dari cinta.”
“Memangnya kamu pernah sekolah?”
“Kayaknya pernah. Pernah nggak ya? Kamu pernah lihat aku sekolah?”
Keduanya tertawa terbahak-bahak. Burung elang dan kelinci sedari dulu sudah berteman akrab. Tempat favorit mereka untuk bertemu adalah di pohon ini. Pohon yang hanya satu-satunya di tengah padang rumput yang terhampar hijau warnanya. Sebenarnya masih banyak pohon lain tumbuh di areal savana ini. Namun, pohon-pohon itu tumbuh di pinggiran padang, di lereng bukit yang tidak jauh di sisi padang luas ini, dimana sang surya kembali ke peraduannya.
Padang ini nampak asri. Di sebelah bukit adalah air mengalir dari sumber mata air yang mancur dari celah-celah bebatuan dari dalam lorong goa yang menyeruak ke dalam bukit itu. Airnya jernih, mengalir. Bukit kecil membawa air itu ke tempat yang lebih jauh dan lebih rendah posisinya.
Biasa, kedua sahabat antara elang dan kelinci melepas penat di pohon ini. Pohon yang tidak cukup rindang, karena memang kecil untuk ukuran pohon-pohon lain di hutan sana. Pohon ini hanya cukup menopang tubuh elang yang mlangkring di salah satu cabangnya. Sedangkan si kelinci—karena tidak bisa manjat pohon—duduk asyik di bawahnya. Di tanah yang sekelilingnya penuh rumput hijau sambil mengunyah-ngunyah beberapa untuk mengemil.
Oh ya, elang berjenis kelamin jantan dan kelinci berjenis kelamin betina. Untuk ukuran manusia, usianya baru menginjak usia remaja. Baru puber. Sejak kecil, keduanya sudah bersahabat. Mereka masih bertetangga. Si kelinci tinggal di balik semak di pinggir padang, dekat parit yang mengalirkan air. Sedangkan si elang tinggal di hutan. Awalnya, keduanya sering kali bertemu. Saat elang diajari induknya untuk terbang dan si kelinci diajari induknya berlari dengan lompatan-lompatan.
“Elang, kamu sedang jatuh cinta?” teriak kelinci setelah beberapa saat keduannya terdiam, membuncahkan suasana.
“Jatuh cinta? Aku tak tahu.”
“Kamu naksir siapa?”
“Aku tak tahu, aku bingung, aku tidak bisa mengungkapkan apa-apa. Perasaanku saja yang selalu memikirkan tentang seekor betina yang nantinya akan menelorkan dan menetaskan darah keturunanku. Tapi dia kan saudaraku.”
“Sudah memang seperti itu kan. Kita harus kawin dengan sejenisnya.”
“Tapi itu apakah ada unsur cinta? Aku mengartikan cinta adalah pangkal dari kebahagiaan. Tanpa cinta, apakah akan diperoleh bahagia?”
Si kelinci menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil seperti mendelik matanya, menelan rumput yang telah dikunyahnya. Kelinci terkenal dengan kecerdasan dan kelincahannya. Tak heran, si elang selalu minta arahan tentang berbagai hal. Seperti kali ini. Si elang setelah diberitahu oleh ibunya akan dikawinkan dengan saudaranya oleh bapaknya. Sebelum dipaksa bapaknya, elang diminta dengan baik-baik oleh ibunya.
Semalam si elang baru diberi tahu. Elang kaget harus berbuat apa. Menolak dengan melawan atau menerima dengan tulus ikhlas sebagai tanda balas budi terhadap apa yang selama ini diberikan oleh kedua orang tuanya kepadanya.
“Hmm…, aku tak bisa berpikir soal itu,” jawab kelinci dengan menunduk. “Mungkin aku akan mengalami hal yang sama seperti kamu nanti.”
“Kamu tahu kan saudaraku, sudah ingusan, tak pernah dandan, bulunya acak-acakan. Pokoknya mirip gelandangan deh.”
“Ya, aku tahu. Malah dia suka berak dan kencing sembarangan.”
“Terus, apa sejatinya arti cinta?”
“Entahlah,” si kelinci menghela, “aku juga sedang mencari pengetahuan tentangnya. Yang pasti, menurutku cinta bukan hanya sebuah kata, apalagi ungkapan. Cinta bukan hanya perasaan, pertautan rasa. Cinta adalah universal, universal cinta, cinta universal.”
“Maksudnya?”
“Kamu pikir, jangan hanya nanya doang. Aku juga mikir.”
Si kelinci menggaruk-garuk kepalanya. Si elang juga nampak berpikir. Angin padang rumput ingi juga berpikir. Angin berlalu-lalang dengan santainya. Sepoi yang terasa. Sengat mentari disapu oleh angin. Suara alam memaki sang terik lewat ceceruit binatang yang bersautan. Elang dan kelinci masih berpikir. Matanya kian belok ke kanan-kiri, ke ats-bawah, ke depan-belakang, ke semua penjuru mata angin. Hela nafaspun kian banyak terdengar. Mentari pun enggan menyaksikan pemandangan ini, apalagi dia dimaki-maki penghuni bumi, maka ia berangsur menggelincir ke ufuk barat. Keringatnya bercucuran. Tapi sayang tidak dijatuhkan lewat hujan yang sudah dinanti-nanti penghuni padang ini.
“Begini,” kelinci mencoba menjelaskan, ”cinta universal-universal cinta artinya setiap makhluk memiliki cinta dan merasakan cinta. Setiap waktu, setiap saat, di manapun tempatnya berada.”
“Terus?”
“Pernahkah kamu berpikir bahwa apa yang diberikan dan dilakukan oleh orang tua kita, dari kita bayi sampai seperti ini adalah perwujudan dari cinta. Mereka, orang tua kita, merawat, memberi makan, menyediakan tempat tinggal, membekali kita dengan ilmu, melatih untuk tetap hidup, mempertahankan hidup, mendidik, dan sebagainya. Tanpa memiliki cinta, apakah dengan ikhlas, rela melakukan itu semua kepada kita.”
“Apakah cinta hanya seperti itu? Hanya dari orang tua kepada anaknya.”
“Tidak! Sudah kubilang cinta itu universal. Menurutku cinta adalah pangkal dan muara dari semua hal. Dari yang kita pikirkan, yang kita rasakan, yang kita perbuat. Pokoknya semua yang menyangkut kita sebagai makhluk. Misalnya, ada perasaan benci, marah terhadap manusia yang suka menebang pohon secara membabi buta, memburu dan memangsa kita. Itu karena perasaan cinta kita terhadap kelangsungan kehidupan kita dan masa depan anak cucu kita.”
“Jadi cinta dapat juga diartikan hidup. Tanpa cinta berarti tidak hidup. Mempertahankan cinta berarti mempertahankan kelangsungan hidup kita. Bukankah begitu?”
“Lebih dari itu. Cinta juga yang akan mewarnai, memperindah dan memperkaya makana akan hidup kita ini. Bukan hanya milik kita pribadi, tapi juga apa yang ada di sekitar kita, termasuk anak cucu kita nantinya.”
“Aku jadi tak mengerti.”
“Begitulah cinta, tidak perlu harus dipahami, apalagi dimengerti. Cinta adalah pangkal dan muara segala hal. Karena cinta, ada rasa suka, bahagia meletup-letup, cemburu, marah benci, posesive, minder, malu, takut, muak, jijik, rindu, rasa menggangngu, menyakitkan, bodoh, cerdik, licik, pandai, jujur, bohong, khianat, amanah, sombong, dan semua hal yang lain. Semuanya ada di cinta.”
“Aku jadi bingung.”
“Bingung juga pangkal dari cinta. Kamu memikirkan cinta, kamu jadi bingung, muser-muser kepala, tujuh keliling muternya.”
“Ternyata sudah sore ya, tak terasa. Kira-kira masih ada tentang cinta yang dapat kamu sampaikan padaku.”
“Masih! Tapi aku tak tahu darimana aku akan mengawalinya dan kapan aku mengakhirinya. Lebih baik dicukupkan.”
Si kelinci langsung melompat-lompat menuju sarangnya. Si elang mengepakkan sayapnya. Terbang menuju hutan, tempat ia tinggal.
*******
Elang jadi menikah dengan saudaranya. Pesta kecil diadakan. Cukup meriah. Keduanya langsung membuat sarang, bulan madu, kawin. Bertelor dan mengeram. Pada saatnya telor-telornya menetas dan bayi elang yang merah keluar dari cangkang telornya. Si elang menjadi bapak. Perasaannya bahagia penuh suka cita. Ia pergi ke pohon di tengah padang untuk memberitahukannya kepada sahabatnya, si kelinci. Tapi si kelinci tak ada. Elang menunggu lama, tetap tak nampak si kelinci.Esoknya elang datang lagi dan tak jumpa dengan kelinci. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Tetap tidak berjumpa dengan kelinci. Sampai anaknya sudah cukup besar.
Terhadap anaknya, elang mulai dibuat kerepotan. Anaknya makannya mulai bertambah banyak. Sementara ular yang sebagai makanan pokoknya sudah mulai langka didapat. Elang bertambah bingung ketika pulang tidak membawa makanan hasil buruan. Anaknya merengek-rengek, menangis dengan suara melengking sangat kerasnya. Elang hanya bisa melepas sedikit bingungnya dengan mlangkring di pohon di tengah padang. Tapi, kawannya tetap tidak dijumpainya. Padahal ia ingin mencurahkan segala gundah isi perasaannya, kebingungannya.
Sore selepas hujan mengguyur padang rumput ini, kelinci nampak bercengkerama dengan air yang membasahi tubuhnya, di bawah pohon. Ia mengibas-ibaskan tubuhnya. Beberapa saat kemudian elang datang langsung mlangkring di salah satu cabang yang sudah biasa biasa digunakan untuk menunggu kelinci sehari-harinya.
“Apa kabar elang?” tanya kelinci, “sudah lama kita tak bertemu.”
“Sayang, kabar baik tidak ada menyertai diriku.”
“Ada apa?” tanya kelinci lagi dengan kaget.
“Banyak hal terjadi padaku. Tapi, aku ingin meminta sesuatu padamu.”
“Apa?”
“Aku butuh cinta darimu.”
“Apa kamu gila? Aku kelinci, kamu elang.”
“Tidak! Aku waras. Aku butuh cinta darimu untuk kelangsungan hidup anak-anakku, istriku dan aku sendiri yang sedari kemarin belum makan. Ular sudah tidak dapat aku temui. Aku mau cinta darimu.”
“Maksudmu?,” kelinci terbata-bata dan ketakutan. Ia memutuskan untuk berlari meninggalkan elang secepatnya. Ya, secepatnya.
Mata elang menjadi merah. Tajam. Naluri memburu kian memuncak dengan sasaran si kelinci. Sayapnya ia kepakkan dengan kuatnya. Segera iapun meluncur terbang mengejar kelinci. Yang dikejar berkelit dengan berbelok kesana kemari. Kelinci ingin menuju sarangnya. Kiranya disana akan aman. Menyadari akan apa yang akan dialakukan kelinci, elang semakin beringas. Ia mempercepat dan mempertegas laju terbangnya. Cakar-cakarnya sudah disiapkan dalam posisi mencengkeram. Tajam. Dan, “Creppp.” Cakar itu menghujam ke dalam tubuh kelinci. Kelinci itu mengerang kesakitan. Sakit oleh luka dari cakar elang, lebih sakit lagi perasaan yang dirasakan atas perbuatan sahabatnya sendiri.
“Kenapa kamu tega berbuat seperti ini padaku, sahabatmu sendiri?”
“Semua berpangkal dan bermuara dari cinta, seperti apa yang kamu jelaskan padaku dulu.”
“Kamu salah.”
“Salah juga pangkal dari cinta.”
Luka di tubuh kelinci mengeluarkan darah merah segar begitu banyaknya. Kelincipun mulai megap-megap. Nafasnya tak beraturan. Matanya membuyar tatapannya. Hampir gelap sekelilingnya. Tapi, ia masih tetap dengan jelas mengamati roman muka elang yang penuh dengan suka cita dan gembira.
“Elang,” kelinci berujar, “kamu terlalu egois menyoal cinta.” Kemudian dirasakannya semua menjadi gelap pekat. Si kelinci telah mati. Kelinci telah menjadi bangkai.
Maka segera bangkai itu dibawa terbang menuju sarang elang. Dipotong kecil-kecil dengan paruh elang yang sangat tajam. Potongan itu kemudian disuapkan kepada anak-anaknya. Sangat lahap. Istrinyapun ikut makan dengan lahap. Bangkai itu beberapa saat hampir habis dimakan dengan penuh lahap. Si elang yang juga sudah sangat lapar berkeinginan untuk memakan bangkai itu, biarpun itu kawannya sendiri. Malah elang juga lahap. Semuanya lahap. Hingga akhirnya tinggal kulit tempat melekat bulu kelinci dan tulang belulangnya saja yang tersisa. Sejak saat itu, kelinci menjadi makanan favorit elang. Elang selalu terngiang setiap memakan daging kelinci akan ungkapan dari kelinci sahabatnya, “Semua berpangkal dan bermuara dari cinta.”
Padang Syarifah, 17 Oktober 2006.
“Pernahkah kamu keliru dalam mengartikan mengenai sesuatu?” tanya seekor burung elang kepada teman akrabnya, kelinci.
“Misalnya?”
“Soal cinta, aku tak paham apa sejatinya itu cinta.”
“Akupun sama. Ibuku tak pernah memberitahuku apa itu cinta. Kemudian guruku di sekolah dulu juga tak pernah menerangkan apa pengertian dari cinta.”
“Memangnya kamu pernah sekolah?”
“Kayaknya pernah. Pernah nggak ya? Kamu pernah lihat aku sekolah?”
Keduanya tertawa terbahak-bahak. Burung elang dan kelinci sedari dulu sudah berteman akrab. Tempat favorit mereka untuk bertemu adalah di pohon ini. Pohon yang hanya satu-satunya di tengah padang rumput yang terhampar hijau warnanya. Sebenarnya masih banyak pohon lain tumbuh di areal savana ini. Namun, pohon-pohon itu tumbuh di pinggiran padang, di lereng bukit yang tidak jauh di sisi padang luas ini, dimana sang surya kembali ke peraduannya.
Padang ini nampak asri. Di sebelah bukit adalah air mengalir dari sumber mata air yang mancur dari celah-celah bebatuan dari dalam lorong goa yang menyeruak ke dalam bukit itu. Airnya jernih, mengalir. Bukit kecil membawa air itu ke tempat yang lebih jauh dan lebih rendah posisinya.
Biasa, kedua sahabat antara elang dan kelinci melepas penat di pohon ini. Pohon yang tidak cukup rindang, karena memang kecil untuk ukuran pohon-pohon lain di hutan sana. Pohon ini hanya cukup menopang tubuh elang yang mlangkring di salah satu cabangnya. Sedangkan si kelinci—karena tidak bisa manjat pohon—duduk asyik di bawahnya. Di tanah yang sekelilingnya penuh rumput hijau sambil mengunyah-ngunyah beberapa untuk mengemil.
Oh ya, elang berjenis kelamin jantan dan kelinci berjenis kelamin betina. Untuk ukuran manusia, usianya baru menginjak usia remaja. Baru puber. Sejak kecil, keduanya sudah bersahabat. Mereka masih bertetangga. Si kelinci tinggal di balik semak di pinggir padang, dekat parit yang mengalirkan air. Sedangkan si elang tinggal di hutan. Awalnya, keduanya sering kali bertemu. Saat elang diajari induknya untuk terbang dan si kelinci diajari induknya berlari dengan lompatan-lompatan.
“Elang, kamu sedang jatuh cinta?” teriak kelinci setelah beberapa saat keduannya terdiam, membuncahkan suasana.
“Jatuh cinta? Aku tak tahu.”
“Kamu naksir siapa?”
“Aku tak tahu, aku bingung, aku tidak bisa mengungkapkan apa-apa. Perasaanku saja yang selalu memikirkan tentang seekor betina yang nantinya akan menelorkan dan menetaskan darah keturunanku. Tapi dia kan saudaraku.”
“Sudah memang seperti itu kan. Kita harus kawin dengan sejenisnya.”
“Tapi itu apakah ada unsur cinta? Aku mengartikan cinta adalah pangkal dari kebahagiaan. Tanpa cinta, apakah akan diperoleh bahagia?”
Si kelinci menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil seperti mendelik matanya, menelan rumput yang telah dikunyahnya. Kelinci terkenal dengan kecerdasan dan kelincahannya. Tak heran, si elang selalu minta arahan tentang berbagai hal. Seperti kali ini. Si elang setelah diberitahu oleh ibunya akan dikawinkan dengan saudaranya oleh bapaknya. Sebelum dipaksa bapaknya, elang diminta dengan baik-baik oleh ibunya.
Semalam si elang baru diberi tahu. Elang kaget harus berbuat apa. Menolak dengan melawan atau menerima dengan tulus ikhlas sebagai tanda balas budi terhadap apa yang selama ini diberikan oleh kedua orang tuanya kepadanya.
“Hmm…, aku tak bisa berpikir soal itu,” jawab kelinci dengan menunduk. “Mungkin aku akan mengalami hal yang sama seperti kamu nanti.”
“Kamu tahu kan saudaraku, sudah ingusan, tak pernah dandan, bulunya acak-acakan. Pokoknya mirip gelandangan deh.”
“Ya, aku tahu. Malah dia suka berak dan kencing sembarangan.”
“Terus, apa sejatinya arti cinta?”
“Entahlah,” si kelinci menghela, “aku juga sedang mencari pengetahuan tentangnya. Yang pasti, menurutku cinta bukan hanya sebuah kata, apalagi ungkapan. Cinta bukan hanya perasaan, pertautan rasa. Cinta adalah universal, universal cinta, cinta universal.”
“Maksudnya?”
“Kamu pikir, jangan hanya nanya doang. Aku juga mikir.”
Si kelinci menggaruk-garuk kepalanya. Si elang juga nampak berpikir. Angin padang rumput ingi juga berpikir. Angin berlalu-lalang dengan santainya. Sepoi yang terasa. Sengat mentari disapu oleh angin. Suara alam memaki sang terik lewat ceceruit binatang yang bersautan. Elang dan kelinci masih berpikir. Matanya kian belok ke kanan-kiri, ke ats-bawah, ke depan-belakang, ke semua penjuru mata angin. Hela nafaspun kian banyak terdengar. Mentari pun enggan menyaksikan pemandangan ini, apalagi dia dimaki-maki penghuni bumi, maka ia berangsur menggelincir ke ufuk barat. Keringatnya bercucuran. Tapi sayang tidak dijatuhkan lewat hujan yang sudah dinanti-nanti penghuni padang ini.
“Begini,” kelinci mencoba menjelaskan, ”cinta universal-universal cinta artinya setiap makhluk memiliki cinta dan merasakan cinta. Setiap waktu, setiap saat, di manapun tempatnya berada.”
“Terus?”
“Pernahkah kamu berpikir bahwa apa yang diberikan dan dilakukan oleh orang tua kita, dari kita bayi sampai seperti ini adalah perwujudan dari cinta. Mereka, orang tua kita, merawat, memberi makan, menyediakan tempat tinggal, membekali kita dengan ilmu, melatih untuk tetap hidup, mempertahankan hidup, mendidik, dan sebagainya. Tanpa memiliki cinta, apakah dengan ikhlas, rela melakukan itu semua kepada kita.”
“Apakah cinta hanya seperti itu? Hanya dari orang tua kepada anaknya.”
“Tidak! Sudah kubilang cinta itu universal. Menurutku cinta adalah pangkal dan muara dari semua hal. Dari yang kita pikirkan, yang kita rasakan, yang kita perbuat. Pokoknya semua yang menyangkut kita sebagai makhluk. Misalnya, ada perasaan benci, marah terhadap manusia yang suka menebang pohon secara membabi buta, memburu dan memangsa kita. Itu karena perasaan cinta kita terhadap kelangsungan kehidupan kita dan masa depan anak cucu kita.”
“Jadi cinta dapat juga diartikan hidup. Tanpa cinta berarti tidak hidup. Mempertahankan cinta berarti mempertahankan kelangsungan hidup kita. Bukankah begitu?”
“Lebih dari itu. Cinta juga yang akan mewarnai, memperindah dan memperkaya makana akan hidup kita ini. Bukan hanya milik kita pribadi, tapi juga apa yang ada di sekitar kita, termasuk anak cucu kita nantinya.”
“Aku jadi tak mengerti.”
“Begitulah cinta, tidak perlu harus dipahami, apalagi dimengerti. Cinta adalah pangkal dan muara segala hal. Karena cinta, ada rasa suka, bahagia meletup-letup, cemburu, marah benci, posesive, minder, malu, takut, muak, jijik, rindu, rasa menggangngu, menyakitkan, bodoh, cerdik, licik, pandai, jujur, bohong, khianat, amanah, sombong, dan semua hal yang lain. Semuanya ada di cinta.”
“Aku jadi bingung.”
“Bingung juga pangkal dari cinta. Kamu memikirkan cinta, kamu jadi bingung, muser-muser kepala, tujuh keliling muternya.”
“Ternyata sudah sore ya, tak terasa. Kira-kira masih ada tentang cinta yang dapat kamu sampaikan padaku.”
“Masih! Tapi aku tak tahu darimana aku akan mengawalinya dan kapan aku mengakhirinya. Lebih baik dicukupkan.”
Si kelinci langsung melompat-lompat menuju sarangnya. Si elang mengepakkan sayapnya. Terbang menuju hutan, tempat ia tinggal.
*******
Elang jadi menikah dengan saudaranya. Pesta kecil diadakan. Cukup meriah. Keduanya langsung membuat sarang, bulan madu, kawin. Bertelor dan mengeram. Pada saatnya telor-telornya menetas dan bayi elang yang merah keluar dari cangkang telornya. Si elang menjadi bapak. Perasaannya bahagia penuh suka cita. Ia pergi ke pohon di tengah padang untuk memberitahukannya kepada sahabatnya, si kelinci. Tapi si kelinci tak ada. Elang menunggu lama, tetap tak nampak si kelinci.Esoknya elang datang lagi dan tak jumpa dengan kelinci. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Tetap tidak berjumpa dengan kelinci. Sampai anaknya sudah cukup besar.
Terhadap anaknya, elang mulai dibuat kerepotan. Anaknya makannya mulai bertambah banyak. Sementara ular yang sebagai makanan pokoknya sudah mulai langka didapat. Elang bertambah bingung ketika pulang tidak membawa makanan hasil buruan. Anaknya merengek-rengek, menangis dengan suara melengking sangat kerasnya. Elang hanya bisa melepas sedikit bingungnya dengan mlangkring di pohon di tengah padang. Tapi, kawannya tetap tidak dijumpainya. Padahal ia ingin mencurahkan segala gundah isi perasaannya, kebingungannya.
Sore selepas hujan mengguyur padang rumput ini, kelinci nampak bercengkerama dengan air yang membasahi tubuhnya, di bawah pohon. Ia mengibas-ibaskan tubuhnya. Beberapa saat kemudian elang datang langsung mlangkring di salah satu cabang yang sudah biasa biasa digunakan untuk menunggu kelinci sehari-harinya.
“Apa kabar elang?” tanya kelinci, “sudah lama kita tak bertemu.”
“Sayang, kabar baik tidak ada menyertai diriku.”
“Ada apa?” tanya kelinci lagi dengan kaget.
“Banyak hal terjadi padaku. Tapi, aku ingin meminta sesuatu padamu.”
“Apa?”
“Aku butuh cinta darimu.”
“Apa kamu gila? Aku kelinci, kamu elang.”
“Tidak! Aku waras. Aku butuh cinta darimu untuk kelangsungan hidup anak-anakku, istriku dan aku sendiri yang sedari kemarin belum makan. Ular sudah tidak dapat aku temui. Aku mau cinta darimu.”
“Maksudmu?,” kelinci terbata-bata dan ketakutan. Ia memutuskan untuk berlari meninggalkan elang secepatnya. Ya, secepatnya.
Mata elang menjadi merah. Tajam. Naluri memburu kian memuncak dengan sasaran si kelinci. Sayapnya ia kepakkan dengan kuatnya. Segera iapun meluncur terbang mengejar kelinci. Yang dikejar berkelit dengan berbelok kesana kemari. Kelinci ingin menuju sarangnya. Kiranya disana akan aman. Menyadari akan apa yang akan dialakukan kelinci, elang semakin beringas. Ia mempercepat dan mempertegas laju terbangnya. Cakar-cakarnya sudah disiapkan dalam posisi mencengkeram. Tajam. Dan, “Creppp.” Cakar itu menghujam ke dalam tubuh kelinci. Kelinci itu mengerang kesakitan. Sakit oleh luka dari cakar elang, lebih sakit lagi perasaan yang dirasakan atas perbuatan sahabatnya sendiri.
“Kenapa kamu tega berbuat seperti ini padaku, sahabatmu sendiri?”
“Semua berpangkal dan bermuara dari cinta, seperti apa yang kamu jelaskan padaku dulu.”
“Kamu salah.”
“Salah juga pangkal dari cinta.”
Luka di tubuh kelinci mengeluarkan darah merah segar begitu banyaknya. Kelincipun mulai megap-megap. Nafasnya tak beraturan. Matanya membuyar tatapannya. Hampir gelap sekelilingnya. Tapi, ia masih tetap dengan jelas mengamati roman muka elang yang penuh dengan suka cita dan gembira.
“Elang,” kelinci berujar, “kamu terlalu egois menyoal cinta.” Kemudian dirasakannya semua menjadi gelap pekat. Si kelinci telah mati. Kelinci telah menjadi bangkai.
Maka segera bangkai itu dibawa terbang menuju sarang elang. Dipotong kecil-kecil dengan paruh elang yang sangat tajam. Potongan itu kemudian disuapkan kepada anak-anaknya. Sangat lahap. Istrinyapun ikut makan dengan lahap. Bangkai itu beberapa saat hampir habis dimakan dengan penuh lahap. Si elang yang juga sudah sangat lapar berkeinginan untuk memakan bangkai itu, biarpun itu kawannya sendiri. Malah elang juga lahap. Semuanya lahap. Hingga akhirnya tinggal kulit tempat melekat bulu kelinci dan tulang belulangnya saja yang tersisa. Sejak saat itu, kelinci menjadi makanan favorit elang. Elang selalu terngiang setiap memakan daging kelinci akan ungkapan dari kelinci sahabatnya, “Semua berpangkal dan bermuara dari cinta.”
Padang Syarifah, 17 Oktober 2006.
Dia Anak Siapa?
Cerpen Eko Pujiono
“DIA ANAK SIAPA?” tanyaku, sepenuh pertanyaan. Mencari jawaban darimu, hai, kekasihku. Aku duduk di sampingmu, di samping dia.
Tiada kau jawab. Jawabanmu hanyalah bisu. Kelu. Kau hanya terbaring saja. Di salah satu ranjang sebuah rumah sakit yang khusus menangani persalinan. Kau terbaring. Tiada kau jawab pertanyaanku. Aku sudah menunggu. Tidak kau ucap sepatah katapun. Tanganmu hanya sibuk mengelus pipi bayi merah itu. Dia, terbaring di sampingmu. Di kanan-kirinya, guling kecil sebagai pembatas. Pipinya halus seperti pipimu.
Kutunggu jawaban. Masih tidak ada. Kini kusaksikan kau memainkan bibir kecil itu. Milik dia. Mirip punyamu. Dia, manusia kecil yang berselimutkan kain putih. Dia terpejam. Kulihat dia menggerakkan kepalanya. Terlihat seperti menggeleng. Masih kamu mainkan bibir kecil itu dengan jarimu. Bibir kecil milik dia, kau mainkan. Sama seperti kau bermain-main dengan pertanyaanku.
“Anak siapa dia?” kuulangi pertanyaan itu.
Pertanyaan yang sama, namun berbeda struktur kalimat. Perlakukan sama aku terima. Kau tidak menjawab. Menggerakkan bibir pun tidak. Tatapan matamu hanya ke langit-langit ruangan. Warnanya putih. Lalu, ke tubuh kecil yang terbungkus kain itu. Warnanya juga putih. Hanya beberapa kali kau arahkan pandangamu kepada diriku. Laki-laki yang sudah memacari kamu selama tiga tahun. Tidak kurang.
Aku masih menunggu jawaban. Beberapa patah kata kunantikan keluar dari mulutmu. Mulut yang memiliki bibir sama seperti milik dia. Aku mohon, satu kata saja. Biar aku puas. Biar aku bisa bertanya menggunakan pertanyaan lain. Pertanyaan yang berbeda. Supaya dapat kukuak siapa sejatinya dia. Bayi merah itu.
Kutaksir-taksir, tinggi dia hanya tiga puluh centimeter. Beratnya pun tak lebih dari dua setengah kilogram. Dia itu kecil. Pendek. Kira-kira sama sepertimu kalau sudah besar. Kulitnya putih. Sama seperti kulitmu.
Setelah puas kau mainkan bibir kecil itu, lalu berpindah ke hidung. Hidung yang mungil. Tidak mancung. Tidak pula pesek. Bisa dibilang proporsional. Persis sama seperti hidungmu. Eksotis. Memesona. Hidungmu adalah bagian dirimu yang membuat aku jatuh cinta. Hidungmu sama seperti hidung dia. Bayi kecil itu. Dia yang sedang tertidur di sampingmu. Dalam jangkauanmu. Dia yang dalam lindunganmu.
“Siapa dia?” tanyaku lagi.
Ayo jawab. Jangan hanya diam. Jawab, dia itu anakmu. Dari siapa? Laki-laki mana yang menidurimu? Siapa orang yang menelanjangimu? Membuka pakaianmu satu per satu. Membuka kancing bajumu. Melepasnya kemudian membuang ke lantai. Membuka rok panjangmu. Terlebih dahulu melepas kait rok dan menurunkan resliting itu.
Kemudian, laki-laki itu menikmati tubuhmu yang hanya berbalut BH dan cawat. Memelototi tubuh indahmu. Lalu, melepas BH dan cawat itu. Membuangnya ke lantai. Laki-laki itu juga telanjang. Melepaskan pakaiannya sendiri. Membuang ke lantai. Pakaian kalian berserakan.
Laki-laki itu menciumimu penuh nafsu. Di pipi, di dahi, di hidung, di bibir, di leher, di ... Di seluruh tubuh. Tidak terkecuali. Dan, tubuh yang putih itu, yang mulus itu, direngkuh. Penuh nafsu. Hanya nafsu!
Dimana kalian melakukan itu? Pastinya, di sebuah ruang tertutup. Tersembunyi dari norma-norma. Yang kedap suara sehingga tidak terdengar teriakan moralitas. Yang terdengar hanya lenguhanmu dan laki-laki itu. Bernafsu!
“Dia siapa?” tanyaku dengan pikiran yang mulai kacau.
Bagai bensin disulut api. Meledak. Namun, tidak seperti bom 11 September. Hanya letupan kecil. Hampir mirip mercon. Hanya letupan pikiran yang mulai kacau.
Lagi-lagi tidak kau jawab. Malah seolah tidak kau hiraukan. Aku hanya ingin tahu siapa bapak dia. Siapa yang telah menghamilimu?
Dari tadi kau hanya sibuk mengelus dia. Tanpa menghiraukanku. Pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban darimu. Kini, kau mengelus alisnya dengan jari tengah tangan kananmu. Kau memiringkan badan. Menghadap bayi kecil itu yang berada di sebelah kirimu. Berbatasan dengan guling kecil. Kau elus alis bayi ituyang berwarna hitam, tebal, dan halus. Sama seperti alismu. Keduanya, alis punyamu dan alis punya dia, bak rembulan sabit tanggal muda.
Elusanmu turun ke kelopak mata dia yang sedang tertutup. Elusan dengan sangat lembut. Dari yang kiri, pindah ke yang kanan. Begitu terus. Hingga tanpa sengaja, elusan jari tengah tangan kananmu membangunkan bayi itu.
Kelompak matanya terbuka. Didahului tangisan khas bayi, namun hanya sebentar. Hanya dua sampai tiga detik.
”Cup... cup... cup... cup...” begitu ujarmu menghentikan tangisan anak kecil itu.
Itu ujaranmu yang aku dengar setelah lama kau membisu. Itu jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Apakah itu sebuah jawaban? Ahh, setidaknya kamu sudah mulai mau berujar. Mau mengeluarkan suara. Pasti sudah kelu tenggorokkanmu menahan diam.
Astaga! Mata anak kecil itu persis seperti matamu. Sorot matanya jernih, sejernih sorot matamu. Matanya bening, sebening matamu. Lensa matanya hitam, sehitam lensa matamu. Bulat. Sama seperti matamu. Pokoknya sama persis.
“Anak siapa?” tanyaku lagi dengan penuh harapan kamu mau menjawab.
Beritahu aku siapa nama laki-laki itu? Satu orangkah? Dua orang? Atau berapa? Kau sudah berhubungan badan dengan siapa saja. Jika kamu takut aku bakal menghajar laki-laki bejat itu, beritahu inisialnya saja. Dimana alamat rumahnya.
“Siapa?” tanyaku lagi dengan memohon kamu mau menjawab.
Aku ini kekasihmu. Tidakkah kau percaya akan cintaku. Akan kasih sayangku. Aku benar-benar cinta dan sayang kepadamu. Beritahu aku. Kamu melakukan itu atas dasar suka sama suka atau kamu dipaksa. Diperkosa. Oleh satu orang laki-laki atau beramai-ramai.
“Anak...?” tanyaku lagi, tapi aku sangsi akan kau jawab.
Oleh sebab itu, tidak aku tuntaskan kalimat tanya itu. Toh, lagi-lagi kamu tak akan jawab. Namun, arah pandangan matamu, pandangan mata yang sama seperti bayi kecil itu, kamu arahkan ke mataku. Sejurus, arah pandangan mata kita sebidang. Kita saling tatap. Tanpa bicara. Hening. Hanya terdengar tarikan dan helaan nafasku, nafasmu, dan nafas dia. Udara berebut menyesaki paru-paruku, paru-parumu, dan paru-paru dia.
“Dia...?” sambil kutunjuk bayi kecil itu. Tetap pandangan mataku dan matamu sebidang. Kau mulai sedikit demi sedikit buka mulut. Agak bergetar bibirmu. Bibir yang sama persis seperti bibir bayi kecil itu. Tiba-tiba matamu berkaca. Selang beberapa menit kemudian, tetesan mata yang putih itu tumpah dari matamu yang mirip dengan mata bayi kecil itu. Kau masih tetap tak memberikan jawaban. Bibirmu saja yang semakin hebat bergetar.
“Dia anak siapa?” kuulangi pertanyaanku. Tentunya aku tuntaskan kalimat tanyaku. Dengan kalimat yang memiliki struktur kalimat tanya yang lengkap.
Harapanku mendapatkan jawaban darimu kian terbuka. Mulutmu semakin membuka. Semakin bergetar. Masih tanpa suara. Berangsur-angsur kupandangi matamu yang sama dengan mata bayi kecil itu. Bibir, hidung, alis... Kupandangi wajahmu sama saja kupandangi wajah bayi kecil itu.
”Dia anakmu...,” jawabmu terbata, kemudian kamu balik bertanya, ”masih ingatkah kau waktu itu, di tempat itu?”
Kakiku bergetar. Semakin berat kaki ini menopang tubuhku. Di kepalaku berkelebat bayang-bayang itu. Waktu itu di tempat itu... Sembilan bulan lalu sebelum aku pergi jauh, di ... Di ruang rumah sakit ini aku dan kamu baru bertemu kembali. Ada dia...
Tidak usah kau jawab, ”Dia anak siapa?”
Semarang, 31 Desember 2008 (Untuk Hana dari mimpi 281208)
“DIA ANAK SIAPA?” tanyaku, sepenuh pertanyaan. Mencari jawaban darimu, hai, kekasihku. Aku duduk di sampingmu, di samping dia.
Tiada kau jawab. Jawabanmu hanyalah bisu. Kelu. Kau hanya terbaring saja. Di salah satu ranjang sebuah rumah sakit yang khusus menangani persalinan. Kau terbaring. Tiada kau jawab pertanyaanku. Aku sudah menunggu. Tidak kau ucap sepatah katapun. Tanganmu hanya sibuk mengelus pipi bayi merah itu. Dia, terbaring di sampingmu. Di kanan-kirinya, guling kecil sebagai pembatas. Pipinya halus seperti pipimu.
Kutunggu jawaban. Masih tidak ada. Kini kusaksikan kau memainkan bibir kecil itu. Milik dia. Mirip punyamu. Dia, manusia kecil yang berselimutkan kain putih. Dia terpejam. Kulihat dia menggerakkan kepalanya. Terlihat seperti menggeleng. Masih kamu mainkan bibir kecil itu dengan jarimu. Bibir kecil milik dia, kau mainkan. Sama seperti kau bermain-main dengan pertanyaanku.
“Anak siapa dia?” kuulangi pertanyaan itu.
Pertanyaan yang sama, namun berbeda struktur kalimat. Perlakukan sama aku terima. Kau tidak menjawab. Menggerakkan bibir pun tidak. Tatapan matamu hanya ke langit-langit ruangan. Warnanya putih. Lalu, ke tubuh kecil yang terbungkus kain itu. Warnanya juga putih. Hanya beberapa kali kau arahkan pandangamu kepada diriku. Laki-laki yang sudah memacari kamu selama tiga tahun. Tidak kurang.
Aku masih menunggu jawaban. Beberapa patah kata kunantikan keluar dari mulutmu. Mulut yang memiliki bibir sama seperti milik dia. Aku mohon, satu kata saja. Biar aku puas. Biar aku bisa bertanya menggunakan pertanyaan lain. Pertanyaan yang berbeda. Supaya dapat kukuak siapa sejatinya dia. Bayi merah itu.
Kutaksir-taksir, tinggi dia hanya tiga puluh centimeter. Beratnya pun tak lebih dari dua setengah kilogram. Dia itu kecil. Pendek. Kira-kira sama sepertimu kalau sudah besar. Kulitnya putih. Sama seperti kulitmu.
Setelah puas kau mainkan bibir kecil itu, lalu berpindah ke hidung. Hidung yang mungil. Tidak mancung. Tidak pula pesek. Bisa dibilang proporsional. Persis sama seperti hidungmu. Eksotis. Memesona. Hidungmu adalah bagian dirimu yang membuat aku jatuh cinta. Hidungmu sama seperti hidung dia. Bayi kecil itu. Dia yang sedang tertidur di sampingmu. Dalam jangkauanmu. Dia yang dalam lindunganmu.
“Siapa dia?” tanyaku lagi.
Ayo jawab. Jangan hanya diam. Jawab, dia itu anakmu. Dari siapa? Laki-laki mana yang menidurimu? Siapa orang yang menelanjangimu? Membuka pakaianmu satu per satu. Membuka kancing bajumu. Melepasnya kemudian membuang ke lantai. Membuka rok panjangmu. Terlebih dahulu melepas kait rok dan menurunkan resliting itu.
Kemudian, laki-laki itu menikmati tubuhmu yang hanya berbalut BH dan cawat. Memelototi tubuh indahmu. Lalu, melepas BH dan cawat itu. Membuangnya ke lantai. Laki-laki itu juga telanjang. Melepaskan pakaiannya sendiri. Membuang ke lantai. Pakaian kalian berserakan.
Laki-laki itu menciumimu penuh nafsu. Di pipi, di dahi, di hidung, di bibir, di leher, di ... Di seluruh tubuh. Tidak terkecuali. Dan, tubuh yang putih itu, yang mulus itu, direngkuh. Penuh nafsu. Hanya nafsu!
Dimana kalian melakukan itu? Pastinya, di sebuah ruang tertutup. Tersembunyi dari norma-norma. Yang kedap suara sehingga tidak terdengar teriakan moralitas. Yang terdengar hanya lenguhanmu dan laki-laki itu. Bernafsu!
“Dia siapa?” tanyaku dengan pikiran yang mulai kacau.
Bagai bensin disulut api. Meledak. Namun, tidak seperti bom 11 September. Hanya letupan kecil. Hampir mirip mercon. Hanya letupan pikiran yang mulai kacau.
Lagi-lagi tidak kau jawab. Malah seolah tidak kau hiraukan. Aku hanya ingin tahu siapa bapak dia. Siapa yang telah menghamilimu?
Dari tadi kau hanya sibuk mengelus dia. Tanpa menghiraukanku. Pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban darimu. Kini, kau mengelus alisnya dengan jari tengah tangan kananmu. Kau memiringkan badan. Menghadap bayi kecil itu yang berada di sebelah kirimu. Berbatasan dengan guling kecil. Kau elus alis bayi ituyang berwarna hitam, tebal, dan halus. Sama seperti alismu. Keduanya, alis punyamu dan alis punya dia, bak rembulan sabit tanggal muda.
Elusanmu turun ke kelopak mata dia yang sedang tertutup. Elusan dengan sangat lembut. Dari yang kiri, pindah ke yang kanan. Begitu terus. Hingga tanpa sengaja, elusan jari tengah tangan kananmu membangunkan bayi itu.
Kelompak matanya terbuka. Didahului tangisan khas bayi, namun hanya sebentar. Hanya dua sampai tiga detik.
”Cup... cup... cup... cup...” begitu ujarmu menghentikan tangisan anak kecil itu.
Itu ujaranmu yang aku dengar setelah lama kau membisu. Itu jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Apakah itu sebuah jawaban? Ahh, setidaknya kamu sudah mulai mau berujar. Mau mengeluarkan suara. Pasti sudah kelu tenggorokkanmu menahan diam.
Astaga! Mata anak kecil itu persis seperti matamu. Sorot matanya jernih, sejernih sorot matamu. Matanya bening, sebening matamu. Lensa matanya hitam, sehitam lensa matamu. Bulat. Sama seperti matamu. Pokoknya sama persis.
“Anak siapa?” tanyaku lagi dengan penuh harapan kamu mau menjawab.
Beritahu aku siapa nama laki-laki itu? Satu orangkah? Dua orang? Atau berapa? Kau sudah berhubungan badan dengan siapa saja. Jika kamu takut aku bakal menghajar laki-laki bejat itu, beritahu inisialnya saja. Dimana alamat rumahnya.
“Siapa?” tanyaku lagi dengan memohon kamu mau menjawab.
Aku ini kekasihmu. Tidakkah kau percaya akan cintaku. Akan kasih sayangku. Aku benar-benar cinta dan sayang kepadamu. Beritahu aku. Kamu melakukan itu atas dasar suka sama suka atau kamu dipaksa. Diperkosa. Oleh satu orang laki-laki atau beramai-ramai.
“Anak...?” tanyaku lagi, tapi aku sangsi akan kau jawab.
Oleh sebab itu, tidak aku tuntaskan kalimat tanya itu. Toh, lagi-lagi kamu tak akan jawab. Namun, arah pandangan matamu, pandangan mata yang sama seperti bayi kecil itu, kamu arahkan ke mataku. Sejurus, arah pandangan mata kita sebidang. Kita saling tatap. Tanpa bicara. Hening. Hanya terdengar tarikan dan helaan nafasku, nafasmu, dan nafas dia. Udara berebut menyesaki paru-paruku, paru-parumu, dan paru-paru dia.
“Dia...?” sambil kutunjuk bayi kecil itu. Tetap pandangan mataku dan matamu sebidang. Kau mulai sedikit demi sedikit buka mulut. Agak bergetar bibirmu. Bibir yang sama persis seperti bibir bayi kecil itu. Tiba-tiba matamu berkaca. Selang beberapa menit kemudian, tetesan mata yang putih itu tumpah dari matamu yang mirip dengan mata bayi kecil itu. Kau masih tetap tak memberikan jawaban. Bibirmu saja yang semakin hebat bergetar.
“Dia anak siapa?” kuulangi pertanyaanku. Tentunya aku tuntaskan kalimat tanyaku. Dengan kalimat yang memiliki struktur kalimat tanya yang lengkap.
Harapanku mendapatkan jawaban darimu kian terbuka. Mulutmu semakin membuka. Semakin bergetar. Masih tanpa suara. Berangsur-angsur kupandangi matamu yang sama dengan mata bayi kecil itu. Bibir, hidung, alis... Kupandangi wajahmu sama saja kupandangi wajah bayi kecil itu.
”Dia anakmu...,” jawabmu terbata, kemudian kamu balik bertanya, ”masih ingatkah kau waktu itu, di tempat itu?”
Kakiku bergetar. Semakin berat kaki ini menopang tubuhku. Di kepalaku berkelebat bayang-bayang itu. Waktu itu di tempat itu... Sembilan bulan lalu sebelum aku pergi jauh, di ... Di ruang rumah sakit ini aku dan kamu baru bertemu kembali. Ada dia...
Tidak usah kau jawab, ”Dia anak siapa?”
Semarang, 31 Desember 2008 (Untuk Hana dari mimpi 281208)
DOMPET
Cerpen Eko Pujiono
HUJAN TIBA-TIBA mencurahi bumi. Usai adzan Subuh dari surau di ujung jalan itu, air mengguyur dengan derasnya. Tidak ada petir yang menyambar. Hanya kilat sesekali menerobos ke dalam kamar lewat lubang udara. Subadi sudah sedari tadi terjaga. Matanya memandangi langit-langit. Tajam. Rasanya dia ogah bangun. Apalagi dingin menyusup. Sayup-sayup suara iqomat terdengar, dia tidak memedulikannya.
Hati Subadi tidak tenang. Ada apa gerangan? Pertanyaan itu tidak bisa ia jawab. Kosong. Berpikir begini, ada hal begitu yang mengganjal. Berpikir begitu, ada begini. Ah, capek rasanya. Terdengar suara lenguhan dan tarikan nafas panjang Subadi.
Di kamar itu Subadi sendiri. Ia seorang bujang yang sudah tidak patut dikatakan bujang lagi. Umurnya sudah berkepala tiga. Ia hidup merantau di kota ini dan bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah lembaga pendidikan kenamaan. Ditanya soal gaji, bisa dibilang pas-pasan. Berkekurangan malah. Dia hanya bisa hidup di kamar kos yang sempit ini. Kunci motor kreditan selalu menemani segenap aktivitasnya. Soal makan, dia sering mampir di warteg, tempat makan murah meriah itu. Urusan pulsa tidak selalu lancar. Untuk menyambung hidup, sering kali dia ngutang. Sejak dulu, hidup Subadi tidak jauh berubah.
Seketika Subadi teringat kejadian seminggu lalu. Di tempat bekerja, sore itu, dia menemukan dompet. Dompet itu berwarna kecokelatan. Agak panjang. Dompet seorang perempuan, pikirnya. Punya siapa kiranya? Tanyanya dalam hati. Dia melihat sekelilingnya. Sepi. Petang sudah menyambut. Malam segera menyusul. Di tempat ini aktivitas berangsur hilang. Subadi sebenarnya sudah akan meninggalkan tempat ini. Di lorong, di antara ruang-ruang kuliah, Subadi terbengong sendiri. Dia merenungi dompet yang kini ada ditangannya itu. Dia duduk di atas bangku panjang tempat mahasiswa menanti waktu kuliah tiba. Dompet itu dia temukan di bawah bangku itu. Persis di bawah tempat dia duduk.
Hatinya bimbang. Subadi bingung. Dompet ini dia kembalikan kepada pemiliknya atau dia ambil isinya. Mungkin di dalamnya banyak uangnya. Dompet ini lumayan tebal. Apalagi saat ini sudah tanggal tua. Isi dompetnya menipis. Ah, kalau tidak dia kembalikan, pasti berdosa. Bukankah mengambil barang milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah sama saja dengan mencuri. Hukumnya haram. Bakal dapat dosa. Begitu Subadi teringat pesan guru ngajinya sewaktu ia masih kecil di kampung halamannya.
Dalam perjalanan pulang, Subadi memikirkan jalan terbaik mengatasi persoalan ini. Tak karuan. Perjalanan pulang yang biasanya menempuh waktu hanya lima belas menit, menjadi molor. Laju sepeda motor yang dikendarai Subadi pelan. Sangat pelan.
***
Di depan pintu gerbang sebuah rumah, Subadi terlihat celingukan. Dia melihat ke sana-ke mari. Bagai pencuri tingkah polahnya. Sesekali dia melihat secarik kartu di tangan kanannya. Kartu itu ia ambil dari dalam dompet yang kini berada dalam genggangan tangan kiri. Terlihat dia mencocokkan sesuatu. Benar, Jalan Kepompong nomor sembilan.
Setelah itu, Subadi memarkirkan kendaraannya seenaknya. Merasa yakin, Subadi menggedor gerbang yang tertutup rapat itu.
“Permisi! Permisi…! Selamat sore, Pak! Bu!” teriak Subadi memanggil si empunya rumah.
Rumah itu besar. Sangat besar. Mewah. Pilar-pilarnya tinggi besar. Rumah itu didominasi warna biru muda. Warna langit. Berbagai jenis tanaman menghias depan rumah. Ada yang tinggi berdaun lebar, ada pula yang seukuran pinggang orang dewasa. Deretan pot yang rapi itu juga berisi tanaman hias. Rumput tampak rapi.
Lama Subadi berteriak-teriak. Namun, tak ada satupun orang yang membukakan pintu. Keringatnya mulai bercucuran. Matahari mulai merangkak menuju ufuk. Dia mulai enggan. Bosan menyergap. Terbersit dalam benaknya untuk pulang saja.
Namun, tunggu dulu. Bagaimana dengan dompet itu? Dompet itu masih dibawa Subadi.
“Mmm.., apa yang harus aku lakukan dengan dompet ini? Dari awal aku sudah berniat mengembalikan dompet ini. Meski hasilnya nihil,” pikir Subadi sambil memandangi dompet itu.
Dengan sedikit gemetar, dompet itu dibuka Subadi. Subadi sudah pernah membuka dompet ini. Dia menemukan sebuah kartu nama dan beberapa uang seribuan lusuh. Berkat kartu nama itu, Subadi bisa berada di tempat ini.
Kali ini Subadi membuka ke celah-celah yang ada di dalam dompet. Selain kartu nama dan beberapa lembar uang seribu itu, dia menemukan STNK atas nama Hartanto tinggal di Jalan Udang 11 Semarang, KTP atas nama Nurul beralamat di Kendal, beberapa kertas kuitansi dan uang seratus ribu terselip di antara sebuah foto seorang laki-laki.
“Aku sudah capek berusaha mengembalikan dompet ini. Lelah. Panas. Kalau usaha ini tidak membuahkan hasil, bukan berarti aku mempunyai niat mengambil isi dompet ini. Jumlah uangnya tak seberapa. Hanya seratus ribu rupiah. Itung-itung sebagai uang lelah bagi aku. Pemilik rumah mewah itu tidak akan jatuh miskin kehilangan uang segitu,” pikir Subadi lagi.
Subadi mengambil uang itu. Lalu, dia meletakkan dompet itu lewat celah yang ada di bawah gerbang. Dia menyorongkannya ke dalam.
“Selain uang, aku tidak membutuhkan barang yang ada di dalam dompet. Mungkin barang-barang itu sangat berharga bagi pemiliknya. Uang ini anggap saja sebagai imbalan. Dompet ini sudah kukembalikan,” bisiknya lirih.
Subadi tidak yakin atas perbuatannya. Mungkin perbuatannya berdosa. Mungkin tidak apa-apa. Dalam hati yang gamang, segera motor itu Subadi arahkan menuju kosnya. Usai sudah urusannya dengan dompet itu.
***
Nurul tidak bisa tidur. Matanya enggan diajak kompromi. Sekarang sudah pukul empat pagi. Dia merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. Nurul belum makan sejak siang tadi. Uangnya habis. Jatah uang dari orangtua Nurul untuknya selama di kota ini telah habis. Dia baru bisa mengambil jatuh uang bulan depan, satu minggu lagi. Nurul kuliah di sebuah lembaga pendidikan kenamaan di kota ini. Sesekali dia mendapat penghasilan tambahan dengan memberi les privat.
Dompet Nurul hilang bersama isinya, tepat satu minggu yang lalu. Beberapa hari yang lalu Nurul mendapat bayaran les bulan ini dari keluarga yang tinggal di sebuah rumah mewah di Jalan Kepompong. Namun, uang itu tak seberapa. Uang itu juga sudah habis tepat pagi tadi untuk sarapan.
Adzan Subuh menggema. Tubuh yang ringkih itu bangkit dari tempat tidur. Terlihat Nurul mengambil mukena. Dia berjalan menuju sumber suara adzan itu. Ketika dia sampai di surau itu, hening menyambut. Setelah berwudhu, dia masuk ke dalam surau itu.
Tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya. Tak lama iqomat mengalun. Segera Nurul mendirikan sholat Subuh berjamaah.
Sambil menahan sakit, Nurul melakukan gerakan sholat sebisanya. Dalam benaknya terlintas pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Tuhan, serta nasib baik dan buruk. Dalam dekapan dingin dan curahan air dari langit, tiba-tiba tubuh Nurul menggigil. Dari bibir Nurul yang tipis itu, keluar suara yang sangat lirih: “Apakah Tuhan itu benar-benar adil?”
Mijen, 13 Juni 2009
HUJAN TIBA-TIBA mencurahi bumi. Usai adzan Subuh dari surau di ujung jalan itu, air mengguyur dengan derasnya. Tidak ada petir yang menyambar. Hanya kilat sesekali menerobos ke dalam kamar lewat lubang udara. Subadi sudah sedari tadi terjaga. Matanya memandangi langit-langit. Tajam. Rasanya dia ogah bangun. Apalagi dingin menyusup. Sayup-sayup suara iqomat terdengar, dia tidak memedulikannya.
Hati Subadi tidak tenang. Ada apa gerangan? Pertanyaan itu tidak bisa ia jawab. Kosong. Berpikir begini, ada hal begitu yang mengganjal. Berpikir begitu, ada begini. Ah, capek rasanya. Terdengar suara lenguhan dan tarikan nafas panjang Subadi.
Di kamar itu Subadi sendiri. Ia seorang bujang yang sudah tidak patut dikatakan bujang lagi. Umurnya sudah berkepala tiga. Ia hidup merantau di kota ini dan bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah lembaga pendidikan kenamaan. Ditanya soal gaji, bisa dibilang pas-pasan. Berkekurangan malah. Dia hanya bisa hidup di kamar kos yang sempit ini. Kunci motor kreditan selalu menemani segenap aktivitasnya. Soal makan, dia sering mampir di warteg, tempat makan murah meriah itu. Urusan pulsa tidak selalu lancar. Untuk menyambung hidup, sering kali dia ngutang. Sejak dulu, hidup Subadi tidak jauh berubah.
Seketika Subadi teringat kejadian seminggu lalu. Di tempat bekerja, sore itu, dia menemukan dompet. Dompet itu berwarna kecokelatan. Agak panjang. Dompet seorang perempuan, pikirnya. Punya siapa kiranya? Tanyanya dalam hati. Dia melihat sekelilingnya. Sepi. Petang sudah menyambut. Malam segera menyusul. Di tempat ini aktivitas berangsur hilang. Subadi sebenarnya sudah akan meninggalkan tempat ini. Di lorong, di antara ruang-ruang kuliah, Subadi terbengong sendiri. Dia merenungi dompet yang kini ada ditangannya itu. Dia duduk di atas bangku panjang tempat mahasiswa menanti waktu kuliah tiba. Dompet itu dia temukan di bawah bangku itu. Persis di bawah tempat dia duduk.
Hatinya bimbang. Subadi bingung. Dompet ini dia kembalikan kepada pemiliknya atau dia ambil isinya. Mungkin di dalamnya banyak uangnya. Dompet ini lumayan tebal. Apalagi saat ini sudah tanggal tua. Isi dompetnya menipis. Ah, kalau tidak dia kembalikan, pasti berdosa. Bukankah mengambil barang milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah sama saja dengan mencuri. Hukumnya haram. Bakal dapat dosa. Begitu Subadi teringat pesan guru ngajinya sewaktu ia masih kecil di kampung halamannya.
Dalam perjalanan pulang, Subadi memikirkan jalan terbaik mengatasi persoalan ini. Tak karuan. Perjalanan pulang yang biasanya menempuh waktu hanya lima belas menit, menjadi molor. Laju sepeda motor yang dikendarai Subadi pelan. Sangat pelan.
***
Di depan pintu gerbang sebuah rumah, Subadi terlihat celingukan. Dia melihat ke sana-ke mari. Bagai pencuri tingkah polahnya. Sesekali dia melihat secarik kartu di tangan kanannya. Kartu itu ia ambil dari dalam dompet yang kini berada dalam genggangan tangan kiri. Terlihat dia mencocokkan sesuatu. Benar, Jalan Kepompong nomor sembilan.
Setelah itu, Subadi memarkirkan kendaraannya seenaknya. Merasa yakin, Subadi menggedor gerbang yang tertutup rapat itu.
“Permisi! Permisi…! Selamat sore, Pak! Bu!” teriak Subadi memanggil si empunya rumah.
Rumah itu besar. Sangat besar. Mewah. Pilar-pilarnya tinggi besar. Rumah itu didominasi warna biru muda. Warna langit. Berbagai jenis tanaman menghias depan rumah. Ada yang tinggi berdaun lebar, ada pula yang seukuran pinggang orang dewasa. Deretan pot yang rapi itu juga berisi tanaman hias. Rumput tampak rapi.
Lama Subadi berteriak-teriak. Namun, tak ada satupun orang yang membukakan pintu. Keringatnya mulai bercucuran. Matahari mulai merangkak menuju ufuk. Dia mulai enggan. Bosan menyergap. Terbersit dalam benaknya untuk pulang saja.
Namun, tunggu dulu. Bagaimana dengan dompet itu? Dompet itu masih dibawa Subadi.
“Mmm.., apa yang harus aku lakukan dengan dompet ini? Dari awal aku sudah berniat mengembalikan dompet ini. Meski hasilnya nihil,” pikir Subadi sambil memandangi dompet itu.
Dengan sedikit gemetar, dompet itu dibuka Subadi. Subadi sudah pernah membuka dompet ini. Dia menemukan sebuah kartu nama dan beberapa uang seribuan lusuh. Berkat kartu nama itu, Subadi bisa berada di tempat ini.
Kali ini Subadi membuka ke celah-celah yang ada di dalam dompet. Selain kartu nama dan beberapa lembar uang seribu itu, dia menemukan STNK atas nama Hartanto tinggal di Jalan Udang 11 Semarang, KTP atas nama Nurul beralamat di Kendal, beberapa kertas kuitansi dan uang seratus ribu terselip di antara sebuah foto seorang laki-laki.
“Aku sudah capek berusaha mengembalikan dompet ini. Lelah. Panas. Kalau usaha ini tidak membuahkan hasil, bukan berarti aku mempunyai niat mengambil isi dompet ini. Jumlah uangnya tak seberapa. Hanya seratus ribu rupiah. Itung-itung sebagai uang lelah bagi aku. Pemilik rumah mewah itu tidak akan jatuh miskin kehilangan uang segitu,” pikir Subadi lagi.
Subadi mengambil uang itu. Lalu, dia meletakkan dompet itu lewat celah yang ada di bawah gerbang. Dia menyorongkannya ke dalam.
“Selain uang, aku tidak membutuhkan barang yang ada di dalam dompet. Mungkin barang-barang itu sangat berharga bagi pemiliknya. Uang ini anggap saja sebagai imbalan. Dompet ini sudah kukembalikan,” bisiknya lirih.
Subadi tidak yakin atas perbuatannya. Mungkin perbuatannya berdosa. Mungkin tidak apa-apa. Dalam hati yang gamang, segera motor itu Subadi arahkan menuju kosnya. Usai sudah urusannya dengan dompet itu.
***
Nurul tidak bisa tidur. Matanya enggan diajak kompromi. Sekarang sudah pukul empat pagi. Dia merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. Nurul belum makan sejak siang tadi. Uangnya habis. Jatah uang dari orangtua Nurul untuknya selama di kota ini telah habis. Dia baru bisa mengambil jatuh uang bulan depan, satu minggu lagi. Nurul kuliah di sebuah lembaga pendidikan kenamaan di kota ini. Sesekali dia mendapat penghasilan tambahan dengan memberi les privat.
Dompet Nurul hilang bersama isinya, tepat satu minggu yang lalu. Beberapa hari yang lalu Nurul mendapat bayaran les bulan ini dari keluarga yang tinggal di sebuah rumah mewah di Jalan Kepompong. Namun, uang itu tak seberapa. Uang itu juga sudah habis tepat pagi tadi untuk sarapan.
Adzan Subuh menggema. Tubuh yang ringkih itu bangkit dari tempat tidur. Terlihat Nurul mengambil mukena. Dia berjalan menuju sumber suara adzan itu. Ketika dia sampai di surau itu, hening menyambut. Setelah berwudhu, dia masuk ke dalam surau itu.
Tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya. Tak lama iqomat mengalun. Segera Nurul mendirikan sholat Subuh berjamaah.
Sambil menahan sakit, Nurul melakukan gerakan sholat sebisanya. Dalam benaknya terlintas pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Tuhan, serta nasib baik dan buruk. Dalam dekapan dingin dan curahan air dari langit, tiba-tiba tubuh Nurul menggigil. Dari bibir Nurul yang tipis itu, keluar suara yang sangat lirih: “Apakah Tuhan itu benar-benar adil?”
Mijen, 13 Juni 2009
GADIS CILIK DAN PERMENNYA
Oleh Eko Pujiono
Seorang gadis cilik berjalan menyusuri lorong. Gadis cilik itu mengenakan ransel. Botol minuman dijinjing. Langkahnya gontai. Rasa-rasanya ransel itu dipenuhi batu berat, nampak roman muka si gadis cilik menciut kecut. Punggungnya merunduk takluk.
Ia menengok-tengok ke sekelilingnya. Yang dilihat cahaya menggelap, udara memekat. Mata dan hidung hambar dibuatnya. Kicau-kicau burung yang biasa menceruit tak lagi terdengar. Hari ini sibuk, penghuni bumi dibuat sibuk. Si gadis cilik itu apakah sibuk? Entahlah, aku tak tahu.
Akupun, karena melihat gadis cilik itu menunduk, turut menunduk. Aku tak bisa bergoyang-digoyang oleh angin. Hari ini angin enggan bertiup menyejukkan apa saja yang dilewatinya. Untuk sekedar lewat saja, angin tak mau. Angin tidak ada. Angin bersembunyi entah dimana. Aku tidak tahu. Aku juga tak tahu kapan angin akan keluar dari persembunyiannya. Atau jangan-jangan angin sedang tertidur. Terlelap oleh hembusannya sendiri. Atau malah angin muak dengan gadis cilik itu. Sangat iri karena tidak diberi minuman dari botol yang dijinjing si gadis cilik, saat angin memintanya karena sangat kehausan. Angin mendelik, kemudian minggat.
Itupun aku tak tahu. Aku bukan Tuhan Yang Maha Tahu. Aku bukan angin atau si gadis cilik, pelaku perang dingin itu. Aku adalah aku. Siapakah aku? Akupun rasa-rasanya pun tidak tahu. Untuk menunjuk jati diriku, lihatlah aku. Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, yang mengharap tahu akan secuil rahasia-Nya tentang diriku sendiri. Sebagai individu, kukuak siapa aku sendiri. Aku: dari, oleh, untuk aku. Tapi tak seorangpun kan tahu, pun untuk mengaku, “Aku adalah aku.”
Aku sering dianggap “lain” oleh yang “lain”. Padahal aku bagian dari dirinya, bahkan bagian dari dirimu juga. Biarpun itu dulu. Aku bukan kamu. Tapi aku ada di dirimu. Semua biarlah: aku sudah memilih untuk menyerah. Katanya hidup penuh pilihan. Dan akupun sudah memilih (menyerah). Hargailah pilihanku. Angkatlah topimu untukku. Berilah sambutan kehangatan dengan senyumanmu.
Sudah, kalau engkau tidak mau lakukan itu. Ini menjadi salah satu resiko yang harus aku tanggung atas pilihan yang aku ambil: (menyerah). “Pecundang,” lirihmu saat aku terbuai dengan mimpi. Sudah cukup anggap aku pecundang. Lirihmu itu sudah keras menampar relung hatiku.
Kalau kau masih menghujat, maka engkau masih tetap menghujat bagian dari dirimu. Perhatikan dirimu sendiri. Lihat gadis cilik itu. Ia menghentikan langkah: diam di satu titik tumpu dua kakinya yang mungil. Cahaya masih menggelap, udara masih memekat. (Kian). Angin sedang genjatan senjata!
Tangan kecil itu menyibak-nyibak rok merah ¾. Kemudian dialihkan untuk merogoh sesuatu di dalam kantong baju putih dekil itu. Lihat dengan sepenuh penglihatanmu, sepenuh hatimu, gadis cilik itu tidak lagi menunduk. Apa kamu menunduk? Aku tidak lagi menunduk. Kuperhatikan dengan hati-hati setiap gerak-gerik gadis cilik itu. Gerakannya sangat luwes sekali seperti hendak menari. Senyumnya menyimpul. Ternyata sebungkus permen yang ia rogoh. Rambut hitam bergelombang mendekati untuk dinyatakan keriting, mengayun-ayun seolah mengisyaratkan tanda girang dan suka cita.
Uuupppsstt…., permen itu jatuh. Belum sempat bibir kecil itu melumat.
“Sayang…, cepat ambil. Belum juga lima menit. Cepat ambil, tunggu apa lagi. Ayo…, sayang kan,” bisik-bisik ini, hesstttt!, jangan bilang-bilang, aku dengar dari batok tempurung kepalanya. Suaranya sangat lirih, hampir-hampir tidak terdengar sama sekali. Aku harus hening untuk dapat mendengarkannya.
Yang sedang saya lakukan ini adalah pekerjaan yang katanya paling menjengkelkan sekaligus mengasyikkan. Pekerjaan ini adalah menguping. Banyak orang yang jengkel jika saja pembicaraan seriusnya dikuping oleh orang lain. Banyak orang keasyikan menguping pembicaraan orang lain. Jurus jitu menguping hanya satu. Selalu pasang ancang-ancang untuk mensensitifkan telinga.
Hei, coba kamu perhatikan dirimu sendiri sebelum melakukan pengamatan terhadap anak kecil itu. Dia masih kecil, kamu? Dia masih sekolah, kamu? Dia sendiri, kamu? Aku memperhatikannya, kamu? Perang dingin, kamu? Aku memperhatikannya, kamu? Aku mengupinginya, kamu? Hei apa yang kamu lakukan?
Anak kecil itu kini bermuram durja. Permennya terjatuh dan belum sempat diemut. Tidak! Permen itu tidak dipungut. Ubin teras sekolah merasa keenakkan menjilat-jilat permen anak kecil itu. Seolah ubin itu tidak tahu bagaimana perasaan sang anak yang masih cilik itu. Sungguh terlalu. Prettttt! Ubin itu kan benda mati, tidak punya perasaan. Rocker saja juga manusia, apalagi ubin. Berperasaan ….? Gila! Kamu?
Belum lagi lima menit, sang anak masih tetap tidak mau beranjak dari tempat ia berdiri. Ia masih pada posisi yang sama. Kakinya masih di situ. Permen itu juga masih di situ. Tapi ada yang tidak di situ, apa? Pikiran anak kecil itu entah dimana. Kalau kamu tanya padaku, mana kutahu. Kalaupun kau Tanya Tora Sudiro atau Aming atau pemain Ekstravaganza lainnya, pasti dijawab, “Meneketehek.”
Aku bukan pembaca pikiran orang lain. Kadang saja, malah sering, aku tidak paham akan pikiranku sendiri. Bagaimana pikiranku? Kadang melayang, melambung, terpendam, jenius, bahkan sering pula pikiranku terpaut dengan perasaan yang sedang aku rasakan. Rasanya gimana-gimana gitu. (Ganti). Kamu bagaimana? Pikiranmu itu?
Telah habis lima menit. Maka telah jadi tidak steril (permen) itu. Basi. Telah tidak layak untuk dipungut. Kesempatan telah melayang hilang. Kesempatan telah disia-siakan. Tidak boleh ada penyesalan.
Gadis cilik itupun kini mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Dikibaskan tangannya, kemudian gigit jari. Ia tidaklah meneteskan air mata, menangis pun tidak, apalagi merengek. Ia tampak tegar. Tidak digoyangkan kakinya. Ia tetap berpijak. Kuat. Formasi tubuhnya seperti menara Eiffel. Kaki-kakinya adalah posisi kuda-kuda.
Ia diam. Lama. Ia tidak melakukan apa-apa. Tetap berdiri sendiri di lorong-teras kelas suatu sekolah. Angin telah berperang dingin dengannya. Tarikan dan hembusan nafasnya saja yang terlihat. Detak-detak jantungnya saja yang terdengar. Nafas dan detak adalah pertanda bahwa gadis cilik itu hidup.
Lama-kelamaan aku bosan juga menyaksikan si cilik itu. Tanpa polah, tanpa ekspresi. Tanpa apa-apa, hanya botol minuman yang sepertinya sudah habis isinya, ia tenteng dipundaknya. Seharusnya kan anak kecil itu ceria, banyak canda, menggemaskan, dan menyenangkan orang-orang dewasa, seperti aku. Lama-kelamaan aku muak pada anak kecil itu. Tampak egois dan tidak bersemangat.
Lama-kelamaan aku benci pada anak kecil itu.
Aku runutkan; awalnya anak itu berjalan, terus genjatan senjata dengan angin, perang dingin. Kemudian permennya terjatuh, kesempatan untuk mengambil pun hilang. Permen itu menjadi sia-sia. Ia diam. Tampak tegar. Berdiri diam. Aku sendiri jadi muak. Ia mengingatkanku pada sejatinya diriku sendiri.
Aku ceritakan, aku adalah pohon, adalah daun, adalah akar adalah buah (mangga) di depan kelas, dekat lorong-teras, lima meter di depan gadis cilik itu. Daunku rimbun, rantingku, cabangku, batangku, akarku adalah bagian-bagian tubuhku; bagian dari dirimu juga.
Tidak usah merasa aneh, aku dulu juga sama sepertimu, “manusia”. Aku hanyalah makhluk yang terkutuk menjadi pohon. Aku dikutuk tentu ada sebabnya. Aku kecewa telah membiarkan begitu saja suatu kesempatan. Saat kesempatan itu telah raib, laiknya dirimu, aku menyesal.
Suatu sore seperti sore ini ketika ada bocah cilik ini, di tempat yang sama, di sini, ketika aku bergenjatan senjata dengan angin, aku ……. menggantung di pohon mangga, yang kini telah menjadi tubuhku.
Ajaib, tubuhku tersedot kuat masuk ke relung pohon. Aku, lambat-laun menyusup ke bagian-bagian tubuh pohon, kemudian ke otak dan perasaan. Hingga pada suatu masa aku menguasai pohon mangga ini seutuhnya. Aku yang mengatur semua atas diri pohon mangga yang tidak lain adalah diriku sendiri. Aku adalah pohon mangga itu.
Aku dulu kecewa. Kini aku melihat anak perempuan kecil yang kecewa, tapi tidak mengecewakan dirinya sendiri, pun orang lain. Ia tidak kecewa atas putusannya, secara emosional pribadi ciliknya. Gadis cilik….., permenmu jatuh.
Semarang, 070701
Seorang gadis cilik berjalan menyusuri lorong. Gadis cilik itu mengenakan ransel. Botol minuman dijinjing. Langkahnya gontai. Rasa-rasanya ransel itu dipenuhi batu berat, nampak roman muka si gadis cilik menciut kecut. Punggungnya merunduk takluk.
Ia menengok-tengok ke sekelilingnya. Yang dilihat cahaya menggelap, udara memekat. Mata dan hidung hambar dibuatnya. Kicau-kicau burung yang biasa menceruit tak lagi terdengar. Hari ini sibuk, penghuni bumi dibuat sibuk. Si gadis cilik itu apakah sibuk? Entahlah, aku tak tahu.
Akupun, karena melihat gadis cilik itu menunduk, turut menunduk. Aku tak bisa bergoyang-digoyang oleh angin. Hari ini angin enggan bertiup menyejukkan apa saja yang dilewatinya. Untuk sekedar lewat saja, angin tak mau. Angin tidak ada. Angin bersembunyi entah dimana. Aku tidak tahu. Aku juga tak tahu kapan angin akan keluar dari persembunyiannya. Atau jangan-jangan angin sedang tertidur. Terlelap oleh hembusannya sendiri. Atau malah angin muak dengan gadis cilik itu. Sangat iri karena tidak diberi minuman dari botol yang dijinjing si gadis cilik, saat angin memintanya karena sangat kehausan. Angin mendelik, kemudian minggat.
Itupun aku tak tahu. Aku bukan Tuhan Yang Maha Tahu. Aku bukan angin atau si gadis cilik, pelaku perang dingin itu. Aku adalah aku. Siapakah aku? Akupun rasa-rasanya pun tidak tahu. Untuk menunjuk jati diriku, lihatlah aku. Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, yang mengharap tahu akan secuil rahasia-Nya tentang diriku sendiri. Sebagai individu, kukuak siapa aku sendiri. Aku: dari, oleh, untuk aku. Tapi tak seorangpun kan tahu, pun untuk mengaku, “Aku adalah aku.”
Aku sering dianggap “lain” oleh yang “lain”. Padahal aku bagian dari dirinya, bahkan bagian dari dirimu juga. Biarpun itu dulu. Aku bukan kamu. Tapi aku ada di dirimu. Semua biarlah: aku sudah memilih untuk menyerah. Katanya hidup penuh pilihan. Dan akupun sudah memilih (menyerah). Hargailah pilihanku. Angkatlah topimu untukku. Berilah sambutan kehangatan dengan senyumanmu.
Sudah, kalau engkau tidak mau lakukan itu. Ini menjadi salah satu resiko yang harus aku tanggung atas pilihan yang aku ambil: (menyerah). “Pecundang,” lirihmu saat aku terbuai dengan mimpi. Sudah cukup anggap aku pecundang. Lirihmu itu sudah keras menampar relung hatiku.
Kalau kau masih menghujat, maka engkau masih tetap menghujat bagian dari dirimu. Perhatikan dirimu sendiri. Lihat gadis cilik itu. Ia menghentikan langkah: diam di satu titik tumpu dua kakinya yang mungil. Cahaya masih menggelap, udara masih memekat. (Kian). Angin sedang genjatan senjata!
Tangan kecil itu menyibak-nyibak rok merah ¾. Kemudian dialihkan untuk merogoh sesuatu di dalam kantong baju putih dekil itu. Lihat dengan sepenuh penglihatanmu, sepenuh hatimu, gadis cilik itu tidak lagi menunduk. Apa kamu menunduk? Aku tidak lagi menunduk. Kuperhatikan dengan hati-hati setiap gerak-gerik gadis cilik itu. Gerakannya sangat luwes sekali seperti hendak menari. Senyumnya menyimpul. Ternyata sebungkus permen yang ia rogoh. Rambut hitam bergelombang mendekati untuk dinyatakan keriting, mengayun-ayun seolah mengisyaratkan tanda girang dan suka cita.
Uuupppsstt…., permen itu jatuh. Belum sempat bibir kecil itu melumat.
“Sayang…, cepat ambil. Belum juga lima menit. Cepat ambil, tunggu apa lagi. Ayo…, sayang kan,” bisik-bisik ini, hesstttt!, jangan bilang-bilang, aku dengar dari batok tempurung kepalanya. Suaranya sangat lirih, hampir-hampir tidak terdengar sama sekali. Aku harus hening untuk dapat mendengarkannya.
Yang sedang saya lakukan ini adalah pekerjaan yang katanya paling menjengkelkan sekaligus mengasyikkan. Pekerjaan ini adalah menguping. Banyak orang yang jengkel jika saja pembicaraan seriusnya dikuping oleh orang lain. Banyak orang keasyikan menguping pembicaraan orang lain. Jurus jitu menguping hanya satu. Selalu pasang ancang-ancang untuk mensensitifkan telinga.
Hei, coba kamu perhatikan dirimu sendiri sebelum melakukan pengamatan terhadap anak kecil itu. Dia masih kecil, kamu? Dia masih sekolah, kamu? Dia sendiri, kamu? Aku memperhatikannya, kamu? Perang dingin, kamu? Aku memperhatikannya, kamu? Aku mengupinginya, kamu? Hei apa yang kamu lakukan?
Anak kecil itu kini bermuram durja. Permennya terjatuh dan belum sempat diemut. Tidak! Permen itu tidak dipungut. Ubin teras sekolah merasa keenakkan menjilat-jilat permen anak kecil itu. Seolah ubin itu tidak tahu bagaimana perasaan sang anak yang masih cilik itu. Sungguh terlalu. Prettttt! Ubin itu kan benda mati, tidak punya perasaan. Rocker saja juga manusia, apalagi ubin. Berperasaan ….? Gila! Kamu?
Belum lagi lima menit, sang anak masih tetap tidak mau beranjak dari tempat ia berdiri. Ia masih pada posisi yang sama. Kakinya masih di situ. Permen itu juga masih di situ. Tapi ada yang tidak di situ, apa? Pikiran anak kecil itu entah dimana. Kalau kamu tanya padaku, mana kutahu. Kalaupun kau Tanya Tora Sudiro atau Aming atau pemain Ekstravaganza lainnya, pasti dijawab, “Meneketehek.”
Aku bukan pembaca pikiran orang lain. Kadang saja, malah sering, aku tidak paham akan pikiranku sendiri. Bagaimana pikiranku? Kadang melayang, melambung, terpendam, jenius, bahkan sering pula pikiranku terpaut dengan perasaan yang sedang aku rasakan. Rasanya gimana-gimana gitu. (Ganti). Kamu bagaimana? Pikiranmu itu?
Telah habis lima menit. Maka telah jadi tidak steril (permen) itu. Basi. Telah tidak layak untuk dipungut. Kesempatan telah melayang hilang. Kesempatan telah disia-siakan. Tidak boleh ada penyesalan.
Gadis cilik itupun kini mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Dikibaskan tangannya, kemudian gigit jari. Ia tidaklah meneteskan air mata, menangis pun tidak, apalagi merengek. Ia tampak tegar. Tidak digoyangkan kakinya. Ia tetap berpijak. Kuat. Formasi tubuhnya seperti menara Eiffel. Kaki-kakinya adalah posisi kuda-kuda.
Ia diam. Lama. Ia tidak melakukan apa-apa. Tetap berdiri sendiri di lorong-teras kelas suatu sekolah. Angin telah berperang dingin dengannya. Tarikan dan hembusan nafasnya saja yang terlihat. Detak-detak jantungnya saja yang terdengar. Nafas dan detak adalah pertanda bahwa gadis cilik itu hidup.
Lama-kelamaan aku bosan juga menyaksikan si cilik itu. Tanpa polah, tanpa ekspresi. Tanpa apa-apa, hanya botol minuman yang sepertinya sudah habis isinya, ia tenteng dipundaknya. Seharusnya kan anak kecil itu ceria, banyak canda, menggemaskan, dan menyenangkan orang-orang dewasa, seperti aku. Lama-kelamaan aku muak pada anak kecil itu. Tampak egois dan tidak bersemangat.
Lama-kelamaan aku benci pada anak kecil itu.
Aku runutkan; awalnya anak itu berjalan, terus genjatan senjata dengan angin, perang dingin. Kemudian permennya terjatuh, kesempatan untuk mengambil pun hilang. Permen itu menjadi sia-sia. Ia diam. Tampak tegar. Berdiri diam. Aku sendiri jadi muak. Ia mengingatkanku pada sejatinya diriku sendiri.
Aku ceritakan, aku adalah pohon, adalah daun, adalah akar adalah buah (mangga) di depan kelas, dekat lorong-teras, lima meter di depan gadis cilik itu. Daunku rimbun, rantingku, cabangku, batangku, akarku adalah bagian-bagian tubuhku; bagian dari dirimu juga.
Tidak usah merasa aneh, aku dulu juga sama sepertimu, “manusia”. Aku hanyalah makhluk yang terkutuk menjadi pohon. Aku dikutuk tentu ada sebabnya. Aku kecewa telah membiarkan begitu saja suatu kesempatan. Saat kesempatan itu telah raib, laiknya dirimu, aku menyesal.
Suatu sore seperti sore ini ketika ada bocah cilik ini, di tempat yang sama, di sini, ketika aku bergenjatan senjata dengan angin, aku ……. menggantung di pohon mangga, yang kini telah menjadi tubuhku.
Ajaib, tubuhku tersedot kuat masuk ke relung pohon. Aku, lambat-laun menyusup ke bagian-bagian tubuh pohon, kemudian ke otak dan perasaan. Hingga pada suatu masa aku menguasai pohon mangga ini seutuhnya. Aku yang mengatur semua atas diri pohon mangga yang tidak lain adalah diriku sendiri. Aku adalah pohon mangga itu.
Aku dulu kecewa. Kini aku melihat anak perempuan kecil yang kecewa, tapi tidak mengecewakan dirinya sendiri, pun orang lain. Ia tidak kecewa atas putusannya, secara emosional pribadi ciliknya. Gadis cilik….., permenmu jatuh.
Semarang, 070701
KABAR BURUNG DARI LANGIT
Cerpen Eko Pujiono
LANGIT MASIH SEPERTI YANG KEMARIN ketika kabar itu merebak di seantero sekolah. Kabar itu dibicarakan setiap saat. Terlebih ketika jam istirahat dan jam kosong pelajaran.
Para siswa berkelompok, empat sampai delapan orang. Putra-putri. Mereka tersebar di penjuru sekolah. Di kelas, di perpus, di kantin, di bawah pohon, dan di sudut manapun yang asyik buat ngobrol. Bicaranya kasak-kusuk ala acara gosip di televisi. Weleh-weleh bagai diskusi politik. Tapi, lebih mirip kampaye parpol untuk merekrut partisan.
Tidak jelas siapa pembawa berita itu. Yang jelas berita itu mengalahkan gosip-gosip selebritis paling hot sekalipun. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Via SMS. Sangat cepat. Secepat komet Halley kalau meluncur ke bumi. Bak virus. Melumpuhkan aktivitas di sekolah.
Siswa dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, semuanya sibuk membicarakan kabar itu. Guru-gurupun mulai terpengaruh, meski sok jaim. Di setiap pelajaran, Bapak-Ibu guru menyelipkan khotbah keagamaan. Ada yang singkat dan ada pula yang panjang. Topik utamanya tentang surga-neraka, kehancuran bumi dan kemusnahan manusia, amal baik dan buruk, serta ajakan beramaliah sesuai tuntunan agama.
Kabar itu diiringi kehisterisan, ketakutan, dan segala macam perasaan lainnya. Bercampur aduk. Seperti es campur. Anehnya, tingkah mereka pun sekarang menjadi bodoh, eh heboh. Masak Junet yang dikenal suka berkelahi kini sukanya ke mushola. Dia mengajak teman-teman gengnya. Tidak hanya Junet Cs, malahan hampir semua siswa yang beragama Islam turut ke mushola. Walhasil saat sholat Dzuhur, mushola sekolah penuh. Bahkan harus rela antri dan berdesak-desakkan. Bagi yang non-muslim, mereka membuat jema’at tersendiri. Melantunkan senandung do’a-do’a dan puji-pujian.
***
Aku dipanggil menghadap Kepala Sekolah. Entah untuk urusan apa. Dag, dig, dug…, detak jantungku.
“Bapak memanggil saya?” sambil agak menundukkan badan ke arah Pak Kadir yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.
“Ya, Jat. Silahkan duduk.”
Aku duduk di sofa, di dekat meja kerja Kepala Sekolah.
“Ada apa, ya, Pak?” tanyaku.
“Begini, sekolah kita sedang merebak adanya isu. Isu ini menimbulkan dampak buruk. Bisa dibilang sudah sangat meresahkan,” kata Pak Kadir sambil memainkan pena antiknya.
“Maaf, Pak. Bukankah malah membuat sekolah kita menjadi religius,” aku menyela.
“Ya, memang. Tapi, tidak bagi kegiatan belajar mengajar. Pikiran siswa semuanya terpecah memikirkan itu. Mana sempat memikirkan pelajaran.”
“Betul juga, Pak. Lalu?”
“Kamu sebagai Ketua OSIS, aku perintahkan untuk mengusut siapa yang menyebarkan isu ini. Ketemu tidak ketemu, kamu harus melaporkan informasi sekecil apapun mengenai perkembangan yang terjadi. Bagaimana?”
Aku terdiam. Pandanganku menerawang ke langit-langit. Mana bisa aku melakukannya. Aku sangsi.
“Soal biaya ini-itu jangan kuatir. Sudah saya siapkan. Mau? Mau? Mau?”
Aku tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Segera aku meninggalkan ruang Kepala Sekolah. Dalam perjalanan ke kelasku, terbayang kepiawaian Detektif Conan dalam mengungkap kasus. Aku punya kesempatan untuk menjadi seperti dia. Wuih.., Conan, tokoh kartun Jepang idolaku.
***
Sudah seminggu aku melakukan investigasi isu ini. Hasilnya, tiga nama aku kantongi. Felisa, Saipul, dan Junet. Aku sudah melaporkan mereka ke Kepala Sekolah dan diperintahkan untuk memanggil mereka. Segera mereka aku bawa untuk menghadap Pak Kadir.
Felisa aku sangka karena dialah biang gosip di sekolah. Semua gossip yang beredar di sekolah ini pasti sumbernya dari dia. Mulai dari gossip artis, film, fesyen, dan apapunlah, pasti Felisa tahu. Kutahu Felisa kedapatan sedang membicarakan isu itu beberapa kali dengan siswa lain. Mungkin Felisa ingin membuat sensasi.
Sementara Saipul kusangka karena dia adalah Ketua Rohis di sekolah. Alasannya sederhana. Dulu mushola yang terletak di pojokan sekolah, sering sepi. Kesannya angker. Tidak ada siswa yang mau berjamaah. Datang saja enggan. Setelah ada isu itu, Saipul sering mengajak teman-teman untuk beramal baik, salah satunya dengan sholat dan memanfaat mushola untuk keperluan ibadah. Kini, mushola selalu berjibun dipenuhi orang. Entah untuk sholat berjamaah, ngaji atau diskusi kecil-kecilan soal Islam.
Junet memiliki pengaruh besar di sekolah. Di adalah ketua geng di sekolah. Banyak siswa yang takut kepadanya. Aku sendiri sungkan kepada Junet. Perawakannya tinggi besar. Kepalan tangannya mantap. Para siswa banyak yang memanggil Junet dengan sebutan “Big Boss”. Apa yang dia katakan, pasti diamini oleh siswa lain. Sudah banyak kejadian, Junet menghajar siswa yang tidak sepaham dengan dirinya.
Di ruang Kepala Sekolah, siang itu usai istirahat kedua, aku bersama ketiga orang itu, menghadap Pak Kadir. Di ruang yang tak seberapa luas ini, suasana tegang mencekam. Tidak ada yang berani bicara. Sambil duduk, Pak Kadir sepertinya sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aku tak coba bersuara.
Pak Kadir mengamat-amati tiga orang yang datang bersamaku. Satu per satu. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Silahkan duduk,” pinta Pak Kadir yang rasanya sudah kadaluwarsa.
Kakiku terasa pegal berdiri lama. Jantungku mulai berdetak kencang. Aku duduk di sebelah Saipul. Aku tegang menunggu apa yang bakal terjadi. Pak Kadir kini berdiri.
“Saya mendapat laporan bahwa salah satu dari kalian adalah penyebar isu yang telah meresahkan sekolah kita. Saya ingin kalian mengaku. Siapa yang menyebar isu itu?” tanya Pak Kadir dengan rona wajah yang menakutkan.
Sumua diam. Lama. Tidak ada yang berani menjawab.
“Kalau kalian tidak ada yang mau mengaku, baiklah, saya interogasi satu per satu. Saipul, kamu tahu isu ini dari siapa?”
“Aku.., akuuu, Pak. Aku tahu dari Felisa, Pak. Info itu kemudian aku gunakan untuk mengajak teman-teman supaya rajin ke mushola. Demi Allah, aku hanya menyebar kabar itu demi kabaikkan, Pak,” jawab Saipul dengan ucapan terputus-putus.
“Felisa, kamu tahu dari siapa?”
“Aku tahu dari Junet. Ketika itu pas di kantin, Junet memberitahuiku mengenai hal ini.”
“Wah, lagi-lagi kamu Junet yang membuat kekisruhan di sekolah kita. Kapan kamu mau insaf? Kenapa kamu tadi tidak mengaku saja. Ternyata, kamu biang keroknya.” Pak kadir meradang.
“Maaf, Pak. Aku tahu info itu dari seseorang. Dia mengirimiku SMS. Aku masih menyimpan SMS itu. Sebentar,” Junet mencari sesuatu di sakunya, “ini, Pak.”
Junet memperlihatkan HPnya kepada Pak Kadir. Sejurus Pak Kadir mengamati dengan cara seksama dan dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya. Pak Kadir menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya memerah.
“Jatmiko, kamu baca SMS ini. Mungkin kamu tahu nomor pengirimnya,” perintah Pak Kadir.
Kuraih HP Junet.
Bc korn hr ni. Tgl 12-12-2012 KIAMAT. Sbrkn k tmn2.
Sender: +628500011333
Message center: +628550000000
Sent: 15-Jan-2009 06:29:43
Aku terperanjat kaget. Ya ampiiuuunnn, itu kan nomor HPku. Maksudku mengirim SMS itu hanya ingin agar teman-teman membaca artikel bagus tentang kiamat di koran itu. Kenapa jadi begini?
“Kamu tahu nomor itu?” tanya Pak Kadir lagi.
“Punyaku….,” jawabku sambil menunduk.
Kucuri pandang. Pak Kadir, Junet, Saipul, dan Felisa, melihatku dengan melotot. Wajah mereka menyala bagai lampu merah bangjo. Aku mendengar suara gigi gemeretakkan. Aku tidak bisa membayangkan hukuman yang akan kuterima. Pak Kadir terkenal seorang yang sangat galak. Wah…, mampus aku!
Semarang, 14 Maret 2009
LANGIT MASIH SEPERTI YANG KEMARIN ketika kabar itu merebak di seantero sekolah. Kabar itu dibicarakan setiap saat. Terlebih ketika jam istirahat dan jam kosong pelajaran.
Para siswa berkelompok, empat sampai delapan orang. Putra-putri. Mereka tersebar di penjuru sekolah. Di kelas, di perpus, di kantin, di bawah pohon, dan di sudut manapun yang asyik buat ngobrol. Bicaranya kasak-kusuk ala acara gosip di televisi. Weleh-weleh bagai diskusi politik. Tapi, lebih mirip kampaye parpol untuk merekrut partisan.
Tidak jelas siapa pembawa berita itu. Yang jelas berita itu mengalahkan gosip-gosip selebritis paling hot sekalipun. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Via SMS. Sangat cepat. Secepat komet Halley kalau meluncur ke bumi. Bak virus. Melumpuhkan aktivitas di sekolah.
Siswa dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, semuanya sibuk membicarakan kabar itu. Guru-gurupun mulai terpengaruh, meski sok jaim. Di setiap pelajaran, Bapak-Ibu guru menyelipkan khotbah keagamaan. Ada yang singkat dan ada pula yang panjang. Topik utamanya tentang surga-neraka, kehancuran bumi dan kemusnahan manusia, amal baik dan buruk, serta ajakan beramaliah sesuai tuntunan agama.
Kabar itu diiringi kehisterisan, ketakutan, dan segala macam perasaan lainnya. Bercampur aduk. Seperti es campur. Anehnya, tingkah mereka pun sekarang menjadi bodoh, eh heboh. Masak Junet yang dikenal suka berkelahi kini sukanya ke mushola. Dia mengajak teman-teman gengnya. Tidak hanya Junet Cs, malahan hampir semua siswa yang beragama Islam turut ke mushola. Walhasil saat sholat Dzuhur, mushola sekolah penuh. Bahkan harus rela antri dan berdesak-desakkan. Bagi yang non-muslim, mereka membuat jema’at tersendiri. Melantunkan senandung do’a-do’a dan puji-pujian.
***
Aku dipanggil menghadap Kepala Sekolah. Entah untuk urusan apa. Dag, dig, dug…, detak jantungku.
“Bapak memanggil saya?” sambil agak menundukkan badan ke arah Pak Kadir yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.
“Ya, Jat. Silahkan duduk.”
Aku duduk di sofa, di dekat meja kerja Kepala Sekolah.
“Ada apa, ya, Pak?” tanyaku.
“Begini, sekolah kita sedang merebak adanya isu. Isu ini menimbulkan dampak buruk. Bisa dibilang sudah sangat meresahkan,” kata Pak Kadir sambil memainkan pena antiknya.
“Maaf, Pak. Bukankah malah membuat sekolah kita menjadi religius,” aku menyela.
“Ya, memang. Tapi, tidak bagi kegiatan belajar mengajar. Pikiran siswa semuanya terpecah memikirkan itu. Mana sempat memikirkan pelajaran.”
“Betul juga, Pak. Lalu?”
“Kamu sebagai Ketua OSIS, aku perintahkan untuk mengusut siapa yang menyebarkan isu ini. Ketemu tidak ketemu, kamu harus melaporkan informasi sekecil apapun mengenai perkembangan yang terjadi. Bagaimana?”
Aku terdiam. Pandanganku menerawang ke langit-langit. Mana bisa aku melakukannya. Aku sangsi.
“Soal biaya ini-itu jangan kuatir. Sudah saya siapkan. Mau? Mau? Mau?”
Aku tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Segera aku meninggalkan ruang Kepala Sekolah. Dalam perjalanan ke kelasku, terbayang kepiawaian Detektif Conan dalam mengungkap kasus. Aku punya kesempatan untuk menjadi seperti dia. Wuih.., Conan, tokoh kartun Jepang idolaku.
***
Sudah seminggu aku melakukan investigasi isu ini. Hasilnya, tiga nama aku kantongi. Felisa, Saipul, dan Junet. Aku sudah melaporkan mereka ke Kepala Sekolah dan diperintahkan untuk memanggil mereka. Segera mereka aku bawa untuk menghadap Pak Kadir.
Felisa aku sangka karena dialah biang gosip di sekolah. Semua gossip yang beredar di sekolah ini pasti sumbernya dari dia. Mulai dari gossip artis, film, fesyen, dan apapunlah, pasti Felisa tahu. Kutahu Felisa kedapatan sedang membicarakan isu itu beberapa kali dengan siswa lain. Mungkin Felisa ingin membuat sensasi.
Sementara Saipul kusangka karena dia adalah Ketua Rohis di sekolah. Alasannya sederhana. Dulu mushola yang terletak di pojokan sekolah, sering sepi. Kesannya angker. Tidak ada siswa yang mau berjamaah. Datang saja enggan. Setelah ada isu itu, Saipul sering mengajak teman-teman untuk beramal baik, salah satunya dengan sholat dan memanfaat mushola untuk keperluan ibadah. Kini, mushola selalu berjibun dipenuhi orang. Entah untuk sholat berjamaah, ngaji atau diskusi kecil-kecilan soal Islam.
Junet memiliki pengaruh besar di sekolah. Di adalah ketua geng di sekolah. Banyak siswa yang takut kepadanya. Aku sendiri sungkan kepada Junet. Perawakannya tinggi besar. Kepalan tangannya mantap. Para siswa banyak yang memanggil Junet dengan sebutan “Big Boss”. Apa yang dia katakan, pasti diamini oleh siswa lain. Sudah banyak kejadian, Junet menghajar siswa yang tidak sepaham dengan dirinya.
Di ruang Kepala Sekolah, siang itu usai istirahat kedua, aku bersama ketiga orang itu, menghadap Pak Kadir. Di ruang yang tak seberapa luas ini, suasana tegang mencekam. Tidak ada yang berani bicara. Sambil duduk, Pak Kadir sepertinya sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aku tak coba bersuara.
Pak Kadir mengamat-amati tiga orang yang datang bersamaku. Satu per satu. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Silahkan duduk,” pinta Pak Kadir yang rasanya sudah kadaluwarsa.
Kakiku terasa pegal berdiri lama. Jantungku mulai berdetak kencang. Aku duduk di sebelah Saipul. Aku tegang menunggu apa yang bakal terjadi. Pak Kadir kini berdiri.
“Saya mendapat laporan bahwa salah satu dari kalian adalah penyebar isu yang telah meresahkan sekolah kita. Saya ingin kalian mengaku. Siapa yang menyebar isu itu?” tanya Pak Kadir dengan rona wajah yang menakutkan.
Sumua diam. Lama. Tidak ada yang berani menjawab.
“Kalau kalian tidak ada yang mau mengaku, baiklah, saya interogasi satu per satu. Saipul, kamu tahu isu ini dari siapa?”
“Aku.., akuuu, Pak. Aku tahu dari Felisa, Pak. Info itu kemudian aku gunakan untuk mengajak teman-teman supaya rajin ke mushola. Demi Allah, aku hanya menyebar kabar itu demi kabaikkan, Pak,” jawab Saipul dengan ucapan terputus-putus.
“Felisa, kamu tahu dari siapa?”
“Aku tahu dari Junet. Ketika itu pas di kantin, Junet memberitahuiku mengenai hal ini.”
“Wah, lagi-lagi kamu Junet yang membuat kekisruhan di sekolah kita. Kapan kamu mau insaf? Kenapa kamu tadi tidak mengaku saja. Ternyata, kamu biang keroknya.” Pak kadir meradang.
“Maaf, Pak. Aku tahu info itu dari seseorang. Dia mengirimiku SMS. Aku masih menyimpan SMS itu. Sebentar,” Junet mencari sesuatu di sakunya, “ini, Pak.”
Junet memperlihatkan HPnya kepada Pak Kadir. Sejurus Pak Kadir mengamati dengan cara seksama dan dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya. Pak Kadir menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya memerah.
“Jatmiko, kamu baca SMS ini. Mungkin kamu tahu nomor pengirimnya,” perintah Pak Kadir.
Kuraih HP Junet.
Bc korn hr ni. Tgl 12-12-2012 KIAMAT. Sbrkn k tmn2.
Sender: +628500011333
Message center: +628550000000
Sent: 15-Jan-2009 06:29:43
Aku terperanjat kaget. Ya ampiiuuunnn, itu kan nomor HPku. Maksudku mengirim SMS itu hanya ingin agar teman-teman membaca artikel bagus tentang kiamat di koran itu. Kenapa jadi begini?
“Kamu tahu nomor itu?” tanya Pak Kadir lagi.
“Punyaku….,” jawabku sambil menunduk.
Kucuri pandang. Pak Kadir, Junet, Saipul, dan Felisa, melihatku dengan melotot. Wajah mereka menyala bagai lampu merah bangjo. Aku mendengar suara gigi gemeretakkan. Aku tidak bisa membayangkan hukuman yang akan kuterima. Pak Kadir terkenal seorang yang sangat galak. Wah…, mampus aku!
Semarang, 14 Maret 2009
Cerpen Eko Pujiono
Sarjan sama sekali tak nampak di rumah pak Subadi saat melangsungkan acara pernikahan anaknya, si Romlah. Kejadian ini sudah cukup menghebohkan seisi kampung.
Adatnya jika salah seorang tetangga memiliki gawe, seperti mantu yang dilakukan oleh keluarga pak Subadi, baiknya tetangga yang lain ikut datang ke rumahnya untuk membantu atau hanya sekedar meramaikan. Istilahnya disebut rewang. Tapi, bukan itu yang membuat geger seisi kampung. Pasalnya pak Subadi pernah menolak lamaran Sarjan untuk meminang Romlah, satu tahun yang lalu. Ada yang menyebutkan Sarjan masih sakit hati, sehingga tak mau datang ke rumah pak Subadi. Adapula yang ngomong begini, “Kasihan ya si Romlah, gara-gara bapaknya, dia harus kawin dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Heh, kalian tahu nggak, kalau kaki yang laki ada ciri-nya? Tadi saja tidak mau diwisuhi oleh Romlah. Lihat nggak mukanya? Padahal, hih…., mukanya juga tidak ganteng-ganteng amat. Dibanding Sarjan, jauh…., kalah deh!”
Adapula yang hanya diam saja mendengar berbagai spekulasi tentang Sarjan. Ada yang lebih ekstrim dengan memaki-maki dan menyalahkan pak Subadi.
“Dasar pak Subadi itu buta, tidak bisa membedakan mana yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan anaknya, Romlah. Katanya, dulu sejak SMA Romlah dan Sarjan sudah berpacaran. Apa ini tidak sama saja dengan zaman Siti Nurbaya, gila tidak?”
Yang lain bilang begini, “Kalau pak Subadi mau lebih melek, Sarjan sudah cukup mapan. Dia jadi pegawai di kantor kecamatan, sudah negeri lagi. Anaknya sopan, rajin, pokoknya kalau saya punya anak perempuan, pasti akan saya suruh kawin sama Sarjan. Tidak pakai lama-lama, langsung saja kukawinkan kalau Sarjan mau.”
Itu baru beberapa omongan yang beberapa hari ini semenjak pak Subadi punya gawe, beredar di sudut-sudut kampung. Omongan-omongan itu diperbincangkan mulai dari pagi sampai malam hari. Di warung-warung, di depan rumah, di sawah, di pasar desa, sampai di pinggir kali. Kejadian ini membuat keluarga pak Subadi terpukul. Karena rata-rata banyak yang menyalahkan pak Subadi. Mereka lebih bersimpati pada Sarjan.
Tentang Sarjan sendiri yang pegawai kantor kecamatan, umurnya sudah dua puluh lima tahun. Badannya tinggi tegap, kulitnya kuning agak gelap. Rambutnya selalu klimies tersisir rapi. Pakaian selalu masuk. Unggah-ungguh-nya baik. Berkepribadian. Ia tinggal di kampung ini seorang diri di rumah milik sendiri. Sarjan aslinya bukan dari sini, tetapi dari kampung seberang kali. Ia pindah kemari karena kampung ini lebih dekat dengan kantor kecamatan daripada kampungnya yang harus menyeberang kali segala. Ia tinggal nyetater motor vespa butut warisan bapaknya yang telah meninggal tiga tahun lalu.
Sebenarnya Sarjan lebih memilih tinggal bersama ibunya dan dua orang adik perempuan di kampungnya sendiri. Pasalnya, disini apa-apa harus ia lakukan sendiri. Dari masak, makan, nyuci pakaian, membersihkan rumah, sampai hiiiiih… tidur sendiri.
Enam tahun lalu, setelah satu tahun ia lulus dari SMA, Sarjan coba-coba ikut tes CPNS untuk formasi pegawai rendahan bidang administrasi perkantoran. Ijazah SMA-nya sudah cukup untuk melamar. Tidak ada badai, tidak ada tsunami, tidak ada topan, tidak ada lesus, Sarjan diterima dan ditempatkan di kantor kecamatan yang sampai sekarang ia bekerja. Untung tidak ada pengumuman ulang yang marak menghiasi seleksi CPNS beberapa tahun belakangan ini. Jadi, lolosnya Sarjan tidak ada anulir. Beberapa kali bapaknya berkata pada Sarjan begini, “Bejane awak ora ono sing bisa ngalahake—kemujuran seseorang tidak ada yang bisa mengalahkan.” Begitu ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Sarjan dan masih selalu dapat diingat-ingat oleh Sarjan. Maka setelah positif lolos, oleh bapaknya dibuatkan selamatan kecil dengan satu ingkung ayam (satu ayam utuh) dan jajanan pasar sebagai pelengkapnya.
Soal geger, tidak hanya di kampung ini. Ternyata di kantor kecamatan, juga begitu. Semua rekan kerja kantor membicarakan Sarjan. Apalagi sejak kejadian ini, Sarjan tidak menampakkan batang hidungnya, baik di kantor kecamatan, maupun di kampungnya. Sarjan hilang, lenyap ditelan oleh bumi. Ditambah hilangnya Sarjan, maka semakin seru dan geger memperbincangkan tentang Sarjan. Semakin banyak spekulasi-spekulasi yang dapat diperbuat. Ada yang mengait-ngaitkan antara kejadian yang satu dengan kejadian lain yang dialami oleh Sarjan. Bahkan ada yang mengaitkan dengan kejadian di masa kecil Sarjan. Kini, pamor Sarjan menjadi melambung. Ibarat artis, Sarjan sedang naik daun di puncak lidah orang-orang, menjadi pusat perhatian, menjadi bahan omongan, gosip, sampai menjadi bahan untuk cuci mulut pembuang selilit setelah makan. Sarjan, nama yang cukup singkat. Ada dua “a”-nya. Tapi, tidak sesingkat mengekspos dirinya saat ini.
Di kantor kecamatan, Sarjan hanya meninggalkan secarik kertas bertandatangan dan bermeterai segala. Isinya tentang permohonan cuti selama beberapa waktu yang tidak dapat ia tentukan berapa lama waktunya. Apakah satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, satu tahun, tidak dicantumkan. Alasannya bukan sakit, karena sehari sebelumnya Sarjan terlihat sehat-sehat saja masuk kerja. Alasan yang ia utarakan berbunyi seperti ini:
“Demi Tuhan, pokoknya saya minta cuti entah sampai kapan. Saya mohon. Kalau tidak diberi, maka sama saja membunuh saya di waktu yang sangat mendesak ini. Please diberi, kalau tidak, awas! Yang lain jangan meri. Trim’s pak camat.”
Pak camat ikut-ikutan klojotan dan terpukul menyaksikan ulah Sarjan yang sampai segila ini. Ia ikut-ikut nimbrung membincang Sarjan. Yang membuat pak camat merasa terpukul adalah apa yang dituliskan Sarjan dalam surat permohonan cutinya. Begitu tidak sopan. Tidak mencerminkan kepribadian Sarjan yang begitu sopan dan lemah lembut, but….
Sebenarnya pak camat sudah tahu apa yang hendak diulah oleh sarjan. Sehari sebelumnya Sarjan sudah membincang apa saja yang hendak dilakukannya selama cuti pada pak camat. Pak camat hanya manthuk-manthuk saja mendengar apa yang disampaikan oleh Sarjan berikut argumen-argumen yang dilontarkan dengan begitu cerdasnya dan terlebih dengan sopannya. Pak camat mengamini saja. Pak camat ikut-ikutan bertingkah seperti yang lain, tak lain, tak bukan, hanya lagak kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu biar semakin heboh.
Di kampungnya sendiri, malah ibu dan dua saudaranya juga ikut menghilang bersama Sarjan. Tetangga di sekitarnya tidak ada yang tahu kapan dan dimana mereka pergi. Seperti hantu mereka menghilang. Ada beberapa tetangga melihat terakhr kali ketika sekeluarga itu sore hari sebelumnya, sedang nyekar di kuburan bapaknya Sarjan. Baru tujuh hari dari hari pertama Sarjan hilang—lebih tepatnya sejak dari hari pak Subadi melangsungkan pernikahan anaknya—Sarjan tiba-tiba menampakkan batang hidungnya. Kampung semakin heboh lagi, Sarjan terlihat sedang membonceng seorang gadis dengan vespanya. Orang yang melihat langsung tercengang menyaksikan Sarjan membonceng gadis yang sangat cantik. Gadis itu berkerudung, berkulit kuning langsat. Perawakakan tubuhnya ideal. Pokoknya waahhh, top B-G-T, top banget deh.
Maka orang itu langsung pergi ke warung, kemana saja yang penting ada orang yang dapat ditemuinya untuk memberitahukan akan apa yang baru saja dilihatnya. Warga ada yang percaya, ada yang setengah percaya, dan ada yang menyangsikan. Padahal, si pembawa warta itu ngotot memberitahukan yang sebenar-benarnya apa yang baru saja dilihatnya. Berita itu cepat menyebar, bahkan sudah sampai di kantor kecamatan. Di kantor juga begitu, suasana menjadi tak karuan. Maka segera diutus seseorang untuk mencaritahu tentang apa saja yang telah dilakukan Sarjan yang telah membuat geger penghuni bumi, langsung ke rumah Sarjan. Yang diutus adalah Mamat, teman dekat Sarjan di kantor kecamatan. Dengan segera Mamat dengan meminjam sepeda motor dinas pak camat langsung menuju rumah Sarjan.
Sesampainya di rumah Sarjan, ternyata sudah banyak orang yang hendak mengorek keterangan dari Sarjan. Termasuk pak Subadi, pembawa warta dan tiga orang yang menyangsikan Sarjan pulang dengan seorang gadis. Mereka sangat ingin tahu bagaimana yang sebenarnya. Setelah berjubel di depan pintu sambil memanggil si empunya rumah, mereka semua diterima oleh Sarjan. Dan langsung dipersilahkan duduk di kursi di ruang tamu yang beberapa meter tepat menghadap pintu masuk.
Aksesori di ruangan ini cukup sederhana. Hanya terlihat gambar-foto presiden dan wakilnya nampang di dinding ruangan, beberapa foto Sarjan dan keluarga, kalender dan jam dinding yang kini telah menunjuk pukul sepuluh kurang lima menit. Ada masing-masing satu jendela di dinding kanan-kiri rumah ini yang terbuka lebar, sehingga cahaya dan udara bebas keluar masuk. Ada lemari panjang berisi buku koleksi Sarjan yang dijadikan penyekat ruangan ini dengan ruang dalam. Rumah Sarjan memang tak terlalu luas. Untuk keluarga kecil, pasti sudah cukup. Yang luas adalah bagian pekarangannya yang ia tanami apotek hidup dan ada kolam ikan di belakang rumah. Sebuah sumur di kanan rumah, dekat dengan bagian kamar mandinya.
Ruangan yang tak begitu luas kini nampak sempit sekali dipenuhi oleh orang. Kursi sofa yang mengelilingi meja kecil—yang hanya cukup menompang enam bokong orang—diduduki oleh enam orang. Sementara itu Sarjan masuk ke dalam untuk mengambil satu kursi lagi untuknya di ruang makan pribadinya.
“Begini lho dik Sarjan, bukan maksud mencampuri kehidupan dik Sarjan, kami semua ini datang ke sini ingin tahu apa saja yang dilakukan adik ini selama sekitar seminggu ini,” terang pak Subadi, “soalnya kampung ini menjadi geger semenjak kepergian dik Sarjan.”
“Ya, Jan,” Mamat menyahut seperti burung perkutut, “di kantor juga heboh banget. Kemana sih kamu?”
Yang lainnya juga turut seperti burung perkutut. Manut dengan manggut-manggut meminta kejelasan dari Sarjan.
“Saya pergi ada urusan penting,” jawab Sarjan dengan singkat.
“Jadi, kamu tidak sakit hati saat Romlah saya nikahkan dengan orang lain?”
“Ya, tidak pak Subadi. Lha wong Romlah mungkin sudah bukan jodoh saya, kok saya harus ngoyo.”
“Terus kamu ada urusan apa?”
“Saya….., ah, hanya urusan pribadi yang sangat penting dan mendesak.”
“Apa?” tanya Mamat penuh penasaran.
“Menikah!”
Kontan semua yang mendengar perkataan Sarjan yang singkat dan tegas itu menjadi kaget dan setengah mematung.
“Jadi bener kamu pulang bawa gadis, cantik lagi?,” tanya salah seorang yang paling sangsi.
“Gadis itu istri kamu Jan,” tanya si pembawa warta.
“Ya!,” jawab Sarjan. “Oh, ya, mari saya kenalkan dengan istri saya. Sebentar…” sambil Sarjan bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam.
Semua orang di ruang tamu itu menjadi tak sabar untuk melihat istri Sarjan. Mereka sudah pasang kuda-kuda dalam bola matanya untuk menyaksikan gadis yang menjadi pilihan Sarjan. Persiapan kuda-kuda itu ternyata mental setelah Sarjan dan istrinya keluar. Semua kaget setelah tahu bahwa yang menjadi istri Sarjan adalah Imah, anak gadisnya pak camat.
Sementara itu Sarjan dan Imah hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan orang-orang yang di depannya kaget dan melongo saja.
“Begini, saya tidak punya maksud apa-apa dengan apa yang saya perbuat ini dengan tanpa memberitahu dulu pada tetangga dan warga sekitar. Saya mohon maaf jika dari ulah saya ini ada yang membuat tidak berkenan. Apa yang saya lakukan ini hanya memenuhi apa yang diamanatkan oleh bapak saya sebelum meninggal, bahwa ketika saya melangsungkan pernikahan harus disaksikan oleh beberapa orang saja dari keluarga saya dan keluarga calon istri saya. Katanya ini sudah menjadi tradisi yang dijalankan oleh keluarga garis keturunan bapak. Mau tidak mau saya harus mematuhi amanat dari bapak. Apalagi disampaikan sebelum tiba ajalnya.”
Semua orang menjadi-jadi melongo mendengar penjelasan dari Sarjan. Maka untuk menghilangkan longoannya, mereka minta ijin pamit pulang. Tapi, dalam hati bukan alasan itu mereka minta undur pulang. Mereka sudah tidak sabar setelah mendapatkan bahan omongan untuk membicarakannya yang akan menghebohkan kampung tentang Sarjan. Istrinya Sarjan adalah anaknya pak camat.
Hanya Mamat yang tidak minta undur pulang. Masih ada pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya.
“Jan, kenapa pak camat ikut-ikutan heboh mengenai cutimu? Terus surat itu?”
“Oh itu, itu pasti pinter-pinterannya bapak camat. Soal surat, saya tidak pernah menulisnya.”
“Pak camat seminggu ini masuk kantor terus, kapan kalian menikahnya?”
“Ya, baru kemarin, hari Minggu. Hari-hari sebelumnya saya dan keluarga pergi ke rumah saudara dan sanak famili bapak dan ibu saya untuk meminta restu darinya. Kamu tahu kan, rumah mereka berada di luar kota semua.”
“Kok bisa istri kamu itu Imah, anaknya pak camat?”
“Itu rahasia, kalau mau tahu tanya sama bapak camat saja sendiri.”
“Ya, ya…, mentang-mentang sudah jadi mantunya pak camat.”
“Bang Mamat,” Imah menyela, “cepet pulang ke kantor dong, ada urusan pribadi yang harus kami tuntaskan. Kalau tidak pulang, awas nanti saya adukan sama bapak.”
Sambil menyeringai tawa, “Ya, kalau saya lama-lama di sini, nanti ganggu. Saya ngerti kok.”
“Kami tidak ngusir lho Mat.”
“Ha, ha, ha…, ha….,ha.., “ semua tersimpul dalam tawa.
Atas kejadian ini, kampung akan tetap heboh dan geger lagi. Tapi, tidak dengan artis tunggal lagi. Kini, artisnya adalah Sarjan dan Imah.
Purwodadi, 17 Oktober 2006.
Sarjan sama sekali tak nampak di rumah pak Subadi saat melangsungkan acara pernikahan anaknya, si Romlah. Kejadian ini sudah cukup menghebohkan seisi kampung.
Adatnya jika salah seorang tetangga memiliki gawe, seperti mantu yang dilakukan oleh keluarga pak Subadi, baiknya tetangga yang lain ikut datang ke rumahnya untuk membantu atau hanya sekedar meramaikan. Istilahnya disebut rewang. Tapi, bukan itu yang membuat geger seisi kampung. Pasalnya pak Subadi pernah menolak lamaran Sarjan untuk meminang Romlah, satu tahun yang lalu. Ada yang menyebutkan Sarjan masih sakit hati, sehingga tak mau datang ke rumah pak Subadi. Adapula yang ngomong begini, “Kasihan ya si Romlah, gara-gara bapaknya, dia harus kawin dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Heh, kalian tahu nggak, kalau kaki yang laki ada ciri-nya? Tadi saja tidak mau diwisuhi oleh Romlah. Lihat nggak mukanya? Padahal, hih…., mukanya juga tidak ganteng-ganteng amat. Dibanding Sarjan, jauh…., kalah deh!”
Adapula yang hanya diam saja mendengar berbagai spekulasi tentang Sarjan. Ada yang lebih ekstrim dengan memaki-maki dan menyalahkan pak Subadi.
“Dasar pak Subadi itu buta, tidak bisa membedakan mana yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan anaknya, Romlah. Katanya, dulu sejak SMA Romlah dan Sarjan sudah berpacaran. Apa ini tidak sama saja dengan zaman Siti Nurbaya, gila tidak?”
Yang lain bilang begini, “Kalau pak Subadi mau lebih melek, Sarjan sudah cukup mapan. Dia jadi pegawai di kantor kecamatan, sudah negeri lagi. Anaknya sopan, rajin, pokoknya kalau saya punya anak perempuan, pasti akan saya suruh kawin sama Sarjan. Tidak pakai lama-lama, langsung saja kukawinkan kalau Sarjan mau.”
Itu baru beberapa omongan yang beberapa hari ini semenjak pak Subadi punya gawe, beredar di sudut-sudut kampung. Omongan-omongan itu diperbincangkan mulai dari pagi sampai malam hari. Di warung-warung, di depan rumah, di sawah, di pasar desa, sampai di pinggir kali. Kejadian ini membuat keluarga pak Subadi terpukul. Karena rata-rata banyak yang menyalahkan pak Subadi. Mereka lebih bersimpati pada Sarjan.
Tentang Sarjan sendiri yang pegawai kantor kecamatan, umurnya sudah dua puluh lima tahun. Badannya tinggi tegap, kulitnya kuning agak gelap. Rambutnya selalu klimies tersisir rapi. Pakaian selalu masuk. Unggah-ungguh-nya baik. Berkepribadian. Ia tinggal di kampung ini seorang diri di rumah milik sendiri. Sarjan aslinya bukan dari sini, tetapi dari kampung seberang kali. Ia pindah kemari karena kampung ini lebih dekat dengan kantor kecamatan daripada kampungnya yang harus menyeberang kali segala. Ia tinggal nyetater motor vespa butut warisan bapaknya yang telah meninggal tiga tahun lalu.
Sebenarnya Sarjan lebih memilih tinggal bersama ibunya dan dua orang adik perempuan di kampungnya sendiri. Pasalnya, disini apa-apa harus ia lakukan sendiri. Dari masak, makan, nyuci pakaian, membersihkan rumah, sampai hiiiiih… tidur sendiri.
Enam tahun lalu, setelah satu tahun ia lulus dari SMA, Sarjan coba-coba ikut tes CPNS untuk formasi pegawai rendahan bidang administrasi perkantoran. Ijazah SMA-nya sudah cukup untuk melamar. Tidak ada badai, tidak ada tsunami, tidak ada topan, tidak ada lesus, Sarjan diterima dan ditempatkan di kantor kecamatan yang sampai sekarang ia bekerja. Untung tidak ada pengumuman ulang yang marak menghiasi seleksi CPNS beberapa tahun belakangan ini. Jadi, lolosnya Sarjan tidak ada anulir. Beberapa kali bapaknya berkata pada Sarjan begini, “Bejane awak ora ono sing bisa ngalahake—kemujuran seseorang tidak ada yang bisa mengalahkan.” Begitu ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Sarjan dan masih selalu dapat diingat-ingat oleh Sarjan. Maka setelah positif lolos, oleh bapaknya dibuatkan selamatan kecil dengan satu ingkung ayam (satu ayam utuh) dan jajanan pasar sebagai pelengkapnya.
Soal geger, tidak hanya di kampung ini. Ternyata di kantor kecamatan, juga begitu. Semua rekan kerja kantor membicarakan Sarjan. Apalagi sejak kejadian ini, Sarjan tidak menampakkan batang hidungnya, baik di kantor kecamatan, maupun di kampungnya. Sarjan hilang, lenyap ditelan oleh bumi. Ditambah hilangnya Sarjan, maka semakin seru dan geger memperbincangkan tentang Sarjan. Semakin banyak spekulasi-spekulasi yang dapat diperbuat. Ada yang mengait-ngaitkan antara kejadian yang satu dengan kejadian lain yang dialami oleh Sarjan. Bahkan ada yang mengaitkan dengan kejadian di masa kecil Sarjan. Kini, pamor Sarjan menjadi melambung. Ibarat artis, Sarjan sedang naik daun di puncak lidah orang-orang, menjadi pusat perhatian, menjadi bahan omongan, gosip, sampai menjadi bahan untuk cuci mulut pembuang selilit setelah makan. Sarjan, nama yang cukup singkat. Ada dua “a”-nya. Tapi, tidak sesingkat mengekspos dirinya saat ini.
Di kantor kecamatan, Sarjan hanya meninggalkan secarik kertas bertandatangan dan bermeterai segala. Isinya tentang permohonan cuti selama beberapa waktu yang tidak dapat ia tentukan berapa lama waktunya. Apakah satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, satu tahun, tidak dicantumkan. Alasannya bukan sakit, karena sehari sebelumnya Sarjan terlihat sehat-sehat saja masuk kerja. Alasan yang ia utarakan berbunyi seperti ini:
“Demi Tuhan, pokoknya saya minta cuti entah sampai kapan. Saya mohon. Kalau tidak diberi, maka sama saja membunuh saya di waktu yang sangat mendesak ini. Please diberi, kalau tidak, awas! Yang lain jangan meri. Trim’s pak camat.”
Pak camat ikut-ikutan klojotan dan terpukul menyaksikan ulah Sarjan yang sampai segila ini. Ia ikut-ikut nimbrung membincang Sarjan. Yang membuat pak camat merasa terpukul adalah apa yang dituliskan Sarjan dalam surat permohonan cutinya. Begitu tidak sopan. Tidak mencerminkan kepribadian Sarjan yang begitu sopan dan lemah lembut, but….
Sebenarnya pak camat sudah tahu apa yang hendak diulah oleh sarjan. Sehari sebelumnya Sarjan sudah membincang apa saja yang hendak dilakukannya selama cuti pada pak camat. Pak camat hanya manthuk-manthuk saja mendengar apa yang disampaikan oleh Sarjan berikut argumen-argumen yang dilontarkan dengan begitu cerdasnya dan terlebih dengan sopannya. Pak camat mengamini saja. Pak camat ikut-ikutan bertingkah seperti yang lain, tak lain, tak bukan, hanya lagak kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu biar semakin heboh.
Di kampungnya sendiri, malah ibu dan dua saudaranya juga ikut menghilang bersama Sarjan. Tetangga di sekitarnya tidak ada yang tahu kapan dan dimana mereka pergi. Seperti hantu mereka menghilang. Ada beberapa tetangga melihat terakhr kali ketika sekeluarga itu sore hari sebelumnya, sedang nyekar di kuburan bapaknya Sarjan. Baru tujuh hari dari hari pertama Sarjan hilang—lebih tepatnya sejak dari hari pak Subadi melangsungkan pernikahan anaknya—Sarjan tiba-tiba menampakkan batang hidungnya. Kampung semakin heboh lagi, Sarjan terlihat sedang membonceng seorang gadis dengan vespanya. Orang yang melihat langsung tercengang menyaksikan Sarjan membonceng gadis yang sangat cantik. Gadis itu berkerudung, berkulit kuning langsat. Perawakakan tubuhnya ideal. Pokoknya waahhh, top B-G-T, top banget deh.
Maka orang itu langsung pergi ke warung, kemana saja yang penting ada orang yang dapat ditemuinya untuk memberitahukan akan apa yang baru saja dilihatnya. Warga ada yang percaya, ada yang setengah percaya, dan ada yang menyangsikan. Padahal, si pembawa warta itu ngotot memberitahukan yang sebenar-benarnya apa yang baru saja dilihatnya. Berita itu cepat menyebar, bahkan sudah sampai di kantor kecamatan. Di kantor juga begitu, suasana menjadi tak karuan. Maka segera diutus seseorang untuk mencaritahu tentang apa saja yang telah dilakukan Sarjan yang telah membuat geger penghuni bumi, langsung ke rumah Sarjan. Yang diutus adalah Mamat, teman dekat Sarjan di kantor kecamatan. Dengan segera Mamat dengan meminjam sepeda motor dinas pak camat langsung menuju rumah Sarjan.
Sesampainya di rumah Sarjan, ternyata sudah banyak orang yang hendak mengorek keterangan dari Sarjan. Termasuk pak Subadi, pembawa warta dan tiga orang yang menyangsikan Sarjan pulang dengan seorang gadis. Mereka sangat ingin tahu bagaimana yang sebenarnya. Setelah berjubel di depan pintu sambil memanggil si empunya rumah, mereka semua diterima oleh Sarjan. Dan langsung dipersilahkan duduk di kursi di ruang tamu yang beberapa meter tepat menghadap pintu masuk.
Aksesori di ruangan ini cukup sederhana. Hanya terlihat gambar-foto presiden dan wakilnya nampang di dinding ruangan, beberapa foto Sarjan dan keluarga, kalender dan jam dinding yang kini telah menunjuk pukul sepuluh kurang lima menit. Ada masing-masing satu jendela di dinding kanan-kiri rumah ini yang terbuka lebar, sehingga cahaya dan udara bebas keluar masuk. Ada lemari panjang berisi buku koleksi Sarjan yang dijadikan penyekat ruangan ini dengan ruang dalam. Rumah Sarjan memang tak terlalu luas. Untuk keluarga kecil, pasti sudah cukup. Yang luas adalah bagian pekarangannya yang ia tanami apotek hidup dan ada kolam ikan di belakang rumah. Sebuah sumur di kanan rumah, dekat dengan bagian kamar mandinya.
Ruangan yang tak begitu luas kini nampak sempit sekali dipenuhi oleh orang. Kursi sofa yang mengelilingi meja kecil—yang hanya cukup menompang enam bokong orang—diduduki oleh enam orang. Sementara itu Sarjan masuk ke dalam untuk mengambil satu kursi lagi untuknya di ruang makan pribadinya.
“Begini lho dik Sarjan, bukan maksud mencampuri kehidupan dik Sarjan, kami semua ini datang ke sini ingin tahu apa saja yang dilakukan adik ini selama sekitar seminggu ini,” terang pak Subadi, “soalnya kampung ini menjadi geger semenjak kepergian dik Sarjan.”
“Ya, Jan,” Mamat menyahut seperti burung perkutut, “di kantor juga heboh banget. Kemana sih kamu?”
Yang lainnya juga turut seperti burung perkutut. Manut dengan manggut-manggut meminta kejelasan dari Sarjan.
“Saya pergi ada urusan penting,” jawab Sarjan dengan singkat.
“Jadi, kamu tidak sakit hati saat Romlah saya nikahkan dengan orang lain?”
“Ya, tidak pak Subadi. Lha wong Romlah mungkin sudah bukan jodoh saya, kok saya harus ngoyo.”
“Terus kamu ada urusan apa?”
“Saya….., ah, hanya urusan pribadi yang sangat penting dan mendesak.”
“Apa?” tanya Mamat penuh penasaran.
“Menikah!”
Kontan semua yang mendengar perkataan Sarjan yang singkat dan tegas itu menjadi kaget dan setengah mematung.
“Jadi bener kamu pulang bawa gadis, cantik lagi?,” tanya salah seorang yang paling sangsi.
“Gadis itu istri kamu Jan,” tanya si pembawa warta.
“Ya!,” jawab Sarjan. “Oh, ya, mari saya kenalkan dengan istri saya. Sebentar…” sambil Sarjan bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam.
Semua orang di ruang tamu itu menjadi tak sabar untuk melihat istri Sarjan. Mereka sudah pasang kuda-kuda dalam bola matanya untuk menyaksikan gadis yang menjadi pilihan Sarjan. Persiapan kuda-kuda itu ternyata mental setelah Sarjan dan istrinya keluar. Semua kaget setelah tahu bahwa yang menjadi istri Sarjan adalah Imah, anak gadisnya pak camat.
Sementara itu Sarjan dan Imah hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan orang-orang yang di depannya kaget dan melongo saja.
“Begini, saya tidak punya maksud apa-apa dengan apa yang saya perbuat ini dengan tanpa memberitahu dulu pada tetangga dan warga sekitar. Saya mohon maaf jika dari ulah saya ini ada yang membuat tidak berkenan. Apa yang saya lakukan ini hanya memenuhi apa yang diamanatkan oleh bapak saya sebelum meninggal, bahwa ketika saya melangsungkan pernikahan harus disaksikan oleh beberapa orang saja dari keluarga saya dan keluarga calon istri saya. Katanya ini sudah menjadi tradisi yang dijalankan oleh keluarga garis keturunan bapak. Mau tidak mau saya harus mematuhi amanat dari bapak. Apalagi disampaikan sebelum tiba ajalnya.”
Semua orang menjadi-jadi melongo mendengar penjelasan dari Sarjan. Maka untuk menghilangkan longoannya, mereka minta ijin pamit pulang. Tapi, dalam hati bukan alasan itu mereka minta undur pulang. Mereka sudah tidak sabar setelah mendapatkan bahan omongan untuk membicarakannya yang akan menghebohkan kampung tentang Sarjan. Istrinya Sarjan adalah anaknya pak camat.
Hanya Mamat yang tidak minta undur pulang. Masih ada pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya.
“Jan, kenapa pak camat ikut-ikutan heboh mengenai cutimu? Terus surat itu?”
“Oh itu, itu pasti pinter-pinterannya bapak camat. Soal surat, saya tidak pernah menulisnya.”
“Pak camat seminggu ini masuk kantor terus, kapan kalian menikahnya?”
“Ya, baru kemarin, hari Minggu. Hari-hari sebelumnya saya dan keluarga pergi ke rumah saudara dan sanak famili bapak dan ibu saya untuk meminta restu darinya. Kamu tahu kan, rumah mereka berada di luar kota semua.”
“Kok bisa istri kamu itu Imah, anaknya pak camat?”
“Itu rahasia, kalau mau tahu tanya sama bapak camat saja sendiri.”
“Ya, ya…, mentang-mentang sudah jadi mantunya pak camat.”
“Bang Mamat,” Imah menyela, “cepet pulang ke kantor dong, ada urusan pribadi yang harus kami tuntaskan. Kalau tidak pulang, awas nanti saya adukan sama bapak.”
Sambil menyeringai tawa, “Ya, kalau saya lama-lama di sini, nanti ganggu. Saya ngerti kok.”
“Kami tidak ngusir lho Mat.”
“Ha, ha, ha…, ha….,ha.., “ semua tersimpul dalam tawa.
Atas kejadian ini, kampung akan tetap heboh dan geger lagi. Tapi, tidak dengan artis tunggal lagi. Kini, artisnya adalah Sarjan dan Imah.
Purwodadi, 17 Oktober 2006.
PADA SUATU MALAM DI SUATU TEMPAT
Cerpen Eko Pujiono
LANGIT DI ATAS Kota Semarang dihiasi awan putih yang berarak. Sinar mentari angkuh menyerbu penghuni bumi. Aku masih sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk kampus. Peluh tak kuhiraukan.
Peluit sesekali aku semprit. Meminta perhatian pengendara. Ada saja yang parkir seenaknya. Adapula yang mengendarai kendaraan dengan kencang. Tidak mengiraukan kondisi sekarang, penuh pejalan kaki dan kendaraan lain. Hal ini membuatku gemas.
Suasana yang panas seperti ini, membuat orang menjadi tak sabaran. Inginnya cepat-cepat. Segera keluar dari kungkungan panas yang menyengat. Memang lebih enak berada di suatu tempat yang nyaman. Di dalam ruangan ber-AC atau di bawah rerimbunan pohon, sambil mengobrol dan minum es degan.
Kulirik jam di tangan kiriku. Baru pukul 11.45. Berarti, jam istirahat 15 menit lagi. Aahh, berarti pula sebentar lagi pemandangan berjejalan mahasiswa segera akan terjadi. Mereka tumpah ruah usai jam kuliah. Dari ruang kelas menuju ke tempat parkir dan kemudian menghambur entah kemana. Bagi yang berjalan kaki maka mereka langsung akan segera aku sambut. Menggunakan bunyi peluit tentunya. Sebagian dari mereka berjalan seenaknya. Bergerombol dan memakan jalan. Kendaraan yang hendak keluar, harus rela merayap. Ini adalah tugasku. Mengatur mereka agar terjadi suasana yang tertib.
Aku menghapus peluh yang keluar di muka dan leher. Topi besar yang aku kenakan tidak cukup menahan terik. Tak terasa, riuh mahasiswa telah lengang dari pandanganku. Pakaian dinas yang aku kenakan ini, di beberapa bagian juga tampak basah oleh keringat. Aaahh, aku menghela nafas panjang.
Sejak tiga hari yang lalu, aku meminta kepada atasanku agar aku bisa bertugas di area parkir dekat pintu utama kampus. Bagi aku yang sudah 20 tahun bekerja di kampus ini, permohonan yang sepele semacam itu pasti bakal dikabulkan dengan mudah. Biasanya, aku berjaga di area gedung sebelah. Permintaanku itu langsung dikabulkan. Jarang yang mau bertugas di lokasi ini. Selain panas karena memang sedang musim kemarau, juga dijadikan lalu lalang semua orang yang hendak keluar-masuk kampus. Tentunya sangat padat dan perlu pengawasan ekstra.
Sebetulnya kalau tidak ada suatu persoalan, aku juga enggan bertugas di lokasi ini. Namun, bagaimana lagi. Sejak peristiwa itu, pikiranku sering tidak karuan. Ketika hendak tidur saja pun sulit. Kejadian itu selalu terbayang. Mengacaukan hari-hariku. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan baik. Selalu ada-ada saja yang membuat setiap yang aku kerjakan jadi tak beres. Konsentrasiku selalu terpecah mengingat peristiwa itu.
Aku ingin lepas dari persoalan ini. Uang 200 ribu di dompetku ingin segera kukembalikan. Uang itu terasa panas. Uang yang lumayan banyak bagiku itu sebenarnya sudah menjadi hak mutlakku. Mahasiswa itu telah memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribuan kepadaku. Ia memasukkan sendiri uang itu ke dalam saku celanaku. Menurutku ia sudah ikhlas. Asalkan aku tidak berbicara kepada siapapun tentang peristiwa itu.
Keberadaanku di sini untuk mencari mahasiswa itu untuk mengembalikan uang ini. Karena itu, aku rela berpanas-panas ria di sini. Meski sudah kukerahkan seluruh perhatianku untuk mengamati orang yang lalu-lalang di sini, aku belum juga menjumpai batang hidung mahasiswa itu.
Aku masih ingat betul bagaimana ciri-ciri mahasiswa itu. Tubuhnya tinggi besar. Berkulit putih. Hidungnya agak mancung. Rambutnya hitam agak keriting. Ia waktu itu mengenakan celana jeans hitam dan kemeja panjang bergaris warna putih. Dari dialek pembicaraannya, aku tahu darimana asal mahasiswa itu. Ia memiliki tanda. Sebuah tahi lalat kecil di bawah kelopak matanya sebelah kanan. Aku ingat persis.
Sebetulnya, aku sudah ingin berbicara mengenai peristiwa itu kepada atasan atau rekan-rekanku. Mungkin mereka bisa membantu. Namun, jika aku bicara maka aku telah menyalahi janji dengan mahasiswa itu. Serba salah aku jadinya.
Dasar aku memang bodoh!
Menyesal aku menerima uang itu. Kalau bakal begini jadinya, membuat aku merasa bersalah, mending aku laporkan peristiwa itu. Tinggal berkata sesungguhnya kepada atasanku tentang peristiwa itu. Setelah itu, peristiwa itu menjadi urusan atasanku dan mahasiswa yang sudah tiga hari kucari-cari dan tidak ketemu itu.
Mungkin waktu itu aku sedang sial.
***
Di salah satu lantai gedung kampus, sekitar pukul delapan malam. Suasana sepi. Di sini hanya ada aku, dia (seorang lelaki), dan perempuan itu.
“Mohon bapak menerima ini,” kata lelaki itu sambil memasukkan sesuatu ke dalam kantong celanaku. Aku berdiri dan masih lengkap memakai seragamku.
Aku tidak tahu apa yang ia masukkan itu. Yang aku tahu, ia bersama seorang perempuan. Aku tidak melihat wajahnya. Perempuan itu menunduk. Belum sempat aku berbicara, lelaki itu sudah berkata-kata lagi. Matanya berair.
“Mohon bapak tidak melaporkan apapun yang bapak lihat. Seolah tadi tidak pernah terjadi,” sambil menyeka matanya, “jika bapak melapor, kami berdua bakal celaka. Kasihanilah kami berdua. Sebentar lagi aku akan diwisuda. Aku pasti batal lulus kalau rektorat tahu.”
Lelaki itu memeluk erat kakiku. Memandang ke arahku dengan penuh harap. Matanya merah. Air mata meleleh di pipi dan pelipis matanya. Aku tak kuasa menyaksikan pandangan mata lelaki itu. Kubuang pandangan dan kulihat perempuan itu berjalan menjauhi kami berdua. Perempuan itu berjalan membelakangiku. Ia membawa tas cangklong hitam. Sesekali kulihat dari belakang, ia merapikan rambutnya denga tangan.
Perempuan itu tanpa suara berjalan perlahan meninggalkan kami berdua. Aku tidak berusaha mencegah. Perempuan itu sudah menuruni tangga. Kini tidak terlihat lagi tubuhnya yang ramping itu.
Kembali, pikiranku tertuju pada lelaki yang sedang memeluk erat kakiku.
Aku tidak dapat berpikir. Sebaiknya aku harus apa? Entah…., rasa ibaku luluh. Aku tahu dia salah, tapi … Rasa kebapakanku diuji.
“Baiklah…,” kata itu tiba-tiba meluncur dari mulutku dengan berat, “jangan kau ulangi lagi. Siapa namamu?”
Pertanyaan itu langsung ia jawab dengan penuh suka cita. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaku sambil mencium tanganku. Sejurus kemudian ia memberesi barang-barangnya. Sekali lagi ia mencium tanganku dan mengucapkan terima kasih. Aku masih terbengong dan belum tahu nama lelaki itu.
Ketika tersadar, aku mengembangkan senyum kecil dan menyaksikan tempat ini sepi. Lelaki itu sudah pergi meninggalkanku. Segera aku pergi memeriksa ruangan di lantai ini setelah itu mematikan lampu yang masih menyala. Gelap sudah dan akupun menuruni tangga. Bergegas pulang ke rumah. Kutemui istri dan anak-anakku yang sedang asyik menonton televisi.
***
Panas mentari berangsur-angsur hilang. Kendaraan yang tadi tumpah ruah di lokasi ini pun berangsur-angsur sepi. Aahh, lega rasanya. Hari ini tugasku telah selesai setelah hampir seharian ikut mengamankan dan menertibkan kendaraan di acara wisuda kampus. Aku duduk sendiri di bawah sebuah pohon. Kucoba meregangkan tubuh yang kaku sambil tetap memperhatikan sekitar. Kuhela nafas panjang sesekali. Kusaksikan tempat ini sudah lengang. Tumpah ruah manusia dan kendaraan sudah tidak ada lagi.
Tiba-tiba seorang lelaki memakai pakaian wisuda lengkap menghampiriku. Aku tidak tahu siapa dia. Dia melempar senyum kepadaku. Kubalas dengan senyuman sekadarnya sambil menahan bingung.
“Terima kasih, Pak, tadi aku ikut diwisuda. O ya, ini undangan untuk bapak. Bapak mungkin berkenan untuk hadir dalam pernikahan kami,” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan kertas berwarna merah muda bersampul plastik transparan.
Aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan dan lakukan ini. Belum ingat aku, siapa dia. Ketika aku sekuat tenaga mengingat-ingat, ia sudah hilang dari hadapanku.
Semilir angin membelai wajahku. Kudengar suara klakson mengudara. Sebuah minibus berjalan meninggalkan lokasi ini. Kulihat sebuah tangan keluar dari jendela mobil. Tampak melambai-lambai ke arahku.
“Sontoloyo, itu kan laki-laki yang sudah empat bulan kucari-cari,” teriakku dalam hati.
Sambil kupandangi undangan merah muda itu, tiba-tiba hatiku berbisik, ”Aku akan hadir pada hari bahagiamu. Akan kukembalikan uangmu. Uang yang telah membuat pikiran dan perasaanku berkecamuk. Semoga kalian berbahagia….”
Dompet di saku belakang celanaku terasa kian panas. Bagai disulut nyala api secara perlahan. Pertistiwa itu kembali teringat. Aku kembali tersenyum kecil…
Semarang, 18 Februari 2009
LANGIT DI ATAS Kota Semarang dihiasi awan putih yang berarak. Sinar mentari angkuh menyerbu penghuni bumi. Aku masih sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk kampus. Peluh tak kuhiraukan.
Peluit sesekali aku semprit. Meminta perhatian pengendara. Ada saja yang parkir seenaknya. Adapula yang mengendarai kendaraan dengan kencang. Tidak mengiraukan kondisi sekarang, penuh pejalan kaki dan kendaraan lain. Hal ini membuatku gemas.
Suasana yang panas seperti ini, membuat orang menjadi tak sabaran. Inginnya cepat-cepat. Segera keluar dari kungkungan panas yang menyengat. Memang lebih enak berada di suatu tempat yang nyaman. Di dalam ruangan ber-AC atau di bawah rerimbunan pohon, sambil mengobrol dan minum es degan.
Kulirik jam di tangan kiriku. Baru pukul 11.45. Berarti, jam istirahat 15 menit lagi. Aahh, berarti pula sebentar lagi pemandangan berjejalan mahasiswa segera akan terjadi. Mereka tumpah ruah usai jam kuliah. Dari ruang kelas menuju ke tempat parkir dan kemudian menghambur entah kemana. Bagi yang berjalan kaki maka mereka langsung akan segera aku sambut. Menggunakan bunyi peluit tentunya. Sebagian dari mereka berjalan seenaknya. Bergerombol dan memakan jalan. Kendaraan yang hendak keluar, harus rela merayap. Ini adalah tugasku. Mengatur mereka agar terjadi suasana yang tertib.
Aku menghapus peluh yang keluar di muka dan leher. Topi besar yang aku kenakan tidak cukup menahan terik. Tak terasa, riuh mahasiswa telah lengang dari pandanganku. Pakaian dinas yang aku kenakan ini, di beberapa bagian juga tampak basah oleh keringat. Aaahh, aku menghela nafas panjang.
Sejak tiga hari yang lalu, aku meminta kepada atasanku agar aku bisa bertugas di area parkir dekat pintu utama kampus. Bagi aku yang sudah 20 tahun bekerja di kampus ini, permohonan yang sepele semacam itu pasti bakal dikabulkan dengan mudah. Biasanya, aku berjaga di area gedung sebelah. Permintaanku itu langsung dikabulkan. Jarang yang mau bertugas di lokasi ini. Selain panas karena memang sedang musim kemarau, juga dijadikan lalu lalang semua orang yang hendak keluar-masuk kampus. Tentunya sangat padat dan perlu pengawasan ekstra.
Sebetulnya kalau tidak ada suatu persoalan, aku juga enggan bertugas di lokasi ini. Namun, bagaimana lagi. Sejak peristiwa itu, pikiranku sering tidak karuan. Ketika hendak tidur saja pun sulit. Kejadian itu selalu terbayang. Mengacaukan hari-hariku. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan baik. Selalu ada-ada saja yang membuat setiap yang aku kerjakan jadi tak beres. Konsentrasiku selalu terpecah mengingat peristiwa itu.
Aku ingin lepas dari persoalan ini. Uang 200 ribu di dompetku ingin segera kukembalikan. Uang itu terasa panas. Uang yang lumayan banyak bagiku itu sebenarnya sudah menjadi hak mutlakku. Mahasiswa itu telah memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribuan kepadaku. Ia memasukkan sendiri uang itu ke dalam saku celanaku. Menurutku ia sudah ikhlas. Asalkan aku tidak berbicara kepada siapapun tentang peristiwa itu.
Keberadaanku di sini untuk mencari mahasiswa itu untuk mengembalikan uang ini. Karena itu, aku rela berpanas-panas ria di sini. Meski sudah kukerahkan seluruh perhatianku untuk mengamati orang yang lalu-lalang di sini, aku belum juga menjumpai batang hidung mahasiswa itu.
Aku masih ingat betul bagaimana ciri-ciri mahasiswa itu. Tubuhnya tinggi besar. Berkulit putih. Hidungnya agak mancung. Rambutnya hitam agak keriting. Ia waktu itu mengenakan celana jeans hitam dan kemeja panjang bergaris warna putih. Dari dialek pembicaraannya, aku tahu darimana asal mahasiswa itu. Ia memiliki tanda. Sebuah tahi lalat kecil di bawah kelopak matanya sebelah kanan. Aku ingat persis.
Sebetulnya, aku sudah ingin berbicara mengenai peristiwa itu kepada atasan atau rekan-rekanku. Mungkin mereka bisa membantu. Namun, jika aku bicara maka aku telah menyalahi janji dengan mahasiswa itu. Serba salah aku jadinya.
Dasar aku memang bodoh!
Menyesal aku menerima uang itu. Kalau bakal begini jadinya, membuat aku merasa bersalah, mending aku laporkan peristiwa itu. Tinggal berkata sesungguhnya kepada atasanku tentang peristiwa itu. Setelah itu, peristiwa itu menjadi urusan atasanku dan mahasiswa yang sudah tiga hari kucari-cari dan tidak ketemu itu.
Mungkin waktu itu aku sedang sial.
***
Di salah satu lantai gedung kampus, sekitar pukul delapan malam. Suasana sepi. Di sini hanya ada aku, dia (seorang lelaki), dan perempuan itu.
“Mohon bapak menerima ini,” kata lelaki itu sambil memasukkan sesuatu ke dalam kantong celanaku. Aku berdiri dan masih lengkap memakai seragamku.
Aku tidak tahu apa yang ia masukkan itu. Yang aku tahu, ia bersama seorang perempuan. Aku tidak melihat wajahnya. Perempuan itu menunduk. Belum sempat aku berbicara, lelaki itu sudah berkata-kata lagi. Matanya berair.
“Mohon bapak tidak melaporkan apapun yang bapak lihat. Seolah tadi tidak pernah terjadi,” sambil menyeka matanya, “jika bapak melapor, kami berdua bakal celaka. Kasihanilah kami berdua. Sebentar lagi aku akan diwisuda. Aku pasti batal lulus kalau rektorat tahu.”
Lelaki itu memeluk erat kakiku. Memandang ke arahku dengan penuh harap. Matanya merah. Air mata meleleh di pipi dan pelipis matanya. Aku tak kuasa menyaksikan pandangan mata lelaki itu. Kubuang pandangan dan kulihat perempuan itu berjalan menjauhi kami berdua. Perempuan itu berjalan membelakangiku. Ia membawa tas cangklong hitam. Sesekali kulihat dari belakang, ia merapikan rambutnya denga tangan.
Perempuan itu tanpa suara berjalan perlahan meninggalkan kami berdua. Aku tidak berusaha mencegah. Perempuan itu sudah menuruni tangga. Kini tidak terlihat lagi tubuhnya yang ramping itu.
Kembali, pikiranku tertuju pada lelaki yang sedang memeluk erat kakiku.
Aku tidak dapat berpikir. Sebaiknya aku harus apa? Entah…., rasa ibaku luluh. Aku tahu dia salah, tapi … Rasa kebapakanku diuji.
“Baiklah…,” kata itu tiba-tiba meluncur dari mulutku dengan berat, “jangan kau ulangi lagi. Siapa namamu?”
Pertanyaan itu langsung ia jawab dengan penuh suka cita. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaku sambil mencium tanganku. Sejurus kemudian ia memberesi barang-barangnya. Sekali lagi ia mencium tanganku dan mengucapkan terima kasih. Aku masih terbengong dan belum tahu nama lelaki itu.
Ketika tersadar, aku mengembangkan senyum kecil dan menyaksikan tempat ini sepi. Lelaki itu sudah pergi meninggalkanku. Segera aku pergi memeriksa ruangan di lantai ini setelah itu mematikan lampu yang masih menyala. Gelap sudah dan akupun menuruni tangga. Bergegas pulang ke rumah. Kutemui istri dan anak-anakku yang sedang asyik menonton televisi.
***
Panas mentari berangsur-angsur hilang. Kendaraan yang tadi tumpah ruah di lokasi ini pun berangsur-angsur sepi. Aahh, lega rasanya. Hari ini tugasku telah selesai setelah hampir seharian ikut mengamankan dan menertibkan kendaraan di acara wisuda kampus. Aku duduk sendiri di bawah sebuah pohon. Kucoba meregangkan tubuh yang kaku sambil tetap memperhatikan sekitar. Kuhela nafas panjang sesekali. Kusaksikan tempat ini sudah lengang. Tumpah ruah manusia dan kendaraan sudah tidak ada lagi.
Tiba-tiba seorang lelaki memakai pakaian wisuda lengkap menghampiriku. Aku tidak tahu siapa dia. Dia melempar senyum kepadaku. Kubalas dengan senyuman sekadarnya sambil menahan bingung.
“Terima kasih, Pak, tadi aku ikut diwisuda. O ya, ini undangan untuk bapak. Bapak mungkin berkenan untuk hadir dalam pernikahan kami,” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan kertas berwarna merah muda bersampul plastik transparan.
Aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan dan lakukan ini. Belum ingat aku, siapa dia. Ketika aku sekuat tenaga mengingat-ingat, ia sudah hilang dari hadapanku.
Semilir angin membelai wajahku. Kudengar suara klakson mengudara. Sebuah minibus berjalan meninggalkan lokasi ini. Kulihat sebuah tangan keluar dari jendela mobil. Tampak melambai-lambai ke arahku.
“Sontoloyo, itu kan laki-laki yang sudah empat bulan kucari-cari,” teriakku dalam hati.
Sambil kupandangi undangan merah muda itu, tiba-tiba hatiku berbisik, ”Aku akan hadir pada hari bahagiamu. Akan kukembalikan uangmu. Uang yang telah membuat pikiran dan perasaanku berkecamuk. Semoga kalian berbahagia….”
Dompet di saku belakang celanaku terasa kian panas. Bagai disulut nyala api secara perlahan. Pertistiwa itu kembali teringat. Aku kembali tersenyum kecil…
Semarang, 18 Februari 2009
Tiga
Cerpen Eko Pujiono
Aku hanya seonggok daging seorang diri. Ditemani sepi. Nyeri. Aku takhluk pada pagi, pada siang, pada sore, pada malam, pada fajar. Kini, setiap waktu aku takhluk. Di dalam kamar gelap ini aku sendiri. Merenung dalam kehampaan kalbu. Angan melayang. Tak tentu arah. Semua telah berubah. Yang ada hanya karang dan jurang dalam pengap sesak kehidupan. Aku sendiri!
Sudah tiga hari, aku masih diam. Kian diam. Sudah…., aku menyendiri. Hanya sayup angin di luar kamar yang berderai. Kadang berontak. Menghantam sesukanya apapun yang ditabrak. Aku hanya mendengar…, dari balik tembok. Angin menyerbu lewat lubang angin-angin itu.
Kau membohongiku…., dasar sialan! Kenapa kau lakukan itu padaku? Angin itu telah membawa tabir kepalsuan milikmu. Palsumu membuat aku ogah. Aku marah. Aku tak bisa berbuat apa-apa…. Sendiri!
Kamu yang dulu kuanggap seperti malaikat kini telah jadi iblis. Dalam sanubariku kau seperti setan yang laknat. Menggodaku dengan sesuatu, kemudian menikam. Aku masih ingat ketika kau katakan perkataan yang indah itu. Aku terbuai.
“Berbuat baiklah kepada siapa saja yang berbuat baik, juga kepada siapa saja yang tidak berbuat baik kepadamu. Maafkan segala kesalahan yang ditimpakan terhadap dirimu. Lupakan perkara-perkara yang tidak penting dan yang selalu menyakitkan. Tinggalkan dan tegakkanlah kebenaran dengan segera.” Itu kata-kata indahmu yang sangat menyejukkan. Kau katakan mengutip pernyataan Abu Hanifah.
Waktu itu, aku sedang dilanda suatu persoalan. Aku sedang putus cinta. Kau yang telah membantuku menyelesaikannya. Beribu terima kasih aku ucapakan, waktu itu….
Berkat nasehat ampuhmu itu, sejak saat itu aku berusaha agar kau dekat denganku. Aku kian tertarik kepada pribadimu yang memesona. Luhur budi pekerti, santun, dan sekalipun tidak pernah bermuka masam.
Kemudian, suatu ketika di sebuah taman kota, di bawah temaran sinar lampu, kau menyatakan sesuatu. Bagai kejatuhan bulan. Kau mengajakku menikah. Kau menginginkan aku menjadi istrimu. Menjadikan aku ibu yang akan melahirkan benih-benih cintamu. Hatiku sangat bahagia.
Malam itu juga, kita bahas rencana pernikahan kita.
Selang dua hari, kau datang ke rumahku bersama kedua orangtuamu. Di ruang tamu, bapak-ibuku menyambut kehadiran kalian. Ada pembicaraan serius di antara kedua orang tua kita. Setelah menyuguhkan teh hangat, aku diajak ikut pembicaraan. Inti pembicaraan adalah bahwa kedua orang tuamu ingin menjadikanku sebagai seorang menantu. Waktu itu kau tersenyum ketika aku mengangguk tanda mau. Bapak-ibuku pun setuju.
Satu bulan sesudahnya kita menikah. Acara pernikahan kita biarpun sederhana tapi sangat mengesankan. Banyak orang yang datang mengucapkan selamat dan memberi do’a restu. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan selama hidupku. Aku menjadi istrimu.
Setengah tahun kita menikah, hari-hari yang kita lalui selalu berbahagia. Setiap ada persoalan selalu kita bicarakan baik-baik. Seperti ketika kau merisaukan keadaan rumah tangga kita yang masih menumpang di rumah orang tuaku. Lalu, kita pindah ke kota ini. Hidup kita berbahagia meski sederhana. Kau bekerja sebagai karyawan di pusat perbelanjaan setelah puluhan kali melamar pekerjaan.
Sudah lebih dari setahun kita di kota ini. Sudah satu setengah tahun kita menikah, kita belum dikaruniai seorang anak. Aku berbahagia menjadi istrimu. Kau laki-laki yang luar biasa. Hingga tiga hari yang lalu kau masih seperti malaikat.
Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba saja kau nyatakan sesuatu. Siang itu, di dalam kamar ini pula. Dengan agak basa-basi, lemah-lembut kau nyatakan:
“Kamu tidak mau dengar. Sudah kukatakan jangan paksa aku untuk marah. Kau terus-terusan paksa. Sekarang aku marah!”
”Ada apa?” timpalku dengan keheranan.
Tidak kau jawab.
Kemudian, kamu pergi. Aku tidak tahu apa-apa, selain terhenyak kaget. Mulutku setengah membuka. Tak kusadari kau telah pergi tinggalkan aku sendiri.
Sampai tiga hari yang telah lalu, aku masih ingat kalimat-kalimat terakhir yang kau katakan kepadaku sebelum kau pergi. Ya, sebelum kau meninggalkanku. Harus kau tahu kata-katamu itu masih terngiang di otakku. Mengharu-birukan perasaanku.
Hingga tiga hari yang telah berlalu, aku belum tahu kenapa kau nyatakan itu. Setahuku aku tidak pernah memaksamu. Sekecil apapun bentuknya. Seingatku, aku tidak pernah melakukan tindakan yang seperti kau tuduhkan itu.
Mungkin aku tidak menyadari....
Hanya satu peristiwa yang teringat. Mungkin sebagai pemicu kau lontarkan pernyataan itu, tiga hari lalu. Peristiwa itu terjadi seminggu yang lalu. Di kamar kontrakan kita ini. Waktu itu aku hanya bercanda. Hanya ingin tahu seperti apa amarahmu itu. Sudah hampir dua tahun kita menikah, kita tidak pernah saling marah. Ya, kita tidak pernah saling bertengkar. Sekalipun tidak pernah.
Kau selalu ingatkanku, ”Jangan paksa aku untuk marah. Aku tidak ingin marah.” Kau katakan itu dengan lembut. Masih saja aku ingin melihat kau marah.
Aku hanya merasa aneh saja. Sekian lama kita menjalin pernikahan, tiada pertengkaran sekalipun di antara kita. Sepertinya pernikahan kita ini hambar. Tiada pedas dan kecutnya. Semua tampak manisnya saja. Kau selalu saja bisa membuat aku tersenyum. Kau goda aku. Kau ceritakan hal-hal yang tidak lucu, tetapi aku bisa tertawa. Tawaku bukan karena ceritamu itu. Tingkahmu sangat lucu saat bercerita. Itu yang membuat aku tertawa.
Malamnya kau datang. Matamu merah. Pakaianmu agak kusut. Aku cium aroma parfum dari tubuhmu. Bukan parfum punyamu. Parfum perempuan. Kau membawa tas besar.
Langsung kau membuka lemari pakaian. Kau keluarkan pakaianmu dari dalam lemari. Kemudian kau masukkan ke dalam tas itu.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Kau tergesa-gesa. Bergerak ke sana ke mari. Kau menghampiri aku. Tiba-tiba saja kau nyatakan sesuatu. Bagai guntur di malam buta, kau minta cerai.
”Saya sudah putuskan. Hidup saya tidak akan bahagia jika terus bersamamu. Maaf, saya ingin bercerai darimu,” katamu lembut tapi keras menampar perasaanku.
Kemudian kau keluar rumah. Pergi.
Dengan mengurai air mata, kucoba mencari-cari kemana kau akan pergi. Kulihat dari balik tirai jendela, kau disambut oleh seorang wanita. Dalam remang-remang, kau masuk ke dalam sebuah mobil sedan bersama wanita itu.
Semarang, 17 November 2008
Aku hanya seonggok daging seorang diri. Ditemani sepi. Nyeri. Aku takhluk pada pagi, pada siang, pada sore, pada malam, pada fajar. Kini, setiap waktu aku takhluk. Di dalam kamar gelap ini aku sendiri. Merenung dalam kehampaan kalbu. Angan melayang. Tak tentu arah. Semua telah berubah. Yang ada hanya karang dan jurang dalam pengap sesak kehidupan. Aku sendiri!
Sudah tiga hari, aku masih diam. Kian diam. Sudah…., aku menyendiri. Hanya sayup angin di luar kamar yang berderai. Kadang berontak. Menghantam sesukanya apapun yang ditabrak. Aku hanya mendengar…, dari balik tembok. Angin menyerbu lewat lubang angin-angin itu.
Kau membohongiku…., dasar sialan! Kenapa kau lakukan itu padaku? Angin itu telah membawa tabir kepalsuan milikmu. Palsumu membuat aku ogah. Aku marah. Aku tak bisa berbuat apa-apa…. Sendiri!
Kamu yang dulu kuanggap seperti malaikat kini telah jadi iblis. Dalam sanubariku kau seperti setan yang laknat. Menggodaku dengan sesuatu, kemudian menikam. Aku masih ingat ketika kau katakan perkataan yang indah itu. Aku terbuai.
“Berbuat baiklah kepada siapa saja yang berbuat baik, juga kepada siapa saja yang tidak berbuat baik kepadamu. Maafkan segala kesalahan yang ditimpakan terhadap dirimu. Lupakan perkara-perkara yang tidak penting dan yang selalu menyakitkan. Tinggalkan dan tegakkanlah kebenaran dengan segera.” Itu kata-kata indahmu yang sangat menyejukkan. Kau katakan mengutip pernyataan Abu Hanifah.
Waktu itu, aku sedang dilanda suatu persoalan. Aku sedang putus cinta. Kau yang telah membantuku menyelesaikannya. Beribu terima kasih aku ucapakan, waktu itu….
Berkat nasehat ampuhmu itu, sejak saat itu aku berusaha agar kau dekat denganku. Aku kian tertarik kepada pribadimu yang memesona. Luhur budi pekerti, santun, dan sekalipun tidak pernah bermuka masam.
Kemudian, suatu ketika di sebuah taman kota, di bawah temaran sinar lampu, kau menyatakan sesuatu. Bagai kejatuhan bulan. Kau mengajakku menikah. Kau menginginkan aku menjadi istrimu. Menjadikan aku ibu yang akan melahirkan benih-benih cintamu. Hatiku sangat bahagia.
Malam itu juga, kita bahas rencana pernikahan kita.
Selang dua hari, kau datang ke rumahku bersama kedua orangtuamu. Di ruang tamu, bapak-ibuku menyambut kehadiran kalian. Ada pembicaraan serius di antara kedua orang tua kita. Setelah menyuguhkan teh hangat, aku diajak ikut pembicaraan. Inti pembicaraan adalah bahwa kedua orang tuamu ingin menjadikanku sebagai seorang menantu. Waktu itu kau tersenyum ketika aku mengangguk tanda mau. Bapak-ibuku pun setuju.
Satu bulan sesudahnya kita menikah. Acara pernikahan kita biarpun sederhana tapi sangat mengesankan. Banyak orang yang datang mengucapkan selamat dan memberi do’a restu. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan selama hidupku. Aku menjadi istrimu.
Setengah tahun kita menikah, hari-hari yang kita lalui selalu berbahagia. Setiap ada persoalan selalu kita bicarakan baik-baik. Seperti ketika kau merisaukan keadaan rumah tangga kita yang masih menumpang di rumah orang tuaku. Lalu, kita pindah ke kota ini. Hidup kita berbahagia meski sederhana. Kau bekerja sebagai karyawan di pusat perbelanjaan setelah puluhan kali melamar pekerjaan.
Sudah lebih dari setahun kita di kota ini. Sudah satu setengah tahun kita menikah, kita belum dikaruniai seorang anak. Aku berbahagia menjadi istrimu. Kau laki-laki yang luar biasa. Hingga tiga hari yang lalu kau masih seperti malaikat.
Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba saja kau nyatakan sesuatu. Siang itu, di dalam kamar ini pula. Dengan agak basa-basi, lemah-lembut kau nyatakan:
“Kamu tidak mau dengar. Sudah kukatakan jangan paksa aku untuk marah. Kau terus-terusan paksa. Sekarang aku marah!”
”Ada apa?” timpalku dengan keheranan.
Tidak kau jawab.
Kemudian, kamu pergi. Aku tidak tahu apa-apa, selain terhenyak kaget. Mulutku setengah membuka. Tak kusadari kau telah pergi tinggalkan aku sendiri.
Sampai tiga hari yang telah lalu, aku masih ingat kalimat-kalimat terakhir yang kau katakan kepadaku sebelum kau pergi. Ya, sebelum kau meninggalkanku. Harus kau tahu kata-katamu itu masih terngiang di otakku. Mengharu-birukan perasaanku.
Hingga tiga hari yang telah berlalu, aku belum tahu kenapa kau nyatakan itu. Setahuku aku tidak pernah memaksamu. Sekecil apapun bentuknya. Seingatku, aku tidak pernah melakukan tindakan yang seperti kau tuduhkan itu.
Mungkin aku tidak menyadari....
Hanya satu peristiwa yang teringat. Mungkin sebagai pemicu kau lontarkan pernyataan itu, tiga hari lalu. Peristiwa itu terjadi seminggu yang lalu. Di kamar kontrakan kita ini. Waktu itu aku hanya bercanda. Hanya ingin tahu seperti apa amarahmu itu. Sudah hampir dua tahun kita menikah, kita tidak pernah saling marah. Ya, kita tidak pernah saling bertengkar. Sekalipun tidak pernah.
Kau selalu ingatkanku, ”Jangan paksa aku untuk marah. Aku tidak ingin marah.” Kau katakan itu dengan lembut. Masih saja aku ingin melihat kau marah.
Aku hanya merasa aneh saja. Sekian lama kita menjalin pernikahan, tiada pertengkaran sekalipun di antara kita. Sepertinya pernikahan kita ini hambar. Tiada pedas dan kecutnya. Semua tampak manisnya saja. Kau selalu saja bisa membuat aku tersenyum. Kau goda aku. Kau ceritakan hal-hal yang tidak lucu, tetapi aku bisa tertawa. Tawaku bukan karena ceritamu itu. Tingkahmu sangat lucu saat bercerita. Itu yang membuat aku tertawa.
Malamnya kau datang. Matamu merah. Pakaianmu agak kusut. Aku cium aroma parfum dari tubuhmu. Bukan parfum punyamu. Parfum perempuan. Kau membawa tas besar.
Langsung kau membuka lemari pakaian. Kau keluarkan pakaianmu dari dalam lemari. Kemudian kau masukkan ke dalam tas itu.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Kau tergesa-gesa. Bergerak ke sana ke mari. Kau menghampiri aku. Tiba-tiba saja kau nyatakan sesuatu. Bagai guntur di malam buta, kau minta cerai.
”Saya sudah putuskan. Hidup saya tidak akan bahagia jika terus bersamamu. Maaf, saya ingin bercerai darimu,” katamu lembut tapi keras menampar perasaanku.
Kemudian kau keluar rumah. Pergi.
Dengan mengurai air mata, kucoba mencari-cari kemana kau akan pergi. Kulihat dari balik tirai jendela, kau disambut oleh seorang wanita. Dalam remang-remang, kau masuk ke dalam sebuah mobil sedan bersama wanita itu.
Semarang, 17 November 2008
Sabtu, 15 Agustus 2009
Dompet
HUJAN TIBA-TIBA mencurahi bumi. Usai adzan Subuh dari surau di ujung jalan itu, air mengguyur dengan derasnya. Tidak ada petir yang menyambar. Hanya kilat sesekali menerobos ke dalam kamar lewat lubang udara. Subadi sudah sedari tadi terjaga. Matanya memandangi langit-langit. Tajam. Rasanya dia ogah bangun. Apalagi dingin menyusup. Sayup-sayup suara iqomat terdengar, dia tidak memedulikannya.
Hati Subadi tidak tenang. Ada apa gerangan? Pertanyaan itu tidak bisa ia jawab. Kosong. Berpikir begini, ada hal begitu yang mengganjal. Berpikir begitu, ada begini. Ah, capek rasanya. Terdengar suara lenguhan dan tarikan nafas panjang Subadi.
Di kamar itu Subadi sendiri. Ia seorang bujang yang sudah tidak patut dikatakan bujang lagi. Umurnya sudah berkepala tiga. Ia hidup merantau di kota ini dan bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah lembaga pendidikan kenamaan. Ditanya soal gaji, bisa dibilang pas-pasan. Berkekurangan malah. Dia hanya bisa hidup di kamar kos yang sempit ini. Kunci motor kreditan selalu menemani segenap aktivitasnya. Soal makan, dia sering mampir di warteg, tempat makan murah meriah itu. Urusan pulsa tidak selalu lancar. Untuk menyambung hidup, sering kali dia ngutang. Sejak dulu, hidup Subadi tidak jauh berubah.
Seketika Subadi teringat kejadian seminggu lalu. Di tempat bekerja, sore itu, dia menemukan dompet. Dompet itu berwarna kecokelatan. Agak panjang. Dompet seorang perempuan, pikirnya. Punya siapa kiranya? Tanyanya dalam hati. Dia melihat sekelilingnya. Sepi. Petang sudah menyambut. Malam segera menyusul. Di tempat ini aktivitas berangsur hilang. Subadi sebenarnya sudah akan meninggalkan tempat ini. Di lorong, di antara ruang-ruang kuliah, Subadi terbengong sendiri. Dia merenungi dompet yang kini ada ditangannya itu. Dia duduk di atas bangku panjang tempat mahasiswa menanti waktu kuliah tiba. Dompet itu dia temukan di bawah bangku itu. Persis di bawah tempat dia duduk.
Hatinya bimbang. Subadi bingung. Dompet ini dia kembalikan kepada pemiliknya atau dia ambil isinya. Mungkin di dalamnya banyak uangnya. Dompet ini lumayan tebal. Apalagi saat ini sudah tanggal tua. Isi dompetnya menipis. Ah, kalau tidak dia kembalikan, pasti berdosa. Bukankah mengambil barang milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah sama saja dengan mencuri. Hukumnya haram. Bakal dapat dosa. Begitu Subadi teringat pesan guru ngajinya sewaktu ia masih kecil di kampung halamannya.
Dalam perjalanan pulang, Subadi memikirkan jalan terbaik mengatasi persoalan ini. Tak karuan. Perjalanan pulang yang biasanya menempuh waktu hanya lima belas menit, menjadi molor. Laju sepeda motor yang dikendarai Subadi pelan. Sangat pelan.
***
Di depan pintu gerbang sebuah rumah, Subadi terlihat celingukan. Dia melihat ke sana-ke mari. Bagai pencuri tingkah polahnya. Sesekali dia melihat secarik kartu di tangan kanannya. Kartu itu ia ambil dari dalam dompet yang kini berada dalam genggangan tangan kiri. Terlihat dia mencocokkan sesuatu. Benar, Jalan Kepompong nomor sembilan.
Setelah itu, Subadi memarkirkan kendaraannya seenaknya. Merasa yakin, Subadi menggedor gerbang yang tertutup rapat itu.
“Permisi! Permisi…! Selamat sore, Pak! Bu!” teriak Subadi memanggil si empunya rumah.
Rumah itu besar. Sangat besar. Mewah. Pilar-pilarnya tinggi besar. Rumah itu didominasi warna biru muda. Warna langit. Berbagai jenis tanaman menghias depan rumah. Ada yang tinggi berdaun lebar, ada pula yang seukuran pinggang orang dewasa. Deretan pot yang rapi itu juga berisi tanaman hias. Rumput tampak rapi.
Lama Subadi berteriak-teriak. Namun, tak ada satupun orang yang membukakan pintu. Keringatnya mulai bercucuran. Matahari mulai merangkak menuju ufuk. Dia mulai enggan. Bosan menyergap. Terbersit dalam benaknya untuk pulang saja.
Namun, tunggu dulu. Bagaimana dengan dompet itu? Dompet itu masih dibawa Subadi.
“Mmm.., apa yang harus aku lakukan dengan dompet ini? Dari awal aku sudah berniat mengembalikan dompet ini. Meski hasilnya nihil,” pikir Subadi sambil memandangi dompet itu.
Dengan sedikit gemetar, dompet itu dibuka Subadi. Subadi sudah pernah membuka dompet ini. Dia menemukan sebuah kartu nama dan beberapa uang seribuan lusuh. Berkat kartu nama itu, Subadi bisa berada di tempat ini.
Kali ini Subadi membuka ke celah-celah yang ada di dalam dompet. Selain kartu nama dan beberapa lembar uang seribu itu, dia menemukan STNK atas nama Hartanto tinggal di Jalan Udang 11 Semarang, KTP atas nama Nurul beralamat di Kendal, beberapa kertas kuitansi dan uang seratus ribu terselip di antara sebuah foto seorang laki-laki.
“Aku sudah capek berusaha mengembalikan dompet ini. Lelah. Panas. Kalau usaha ini tidak membuahkan hasil, bukan berarti aku mempunyai niat mengambil isi dompet ini. Jumlah uangnya tak seberapa. Hanya seratus ribu rupiah. Itung-itung sebagai uang lelah bagi aku. Pemilik rumah mewah itu tidak akan jatuh miskin kehilangan uang segitu,” pikir Subadi lagi.
Subadi mengambil uang itu. Lalu, dia meletakkan dompet itu lewat celah yang ada di bawah gerbang. Dia menyorongkannya ke dalam.
“Selain uang, aku tidak membutuhkan barang yang ada di dalam dompet. Mungkin barang-barang itu sangat berharga bagi pemiliknya. Uang ini anggap saja sebagai imbalan. Dompet ini sudah kukembalikan,” bisiknya lirih.
Subadi tidak yakin atas perbuatannya. Mungkin perbuatannya berdosa. Mungkin tidak apa-apa. Dalam hati yang gamang, segera motor itu Subadi arahkan menuju kosnya. Usai sudah urusannya dengan dompet itu.
***
Nurul tidak bisa tidur. Matanya enggan diajak kompromi. Sekarang sudah pukul empat pagi. Dia merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. Nurul belum makan sejak siang tadi. Uangnya habis. Jatah uang dari orangtua Nurul untuknya selama di kota ini telah habis. Dia baru bisa mengambil jatuh uang bulan depan, satu minggu lagi. Nurul kuliah di sebuah lembaga pendidikan kenamaan di kota ini. Sesekali dia mendapat penghasilan tambahan dengan memberi les privat.
Dompet Nurul hilang bersama isinya, tepat satu minggu yang lalu. Beberapa hari yang lalu Nurul mendapat bayaran les bulan ini dari keluarga yang tinggal di sebuah rumah mewah di Jalan Kepompong. Namun, uang itu tak seberapa. Uang itu juga sudah habis tepat pagi tadi untuk sarapan.
Adzan Subuh menggema. Tubuh yang ringkih itu bangkit dari tempat tidur. Terlihat Nurul mengambil mukena. Dia berjalan menuju sumber suara adzan itu. Ketika dia sampai di surau itu, hening menyambut. Setelah berwudhu, dia masuk ke dalam surau itu.
Tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya. Tak lama iqomat mengalun. Segera Nurul mendirikan sholat Subuh berjamaah.
Sambil menahan sakit, Nurul melakukan gerakan sholat sebisanya. Dalam benaknya terlintas pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Tuhan, serta nasib baik dan buruk. Dalam dekapan dingin dan curahan air dari langit, tiba-tiba tubuh Nurul menggigil. Dari bibir Nurul yang tipis itu, keluar suara yang sangat lirih: “Apakah Tuhan itu benar-benar adil?”
Mijen, 13 Juni 2009
(Cerpen ini menginspirasi hilangnya dompet saya. Beberapa hari setelah saya memulai menulis cerpen ini, dompet saya hilang. Benar-benar cerpen yang menginspirasi. Ini lho ketakutan saya yang sempat penulis sampaikan kepada Pak Pras (S. Prasetyo Utomo) pada suatu diskusi kecil bersama teman-teman Vokal dan Segenap jajaran redaksi Suara Kampus--Pak Jito, Mas Hajir, ddl.-- di salah satu villa di Nglimut, Boja, Kendal.)
Hati Subadi tidak tenang. Ada apa gerangan? Pertanyaan itu tidak bisa ia jawab. Kosong. Berpikir begini, ada hal begitu yang mengganjal. Berpikir begitu, ada begini. Ah, capek rasanya. Terdengar suara lenguhan dan tarikan nafas panjang Subadi.
Di kamar itu Subadi sendiri. Ia seorang bujang yang sudah tidak patut dikatakan bujang lagi. Umurnya sudah berkepala tiga. Ia hidup merantau di kota ini dan bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah lembaga pendidikan kenamaan. Ditanya soal gaji, bisa dibilang pas-pasan. Berkekurangan malah. Dia hanya bisa hidup di kamar kos yang sempit ini. Kunci motor kreditan selalu menemani segenap aktivitasnya. Soal makan, dia sering mampir di warteg, tempat makan murah meriah itu. Urusan pulsa tidak selalu lancar. Untuk menyambung hidup, sering kali dia ngutang. Sejak dulu, hidup Subadi tidak jauh berubah.
Seketika Subadi teringat kejadian seminggu lalu. Di tempat bekerja, sore itu, dia menemukan dompet. Dompet itu berwarna kecokelatan. Agak panjang. Dompet seorang perempuan, pikirnya. Punya siapa kiranya? Tanyanya dalam hati. Dia melihat sekelilingnya. Sepi. Petang sudah menyambut. Malam segera menyusul. Di tempat ini aktivitas berangsur hilang. Subadi sebenarnya sudah akan meninggalkan tempat ini. Di lorong, di antara ruang-ruang kuliah, Subadi terbengong sendiri. Dia merenungi dompet yang kini ada ditangannya itu. Dia duduk di atas bangku panjang tempat mahasiswa menanti waktu kuliah tiba. Dompet itu dia temukan di bawah bangku itu. Persis di bawah tempat dia duduk.
Hatinya bimbang. Subadi bingung. Dompet ini dia kembalikan kepada pemiliknya atau dia ambil isinya. Mungkin di dalamnya banyak uangnya. Dompet ini lumayan tebal. Apalagi saat ini sudah tanggal tua. Isi dompetnya menipis. Ah, kalau tidak dia kembalikan, pasti berdosa. Bukankah mengambil barang milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah sama saja dengan mencuri. Hukumnya haram. Bakal dapat dosa. Begitu Subadi teringat pesan guru ngajinya sewaktu ia masih kecil di kampung halamannya.
Dalam perjalanan pulang, Subadi memikirkan jalan terbaik mengatasi persoalan ini. Tak karuan. Perjalanan pulang yang biasanya menempuh waktu hanya lima belas menit, menjadi molor. Laju sepeda motor yang dikendarai Subadi pelan. Sangat pelan.
***
Di depan pintu gerbang sebuah rumah, Subadi terlihat celingukan. Dia melihat ke sana-ke mari. Bagai pencuri tingkah polahnya. Sesekali dia melihat secarik kartu di tangan kanannya. Kartu itu ia ambil dari dalam dompet yang kini berada dalam genggangan tangan kiri. Terlihat dia mencocokkan sesuatu. Benar, Jalan Kepompong nomor sembilan.
Setelah itu, Subadi memarkirkan kendaraannya seenaknya. Merasa yakin, Subadi menggedor gerbang yang tertutup rapat itu.
“Permisi! Permisi…! Selamat sore, Pak! Bu!” teriak Subadi memanggil si empunya rumah.
Rumah itu besar. Sangat besar. Mewah. Pilar-pilarnya tinggi besar. Rumah itu didominasi warna biru muda. Warna langit. Berbagai jenis tanaman menghias depan rumah. Ada yang tinggi berdaun lebar, ada pula yang seukuran pinggang orang dewasa. Deretan pot yang rapi itu juga berisi tanaman hias. Rumput tampak rapi.
Lama Subadi berteriak-teriak. Namun, tak ada satupun orang yang membukakan pintu. Keringatnya mulai bercucuran. Matahari mulai merangkak menuju ufuk. Dia mulai enggan. Bosan menyergap. Terbersit dalam benaknya untuk pulang saja.
Namun, tunggu dulu. Bagaimana dengan dompet itu? Dompet itu masih dibawa Subadi.
“Mmm.., apa yang harus aku lakukan dengan dompet ini? Dari awal aku sudah berniat mengembalikan dompet ini. Meski hasilnya nihil,” pikir Subadi sambil memandangi dompet itu.
Dengan sedikit gemetar, dompet itu dibuka Subadi. Subadi sudah pernah membuka dompet ini. Dia menemukan sebuah kartu nama dan beberapa uang seribuan lusuh. Berkat kartu nama itu, Subadi bisa berada di tempat ini.
Kali ini Subadi membuka ke celah-celah yang ada di dalam dompet. Selain kartu nama dan beberapa lembar uang seribu itu, dia menemukan STNK atas nama Hartanto tinggal di Jalan Udang 11 Semarang, KTP atas nama Nurul beralamat di Kendal, beberapa kertas kuitansi dan uang seratus ribu terselip di antara sebuah foto seorang laki-laki.
“Aku sudah capek berusaha mengembalikan dompet ini. Lelah. Panas. Kalau usaha ini tidak membuahkan hasil, bukan berarti aku mempunyai niat mengambil isi dompet ini. Jumlah uangnya tak seberapa. Hanya seratus ribu rupiah. Itung-itung sebagai uang lelah bagi aku. Pemilik rumah mewah itu tidak akan jatuh miskin kehilangan uang segitu,” pikir Subadi lagi.
Subadi mengambil uang itu. Lalu, dia meletakkan dompet itu lewat celah yang ada di bawah gerbang. Dia menyorongkannya ke dalam.
“Selain uang, aku tidak membutuhkan barang yang ada di dalam dompet. Mungkin barang-barang itu sangat berharga bagi pemiliknya. Uang ini anggap saja sebagai imbalan. Dompet ini sudah kukembalikan,” bisiknya lirih.
Subadi tidak yakin atas perbuatannya. Mungkin perbuatannya berdosa. Mungkin tidak apa-apa. Dalam hati yang gamang, segera motor itu Subadi arahkan menuju kosnya. Usai sudah urusannya dengan dompet itu.
***
Nurul tidak bisa tidur. Matanya enggan diajak kompromi. Sekarang sudah pukul empat pagi. Dia merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. Nurul belum makan sejak siang tadi. Uangnya habis. Jatah uang dari orangtua Nurul untuknya selama di kota ini telah habis. Dia baru bisa mengambil jatuh uang bulan depan, satu minggu lagi. Nurul kuliah di sebuah lembaga pendidikan kenamaan di kota ini. Sesekali dia mendapat penghasilan tambahan dengan memberi les privat.
Dompet Nurul hilang bersama isinya, tepat satu minggu yang lalu. Beberapa hari yang lalu Nurul mendapat bayaran les bulan ini dari keluarga yang tinggal di sebuah rumah mewah di Jalan Kepompong. Namun, uang itu tak seberapa. Uang itu juga sudah habis tepat pagi tadi untuk sarapan.
Adzan Subuh menggema. Tubuh yang ringkih itu bangkit dari tempat tidur. Terlihat Nurul mengambil mukena. Dia berjalan menuju sumber suara adzan itu. Ketika dia sampai di surau itu, hening menyambut. Setelah berwudhu, dia masuk ke dalam surau itu.
Tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya. Tak lama iqomat mengalun. Segera Nurul mendirikan sholat Subuh berjamaah.
Sambil menahan sakit, Nurul melakukan gerakan sholat sebisanya. Dalam benaknya terlintas pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Tuhan, serta nasib baik dan buruk. Dalam dekapan dingin dan curahan air dari langit, tiba-tiba tubuh Nurul menggigil. Dari bibir Nurul yang tipis itu, keluar suara yang sangat lirih: “Apakah Tuhan itu benar-benar adil?”
Mijen, 13 Juni 2009
(Cerpen ini menginspirasi hilangnya dompet saya. Beberapa hari setelah saya memulai menulis cerpen ini, dompet saya hilang. Benar-benar cerpen yang menginspirasi. Ini lho ketakutan saya yang sempat penulis sampaikan kepada Pak Pras (S. Prasetyo Utomo) pada suatu diskusi kecil bersama teman-teman Vokal dan Segenap jajaran redaksi Suara Kampus--Pak Jito, Mas Hajir, ddl.-- di salah satu villa di Nglimut, Boja, Kendal.)
Langganan:
Postingan (Atom)