Teater anak terbukti mampu menghadirkan aktor, aktris dan sutradara panggung dan atau sinema berkelas. Arifin C. Noer, Rendra, Sari Sabda Bhakti Madjid, Suyatna Anirun, Adi Kurdi, Jim Adilimas, Teguh Karya, Putu Wijaya, Butet Kertarajasa, dan Norbertus Riantiarno adalah beberapa nama yang dimaksud. Sayangnya ada sesuatu yang bias dalam pengembangan teater anak.
ISTILAH TEATER berasal dari Bahasa Inggris "theater" atau "theatre", Bahasa Perancis "théâtre" berasal dari Bahasa Yunani "theatron", θέατρον, yang berarti "tempat untuk menonton". Di Yunani seni pertunjukkan ini dikenalkan oleh beberapa tokoh seperti Thucudides (471-398 SM), Plato (428-345 SM), dan Herodotus. Menurut Boen (1971: 14-15), teater mewakili tiga pengertian, yaitu: (a) gedung pertunjukan, (b) publik, dan (c) karangan tonil.
Teater anak digunakan untuk menyebut teater yang dimainkan atau dipentaskan oleh anak. Biarpun tidak menutup kemungkinan ada campur tangan dari orang dewasa dalam penggarapan pementasan teater anak. Toh yang tampil di atas panggung adalah anak. Biasanya teater anak ada di sekolah-sekolah, baik di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA), dan yang sederajat.
Awal mula
Almarhumah Deliana Surawijaya adalah pelopor teater anak di negeri ini. Sejak awal teater anak dibiarkan untuk menemukan eksistensinya sendiri. Dalam perkembangannya, teater anak tetap ada namun tidak untuk hidup layak. Teater anak selama ini hanya diorientasikan untuk mengisi pementasan akhir tahun pelajaran di sekolah, seperti saat kenaikan kelas atau acara wisuda kelulusan. Lebih dari itu, teater anak disiapkan untuk diikutkan lomba teater oleh pihak sekolah. Ironisnya lomba teater anak, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, propinsi maupun nasional, pun jarang sekali. Masalah yang sering dihadapi dalam pengembangan teater anak di sekolah adalah faktor dana.
Kita patut berbangga, di tangan dingin Jose Manua—orang yang dianggap sebagai penerus almarhumah Deliana—teater anak Indonesia, diwakili Teater Tanah Air (TTA: sejak 1988) yang ia pimpin, telah mampu mengukir prestasi di kancah internasional. Terbukti teater anak Indonesia tidak kalah berprestasi dibanding olahraga atau Olimpiade Matematika atau Sains.
Dengan lakon Bumi Ada di Tangan Anak-anak karya Danarto TTA menyabet medali emas dan meraih The Best Performance tingkat Asia Pasifik dalam Asia Pasific Festival of Children Theatre 2004 di Toyama, Jepang. Setelah itu pada tahun 2006 dengan mementaskan Wow karya Putu Wijaya, TTA memboyong 19 medali emas dari hampir seluruh kategori dalam Festival Teater Anak-anak se-Dunia ke-9 di Lingen, Jerman. Ini capaian fenomenal. Spontan, 12 negara mengundang Jose pentas di negara mereka.
Namun, kemenangan mereka disambut dingin di Tanah Air. Prestasi ini rupanya masih belum cukup untuk menarik perhatian dunia pendidikan. Masih sedikit ditemui sekolah-sekolah yang menyelenggarakan ekstrakurikuler teater.
Manfaat teater
Orang menyepelekan kegiatan teater karena melihat hasil akhir sebuah pementasan saja. Kalau pentas itu menghibur, mereka sebut teater penting. Tetapi kalau tidak menghibur dan membuat ruwet pikiran karena tak paham sejak awal sampai akhir pementasan, teater dikatakan tidak penting. Padahal, kepekaan hati seseorang bisa diasah melalui tontonan teater. Hidup ini tidak harus tertawa terus, tetapi perlu melatih otak untuk berpikir. Banyak pertunjukan teater yang mengajak penontonnya untuk melatih otak semacam itu.
Bagi anak, bermain teater akan memberikan banyak manfaat. Anak-anak yang di depan kelas tak berani menatap guru, di atas panggung ia berani menatap begitu banyak penonton. Rasa percaya diri ini akan meresapi kepribadian anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diimbangi dengan pertumbuhan kemampuan anak berasosiasi, berimajinasi, daya pikir, daya empati, daya apresiasi, dan sebagainya, yang membuat anak sadar akan situasi sosial, nilai-nilai kebersamaan, nilai saling menghargai, dan lain-lain. Hal ini yang dimaksud dengan seni teater dapat digunakan mengembangkan "kecerdasan halus" anak.
Bandingkan dengan anak yang sehari-hari berada di depan komputer, dan tak bisa bersosialisasi dengan orang lain, sehingga kecerdasan emosionalnya amat tipis. Umumnya, anak-anak teater cukup menonjol di sekolah, baik kecerdasan maupun kepribadiannya. Rata-rata anak yang bagus di panggung, prestasi belajarnya di sekolah pun di atas rata-rata.
Selain itu, anak akan belajar mengambil hikmah dari setiap peran dan lakon yang dipentaskan. Biasanya teater mementaskan apa saja yang ada dalam kehidupan manusia dan alam. Dari sini anak akan belajar bagaimana hidup sebagai manusia dengan manusia lain secara manusiawi dan dapat hidup seimbang dengan alam.
Mengelola
Jose Manua dalam melatih anak bermain teater memposisikan diri sebagai pihak yang tak mau ikut masuk. Anak diberi kebebasan menemukan perannya sendiri dalam teater. Kuncinya, anak harus lepas dari rasa malu. Setelah itu, seorang anak harus dirangsang rasa imajinasinya, rasa asosiasinya, rasa fantasinya, sehingga mengalami apa yang juga dialami si peran. Hal ini yang dilakukan oleh Jose Manua untuk mengembangkan "kecerdasan halus" anak.
Oleh sebab itu Jose Manua-Jose Manua lain yang ada di daerah-daerah ataupun kota, diharapkan segera dapat menghimpun pikiran dan tenaga untuk dapat mengembangkan teater anak. Dengan segenap ketrampilan yang dimiliki dengan dedikasi tinggi teater anak akan mencapai puncak prestasi dan tetap eksis.
Pihak sekolah dan pemerintah melalui dinas pendidikan pun harus segera mengambil peran strategis untuk pengembangan teater anak di sekolah. Dapat dilakukan dengan mengadakan ekstrakurikuler teater di sekolah atau bagi dinas pendidikan dengan menyelenggarakan perlombaan teater anak secara rutin. Hal ini sesuai dengan visi pendidikan (sekolah) dalam pembentukan kepribadian yang luhur dalam diri anak didik. Karena teater anak terbukti mampu mengembangkan apa yang disebut sebagai "kecerdasan halus" anak.
Masyarakat pun akan diuntungkan dengan adanya teater anak yang semarak dan terus eksis berkembang. Ruang pertunjukkan, baik panggung maupun layar, tidak akan sepi. Masyarakat pun akan menikmati tontonan berkelas dan memikat menggantikan Arifin C. Noer, Rendra, Sari Sabda Bhakti Madjid, Suyatna Anirun, Adi Kurdi, Jim Adilimas, Teguh Karya, Putu Wijaya, Butet Kertarajasa, dan Norbertus Riantiarno pada masa mendatang.
Tampilkan postingan dengan label Diary Tole. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Tole. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Agustus 2009
Sombong dan Aplikasinya
TULISAN INI mencoba menangkap realitas yang terjadi di sekeliling kita. Bahasannya cukup spesifik, sombong dan aplikasinya. Bidikannya adalah sisi positifnya. Alasannya, sudah biasa sombong diartikan sebagai suatu keangkuhan semata. Sesuatu yang buruk dengan hanya membanggakan diri tanpa mau tahu dengan yang lain. Hal lain yang positif belum diungkap.
Uraian ini dimulai dengan contoh perilaku yang mungkin ditunjukkan oleh diri kita atau orang-orang yang kita anggap sombong. Seseorang sebut saja ”S” sedang berkumpul dengan beberapa orang temannya di Perpustakaan Kampus. Mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Si S memakai arloji tangan mengkilap. Pakaian lengan panjangnya digulung ke atas sehingga semakin memperjelas bahwa S sedang memakai arloji yang sangat menawan itu. Sebatas yang diketahui oleh teman-temannya yang ada di situ, S tidak pernah memakai arloji. Ada yang berpikiran bahwa arloji itu pasti harganya sangat mahal.
Ilustrasi di atas hanya sebuah rekaman peristiwa yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Hal itu hanya seper sekian yang ada di sekeliling kita. Masih banyak hal-hal lain yang bisa saja pernah kita alami, mirip atau belum pernah terjadi sama sekali. Kita mungkin juga pernah mengalami hal yang sedemikian itu dengan objek yang berbeda, misalnya handphone, perhiasan, atau sepeda motor baru.
Ada beberapa pendapat mengenai hal tersebut di atas. Pertama, bahwasannya itu merupakan wujud dari kesombongan semata. Kedua, ahhh..., itu hanya biasa saja; tidak ada maksud apa-apa. Ketiga, yang menilai saja yang iri. Agar dapat dengan mudah mengidentifikasi persolan itu, alangkah baiknya kita mengurai arti sombong itu sendiri dari beberapa sudut pandang.
Hakekat sombong
Secara historis, kesombongan yang pertama kali dan dijelaskan oleh Al Qur’an, bermula dari peristiwa pengusiran Iblis dari syurga karena, lantaran niat sombongnya, enggan sujud kepada Nabi Adam a.s tatkala diperintahkan oleh Allah s.w.t. untuk sujud hormat kepadanya. Sebenarnya apa hakekat dari sombong itu?
Dari hadist Rosululloh Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh H.R. Muslim bahwa yang dimaksud dengan kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendah-rendahkan orang lain.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, "Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak layak mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong dari menerima kebenaran dari orang lain". (Jami'ul Ulum Wal Hikam 2/275)
Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, "Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling dahsyat adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).
Dari uraian di atas, kita bisa mendefinikan bahwa hakekat sombong adalah sifat yang menganggap dirinya sempurna segala-galanya, menolak kebenaran yang datangnya dari orang lain, dan menganggap rendah dan remeh orang lain.
Sumber kesombongan
Setidaknya ada lima sumber yang dapat menyebabkan seseorang bersifat sombong, yakni: Pertama, NASAB KETURUNAN. Orang yang punya nasab keturunan yang tinggi menganggap hina orang yang tidak memiliki nasab tersebut, sekalipun ia lebih tinggi ilmu dan amalnya. Kadang sebagian mereka menyombongkan diri lalu menganggap orang lain sebagai pengikut dan budaknya, sehingga ia enggan bergaul dan duduk bersama mereka.
Kedua: HARTA KEKAYAAN. Hal ini biasanya terjadi di kalangan para raja, pemimpin, para konglomerat, pengusaha, tuan tanah, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain. Orang-orang semacam ini bila tidak bertaubat akan berakhir seperti Qorun yang ditelan bumi karena kesombongan terhadap hartanya.
Ketiga: ILMU PENGETAHUAN. Demikian cepatnya kesombongan menjangkiti para ulama (kaum intelektual) sehingga seorang berilmu pengetahuan mudah merasa tinggi dengan ilmu pengetahuannya. Ia merasa paling mulia diantara manusia. Ia memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia disisi Allah ketimbang yang lainnya. Hal demikian bisa terjadi karena ilmu yang didapat lebih berorientasi pada duniawi semata, tanpa dilandasi keikhlasan dan pensucian jiwa dalam menuntutnya. Sebab ilmu yang didapat dengan ikhlas karena Allah dan hati yang jujur akan melahirkan sikap tawadhu’ dan rasa takut kepada Allah.
Keempat: AMAL dan IBADAH. Orang-orang yang zuhud dan para ahli ibadah tidak terlepas pula dari nistanya kesombongan,kepongahan dan tindakan melecehkan orang lain. Dengan amal dan ibadahnya ia merasa yakin akan selamat, sementara orang lain akan binasa. Sabda Rasulullah SAW “Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR. Muslim)
Kelima: KECANTIKAN/KETAMPANAN. Kecantikan atau ketampanan seseorang bisa meyebabkan dirinya sombong dengan cara merendahkan dan menyebut-nyebut keburukan rupa orang lain.
Sombong dalam realita
Biasanya orang sombong diawali dengan adanya sesuatu yang dapat disombongkan, karena ia memiliki sesuatu yang patut disombongkan itu. Seperti disebutkan di atas. ”Kepemilikan” ini bersifat pribadi. Misalnya: rumah mewah pribadi, mobil mewah pribadi, ketenaran pribadi, ketampanan atau kecantikan pribadi, dan macam-macam yang bersifat pribadi.
Selanjutnya, orang sombong akan menunjukkan segala sesuatu kepunyaannya yang bersifat pribadi itu kepada orang lain, bahkan kalau bisa kepada semua orang. Kita mengistilahkannya dengan pamer. Kepameran ini ditujukan agar semua orang atau orang yang tertentu yang diinginkan menjadi tahu bahwasannya yang bersangkutan memiliki sesuatu itu.
Dari sini kemudian muncul istilah sombong karena yang diberitahu tidak memiliki sesuatu seperti orang yang telah dianggapnya sombong itu. Selanjutnya yang terjadi adalah merendahkan orang lain itu, dengan membanding-bandingkan kepemilikan yang dipunyai.
Tingkat kesombongan
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Menganggap sombong
Kalau ada orang yang bercerita pacarnya ada 7 dan mobilnya banyak, ada BMW ada Jaguar, dan keluaran baru semua, sewajarnya kita yang mendengarkan merasa eneg. "Sombong sekali sih?", mungkin akan terbersit di dalam pikiran kita.
Tetapi, sombong tidak selalu tentang meninggikan diri sendiri. Orang juga bisa sombong dalam kekurangan. Entah memamerkan kemiskinannya. Atau kekurangannya. Kejombloannya atau suami yang sering dzholim. Ironis sekali: bahwa ketidakberdayaan dan ketidakmampuan-pun, ternyata, bisa menjadi sebuah aset untuk diceritakan, dengan tinggi hati. Dan itu terjadi di bawah sadar.
Bisa saja anggapan kita mengenai orang lain tentang kesombongannya adalah salah kaprah. Bisa saja kita dengan kekurangan yang dimiliki dan rasa ingin memiliki sama seperti yang dimiliki oleh orang itu, bahkan kalau bisa melebihinya, adalah penyebab kita menganggap orang lain sombong. Padahal apabila dicermati, sesuai dengan hakekat sombong, orang itu tidaklah sombong.
Tidak salah manakala ada sebagian orang yang menilai bahwa kesombongan itu relatif. Ada yang menilai sombong itu bermula dari niat yang datangnya dari hati. Kalau saja ada seseorang dengan ”kepemilikan” pribadi, seperti kelima (sumber sombong) tersebut di atas, tetapi ia tidaklah memiliki niat untuk menyombongkan diri, apakah ini bisa dikatakan sombong?
Apakah suatu kewajaran manakala kita yang menilai orang lain sombong malah memiliki rasa ingin memiliki, rasa iri yang luar biasa? Kemudian kita memiliki prasangka yang salah kepada orang lain itu. Menganggapnya sombong, dan kita sendiri merasa tidak memiliki dosa apa-apa, padahal memiliki rasa iri. Setelah itu menyebarkan prasangka yang belum tentu benar itu kepada semua orang. Apakah ini tidak menyebar fitnah dan bentuk pencemaran nama baik?
Ego dan kesombongan
Kehidupan manusia diawali dengan keadaan bayi yang penuh dengan ketidakberdayaan, karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan yang lemah dan tidak memiliki daya. Kemudian, Tuhan menganugerahkan berbagai macam kelebihan-kelebihan kepada manusia. Karena tidak menyadari akan hal ini, hingga menyebabkan manusia berperilaku sombong.
Orang sombong kebanyakan mengukur kehidupannya dengan materi, dengan sesuatu yang dapat dilihat secara fisik. Agungnya keadaan fisik dan melimpahnya materi, menjadikan manusia cenderung menjadikan hal itu sebagai daya dan kekuatan pada dirinya. Mereka tidak sadar bahwasannya manusia adalah makhluk spiritual. Materi hanyalah perabot keduniawian saja yang melekat pada jasad. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemenuhan kebutuhan jasad kita disebabkan ”setir” atau kontrol yang dilakukan oleh ego.
Dari ego yang berlebih inilah yang menjadi akar dari kesombongan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), kita sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Belajar tidak sombong
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.
Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan dan ngapain juga sombong?
Oleh sebab itu, kita haruslah bisa memanfaatkan kesombongan. Entah sombong yang berada pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. Kalau saja kita tidak menganggap orang lain sombong, sehingga orang lain sewajarnya tidaklah menganggap diri kita ini sombong. Kita bisa jadikan kesombongan sebagai teman belajar yang baik mengenai kehidupan untuk mencapai hidup yang sejati. (dari berbagai sumber)
Uraian ini dimulai dengan contoh perilaku yang mungkin ditunjukkan oleh diri kita atau orang-orang yang kita anggap sombong. Seseorang sebut saja ”S” sedang berkumpul dengan beberapa orang temannya di Perpustakaan Kampus. Mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Si S memakai arloji tangan mengkilap. Pakaian lengan panjangnya digulung ke atas sehingga semakin memperjelas bahwa S sedang memakai arloji yang sangat menawan itu. Sebatas yang diketahui oleh teman-temannya yang ada di situ, S tidak pernah memakai arloji. Ada yang berpikiran bahwa arloji itu pasti harganya sangat mahal.
Ilustrasi di atas hanya sebuah rekaman peristiwa yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Hal itu hanya seper sekian yang ada di sekeliling kita. Masih banyak hal-hal lain yang bisa saja pernah kita alami, mirip atau belum pernah terjadi sama sekali. Kita mungkin juga pernah mengalami hal yang sedemikian itu dengan objek yang berbeda, misalnya handphone, perhiasan, atau sepeda motor baru.
Ada beberapa pendapat mengenai hal tersebut di atas. Pertama, bahwasannya itu merupakan wujud dari kesombongan semata. Kedua, ahhh..., itu hanya biasa saja; tidak ada maksud apa-apa. Ketiga, yang menilai saja yang iri. Agar dapat dengan mudah mengidentifikasi persolan itu, alangkah baiknya kita mengurai arti sombong itu sendiri dari beberapa sudut pandang.
Hakekat sombong
Secara historis, kesombongan yang pertama kali dan dijelaskan oleh Al Qur’an, bermula dari peristiwa pengusiran Iblis dari syurga karena, lantaran niat sombongnya, enggan sujud kepada Nabi Adam a.s tatkala diperintahkan oleh Allah s.w.t. untuk sujud hormat kepadanya. Sebenarnya apa hakekat dari sombong itu?
Dari hadist Rosululloh Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh H.R. Muslim bahwa yang dimaksud dengan kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendah-rendahkan orang lain.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, "Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak layak mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong dari menerima kebenaran dari orang lain". (Jami'ul Ulum Wal Hikam 2/275)
Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, "Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling dahsyat adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).
Dari uraian di atas, kita bisa mendefinikan bahwa hakekat sombong adalah sifat yang menganggap dirinya sempurna segala-galanya, menolak kebenaran yang datangnya dari orang lain, dan menganggap rendah dan remeh orang lain.
Sumber kesombongan
Setidaknya ada lima sumber yang dapat menyebabkan seseorang bersifat sombong, yakni: Pertama, NASAB KETURUNAN. Orang yang punya nasab keturunan yang tinggi menganggap hina orang yang tidak memiliki nasab tersebut, sekalipun ia lebih tinggi ilmu dan amalnya. Kadang sebagian mereka menyombongkan diri lalu menganggap orang lain sebagai pengikut dan budaknya, sehingga ia enggan bergaul dan duduk bersama mereka.
Kedua: HARTA KEKAYAAN. Hal ini biasanya terjadi di kalangan para raja, pemimpin, para konglomerat, pengusaha, tuan tanah, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain. Orang-orang semacam ini bila tidak bertaubat akan berakhir seperti Qorun yang ditelan bumi karena kesombongan terhadap hartanya.
Ketiga: ILMU PENGETAHUAN. Demikian cepatnya kesombongan menjangkiti para ulama (kaum intelektual) sehingga seorang berilmu pengetahuan mudah merasa tinggi dengan ilmu pengetahuannya. Ia merasa paling mulia diantara manusia. Ia memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia disisi Allah ketimbang yang lainnya. Hal demikian bisa terjadi karena ilmu yang didapat lebih berorientasi pada duniawi semata, tanpa dilandasi keikhlasan dan pensucian jiwa dalam menuntutnya. Sebab ilmu yang didapat dengan ikhlas karena Allah dan hati yang jujur akan melahirkan sikap tawadhu’ dan rasa takut kepada Allah.
Keempat: AMAL dan IBADAH. Orang-orang yang zuhud dan para ahli ibadah tidak terlepas pula dari nistanya kesombongan,kepongahan dan tindakan melecehkan orang lain. Dengan amal dan ibadahnya ia merasa yakin akan selamat, sementara orang lain akan binasa. Sabda Rasulullah SAW “Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR. Muslim)
Kelima: KECANTIKAN/KETAMPANAN. Kecantikan atau ketampanan seseorang bisa meyebabkan dirinya sombong dengan cara merendahkan dan menyebut-nyebut keburukan rupa orang lain.
Sombong dalam realita
Biasanya orang sombong diawali dengan adanya sesuatu yang dapat disombongkan, karena ia memiliki sesuatu yang patut disombongkan itu. Seperti disebutkan di atas. ”Kepemilikan” ini bersifat pribadi. Misalnya: rumah mewah pribadi, mobil mewah pribadi, ketenaran pribadi, ketampanan atau kecantikan pribadi, dan macam-macam yang bersifat pribadi.
Selanjutnya, orang sombong akan menunjukkan segala sesuatu kepunyaannya yang bersifat pribadi itu kepada orang lain, bahkan kalau bisa kepada semua orang. Kita mengistilahkannya dengan pamer. Kepameran ini ditujukan agar semua orang atau orang yang tertentu yang diinginkan menjadi tahu bahwasannya yang bersangkutan memiliki sesuatu itu.
Dari sini kemudian muncul istilah sombong karena yang diberitahu tidak memiliki sesuatu seperti orang yang telah dianggapnya sombong itu. Selanjutnya yang terjadi adalah merendahkan orang lain itu, dengan membanding-bandingkan kepemilikan yang dipunyai.
Tingkat kesombongan
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Menganggap sombong
Kalau ada orang yang bercerita pacarnya ada 7 dan mobilnya banyak, ada BMW ada Jaguar, dan keluaran baru semua, sewajarnya kita yang mendengarkan merasa eneg. "Sombong sekali sih?", mungkin akan terbersit di dalam pikiran kita.
Tetapi, sombong tidak selalu tentang meninggikan diri sendiri. Orang juga bisa sombong dalam kekurangan. Entah memamerkan kemiskinannya. Atau kekurangannya. Kejombloannya atau suami yang sering dzholim. Ironis sekali: bahwa ketidakberdayaan dan ketidakmampuan-pun, ternyata, bisa menjadi sebuah aset untuk diceritakan, dengan tinggi hati. Dan itu terjadi di bawah sadar.
Bisa saja anggapan kita mengenai orang lain tentang kesombongannya adalah salah kaprah. Bisa saja kita dengan kekurangan yang dimiliki dan rasa ingin memiliki sama seperti yang dimiliki oleh orang itu, bahkan kalau bisa melebihinya, adalah penyebab kita menganggap orang lain sombong. Padahal apabila dicermati, sesuai dengan hakekat sombong, orang itu tidaklah sombong.
Tidak salah manakala ada sebagian orang yang menilai bahwa kesombongan itu relatif. Ada yang menilai sombong itu bermula dari niat yang datangnya dari hati. Kalau saja ada seseorang dengan ”kepemilikan” pribadi, seperti kelima (sumber sombong) tersebut di atas, tetapi ia tidaklah memiliki niat untuk menyombongkan diri, apakah ini bisa dikatakan sombong?
Apakah suatu kewajaran manakala kita yang menilai orang lain sombong malah memiliki rasa ingin memiliki, rasa iri yang luar biasa? Kemudian kita memiliki prasangka yang salah kepada orang lain itu. Menganggapnya sombong, dan kita sendiri merasa tidak memiliki dosa apa-apa, padahal memiliki rasa iri. Setelah itu menyebarkan prasangka yang belum tentu benar itu kepada semua orang. Apakah ini tidak menyebar fitnah dan bentuk pencemaran nama baik?
Ego dan kesombongan
Kehidupan manusia diawali dengan keadaan bayi yang penuh dengan ketidakberdayaan, karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan yang lemah dan tidak memiliki daya. Kemudian, Tuhan menganugerahkan berbagai macam kelebihan-kelebihan kepada manusia. Karena tidak menyadari akan hal ini, hingga menyebabkan manusia berperilaku sombong.
Orang sombong kebanyakan mengukur kehidupannya dengan materi, dengan sesuatu yang dapat dilihat secara fisik. Agungnya keadaan fisik dan melimpahnya materi, menjadikan manusia cenderung menjadikan hal itu sebagai daya dan kekuatan pada dirinya. Mereka tidak sadar bahwasannya manusia adalah makhluk spiritual. Materi hanyalah perabot keduniawian saja yang melekat pada jasad. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemenuhan kebutuhan jasad kita disebabkan ”setir” atau kontrol yang dilakukan oleh ego.
Dari ego yang berlebih inilah yang menjadi akar dari kesombongan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), kita sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Belajar tidak sombong
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.
Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan dan ngapain juga sombong?
Oleh sebab itu, kita haruslah bisa memanfaatkan kesombongan. Entah sombong yang berada pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. Kalau saja kita tidak menganggap orang lain sombong, sehingga orang lain sewajarnya tidaklah menganggap diri kita ini sombong. Kita bisa jadikan kesombongan sebagai teman belajar yang baik mengenai kehidupan untuk mencapai hidup yang sejati. (dari berbagai sumber)
Tole Belajar Berhitung
Satu ditambah satu, dua … dua ditambah dua, empat. Satu ditambah satu, dua dan dua ditambah dua, empat …
Itu terdengar dari Perempuan Tua dalam naskah drama Malam Terakhir karya Yukio Mishima yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar terbitan Pustaka Jaya 1979.
Dalam “pelajaran Matematika” yang cukup “sepele” itu, penjumlahan menjadi sesuatu yang menarik jika diungkapkan dalam drama. Apalagi kalau kita cermati lebih detail lagi. Kenapa? Bukankah dimanapun di sudut dunia ini satu ditambah satu samadengan dua, dua ditambah dua semadengan empat; apa yang beda? Tidak! Semua sama?
Anak-anak TK jika ditanya oleh gurunya soal penjumlahan itu pasti merujuk dengan jawaban itu. Anak SD pun sama. Siswa SMP, SMA, bahkan mahasiswa sekalipun pasti juga begitu. Adakah satu ditambah satu samadengan tiga atau empat? Atau dengan jawaban lain dan jawaban itu merupakan jawaban yang benar?
Kemungkinan untuk mendapatkan jawaban semacam itu ada. Bahwa satu ditambah satu tidak harus jawabannya dua, kemungkinan ada benarnya. Bahwa dua ditambah dua tidak harus jawabannya empat, kemungkinan ada benarnya.
Kemungkinan pertama jawaban yang menyatakan bahwa satu ditambah satu tidak harus hasilnya dua, saya dapat ketika saya masih bersekolah di Sekolah Dasar. Waktu itu saya masih duduk di kelas lima, tahun 1998.
Dalam guyonan dengan beberapa teman, saya diberi pertanyaan oleh salah satu teman, “Tole, satu ditambah satu berapa?”
Saya bingung menjawabnya biarpun saya tahu bahwa satu ditambah satu samadengan dua. Saya berpikir, ”Ini pasti pertanyaan jebakan.”
“Bisa ndak!”
“Dua, kan?” jawabku.
“Salah tahu! Satu ditambah satu itu jawabannya tergantung. Ambil contoh, bapakmu ada satu ditambah ibumu ada satu hasilnya kamu dan dua adikmu, jadinya lima. Hua..ha..ha.ha…”
Suasana menjadi meledak oleh tawa. Oooo…., begitu tho.
***
Kemungkinan kedua jawaban yang menyatakan bahwa satu ditambah satu tidak harus hasilnya dua, saya dapat ketika selama beberapa tahun bergaul dengan seseorang bernama Nugroho Heru, salah satu orang yang nyentrik di dunia ini. Katanya, satu ditambah satu jawabannya tidak harus dua, tergantung “KESEPAKATAN”.
Kenapa begitu? Sistem bilangan yang kita pakai saat ini adalah hasil kesepakatan kita. Kalau dari kesepakatan, urutan bilangan adalah satu, tiga, dua, lima, empat, dst., bukan satu, dua, tiga, empat, lima, dst., maka benar satu ditambah satu sama dengan tiga.
Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari “hitungan ngawur” ini? Yang pasti kita menjadi tahu bahwa kemungkinan-kemungkinan itu selalu ada. Bahwa di sisi kemungkinan yang sudah pasti, masih ada kemungkinan lain yang menyertainya. Entah itu benar atau salah, baik atau buruk itu bergantung pada “kesepakatan” pada diri kita dan pada diri orang-orang di muka bumi ini untuk mengakui dan meyakini dengan bukti-bukti bahwa itu benar atau salah, baik atau buruk.
“Waaah…., pelajaran sederhana,” kata Tole sambil tersenyum kecil berlalu meninggalkan panggung pementasan.
Itu terdengar dari Perempuan Tua dalam naskah drama Malam Terakhir karya Yukio Mishima yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar terbitan Pustaka Jaya 1979.
Dalam “pelajaran Matematika” yang cukup “sepele” itu, penjumlahan menjadi sesuatu yang menarik jika diungkapkan dalam drama. Apalagi kalau kita cermati lebih detail lagi. Kenapa? Bukankah dimanapun di sudut dunia ini satu ditambah satu samadengan dua, dua ditambah dua semadengan empat; apa yang beda? Tidak! Semua sama?
Anak-anak TK jika ditanya oleh gurunya soal penjumlahan itu pasti merujuk dengan jawaban itu. Anak SD pun sama. Siswa SMP, SMA, bahkan mahasiswa sekalipun pasti juga begitu. Adakah satu ditambah satu samadengan tiga atau empat? Atau dengan jawaban lain dan jawaban itu merupakan jawaban yang benar?
Kemungkinan untuk mendapatkan jawaban semacam itu ada. Bahwa satu ditambah satu tidak harus jawabannya dua, kemungkinan ada benarnya. Bahwa dua ditambah dua tidak harus jawabannya empat, kemungkinan ada benarnya.
Kemungkinan pertama jawaban yang menyatakan bahwa satu ditambah satu tidak harus hasilnya dua, saya dapat ketika saya masih bersekolah di Sekolah Dasar. Waktu itu saya masih duduk di kelas lima, tahun 1998.
Dalam guyonan dengan beberapa teman, saya diberi pertanyaan oleh salah satu teman, “Tole, satu ditambah satu berapa?”
Saya bingung menjawabnya biarpun saya tahu bahwa satu ditambah satu samadengan dua. Saya berpikir, ”Ini pasti pertanyaan jebakan.”
“Bisa ndak!”
“Dua, kan?” jawabku.
“Salah tahu! Satu ditambah satu itu jawabannya tergantung. Ambil contoh, bapakmu ada satu ditambah ibumu ada satu hasilnya kamu dan dua adikmu, jadinya lima. Hua..ha..ha.ha…”
Suasana menjadi meledak oleh tawa. Oooo…., begitu tho.
***
Kemungkinan kedua jawaban yang menyatakan bahwa satu ditambah satu tidak harus hasilnya dua, saya dapat ketika selama beberapa tahun bergaul dengan seseorang bernama Nugroho Heru, salah satu orang yang nyentrik di dunia ini. Katanya, satu ditambah satu jawabannya tidak harus dua, tergantung “KESEPAKATAN”.
Kenapa begitu? Sistem bilangan yang kita pakai saat ini adalah hasil kesepakatan kita. Kalau dari kesepakatan, urutan bilangan adalah satu, tiga, dua, lima, empat, dst., bukan satu, dua, tiga, empat, lima, dst., maka benar satu ditambah satu sama dengan tiga.
Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari “hitungan ngawur” ini? Yang pasti kita menjadi tahu bahwa kemungkinan-kemungkinan itu selalu ada. Bahwa di sisi kemungkinan yang sudah pasti, masih ada kemungkinan lain yang menyertainya. Entah itu benar atau salah, baik atau buruk itu bergantung pada “kesepakatan” pada diri kita dan pada diri orang-orang di muka bumi ini untuk mengakui dan meyakini dengan bukti-bukti bahwa itu benar atau salah, baik atau buruk.
“Waaah…., pelajaran sederhana,” kata Tole sambil tersenyum kecil berlalu meninggalkan panggung pementasan.
Tole Ngajari Tersenyum, Menyapa, dan Berbicara
Hari ini Tole mulai masuk kuliah. Hatinya tampak sangat sumringah biarpun polahnya terkesan terburu-buru. Ia tidak ingin terlambat sedetik pun. Maka dari itu sejak pagi Tole sudah bolak-balik ke sana ke mari untuk menyiapkan semuanya. Yang pertama-tama ia siapkan adalah dirinya sendiri. Ia bangun tidur sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, dan menyiapkan buku-bukunya sendiri. Semuanya (pokoknya) ia siapkan sendiri tanpa bantuan seorang pun. Maklum kini Tole jauh dari keluarga, tetangga, dan teman-temannya yang biasa ia mintai tolong. Tole ngekos; letaknya sekitar 999 meter dari kampusnya yang megah. Sekos dengannya ada enam orang; semuanya belum ia kenal.
Jam dinding di ruang tamu rumah induk semangnya baru saja berdetak tujuh kali. Tole sudah siap rapi dengan dirinya sendiri. Ia sudah siap untuk berangkat kuliah. Jadwal kuliahnya untuk yang ter-wahid hari ini jam 07.30 WIB. Dalam penanggalan Islam, hari ini, tanggal ini, tahun ini, sudah masuk bulan Ramadhan. Sebagi muslim yang (merasa) beriman sekaligus bertaqwa, Tole berpuasa.
Senyumnya mengembang lembut dan mesra, sedetik setelah ia membuka pintu rumah kos-kosannya. Ia disambut ramah oleh sinar mentari yang hangat. Langkah penuh semangat menuntun Tole menuju kampus tercintanya. Seratus-dua ratus meter mulailah banyak orang yang Tole temui dalam perjalanan. Kebanyakan searah dengan tujuannya. Dalam hatinya, Tole menyapa, ”Hai.., kawan! Apa kabar?”
Setibanya di kampus, Tole langsung menuju ke ruang yang sesuai dengan jadwal kuliahnya, di lantai empat ruang sekian. Di depan ruangan yang ia maksud, telah berkumpul beberapa teman, yang menurut perkiraannya, sekelas. Tole melempar senyum, kemudian dibalas oleh mereka. Lempar-lemparan senyum berlangsung lama. Senyum-senyum itu saling berbalasan. Sesekali diimbangi dengan anggukan kepala. Senyum itu terhenti manakala Tole telah mendudukkan bokong besar miliknya di kursi deretan kedua dari depan, di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba suasana ruangan menjadi mencekam. Hening. Ruangan ini serasa kuburan. Sesekali diselingi cekikikan dan lolongan orang di luar ruangan. Tole kini cemberut. Orang-orang yang ia pandang di dalam ruangan ini tampak arogan dan menakutkan laiknya setan. Bibir Tole cembetut seperti moncong sapi. Matanya tampak jelalatan menghidar dari pandangan yang mengerikan. Dalam benaknya ia berpikir, “Ini orang apa manusia? Kalau orang kok seperti orang-orangan. Kalau manusia kok tidak manusiawi.”
Lima belas menit, serasa di rumah hsntu, telah berlalu; berhenti. Seorang paruh baya dengan pakaian rapi, masuk ke dalam ruangan dan sambil tersenyum beliau menyapa, “Selamat pagi. Apa kabar?” Dijawab kompak, “Pagi! Baik-baik saja.”
Orang yang menyapa itu tadi kemudian memperkenalkan diri. Namanya XXX, panggilan akrabya Pak X. Ia dosen yang akan mengampu matakuliah tertentu yang diambil oleh Tole kali ini. Pak X tampak supel. Gaya bicaranya terkesan bersahabat. Pak X mulai mengajak bicara setiap orang yang ada di dalam ruangan ini, tak terkecuali Tole. Macam-macam yang dibicarakan. Dari topik A-Z. Mulai satu per satu orang-orang yang ada di dalam ruangan ini diberi pertanyaan. Macam-macam pula yang Pak X tanyakan. Dari sekian pertanyaan yang macam-macam itu, ada dua pertanyaan yang tidak macam-macam, yakni: “Siapa namamu?” Dan, “darimana asalnya?” kedua pertanyaan ini dilontarkan Pak X sekali saja, tapi untuk semuanya: “Sekali untuk Semua”.
Setelah mutar-muter, karna acak, pertanyaan yang macam-macam itu tiba gilirannya pada Tole. Dengan riang dan senyum yang masih mengembang, Tole menjawab, “Nama saya Tole Kusudiharjo. Alamat ngekos. Asli Jogjakarta.” Yang seterusnya ini pertanyaannya aneh-aneh, tidak hanya dari Pak X, tapi juga dari orang-orang seruangan dengan Tole.
“Cita-cita, Mas?”
“Hobi?”
“Sudah punya pacar?”
“Suit… suitttt…..!!!”
“Kenapa memilih kuliah di sini?”
“Emmm….. boh seterusnya. Pertanyaannya aneh-aneh.”
***
Dari cerita yang nyata “karangan” di atas, ada tiga hal kurang penting (tapi bermakna) yang ingin penulis tunjukkan. Ketiganya terkadang “murah” bagi sebagian orang dan “mahal” bagi sebagiannya lagi—entah pula berapa persentasenya. Ketiga hal ini adalah “Senyum, Sapa, dan Bicara”.
Bagi orang yang menerapkan senyum itu murahan, tersenyum menjadi sesuatu yang mahal karena ia harus menukarnya dengan biaya perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Dan sebaliknya; bagi orang yang menerapkan senyum itu mahal, tersenyum menjadi sesuatu yang murah karena orang lain tidak begitu tertarik dengan senyumannya. Istilahnya: “Sok jual mahal, jadinya tidak ada yang nawar, ngelirik aja emoh”. Begitu pula dengan dua hal berikutnya: Sapa dan Bicara. Kalau banyak sapa bikin jengkel; tidak menyapa sok ngartis. Kalau banyak bicara tanpa guna disebut cerewet; ditunggu-tunggu bicaranya tapi tak jua bicara-bicara, huh….! Sungguh terlalu.
Senyum
Senyuman manis yang disemaikan oleh seseorang—sepengamatan penulis—mengakibatkan orang lain yang melihat senyuman manis itu akan juga membalas dengan senyuman. Apalagi senyuman manis itu dinikmati dan diresapi dalam kalbu. Alangkah terasa nikmat sekali apabila senyuman itu berasal dari orang-orang yang memberikan senyuman itu dengan setulus hati. Dari kekasih, sahabat, orang tua, saudara, guru/dosen, orang cantik/ganteng, orang baik, misalnya. Senyuman yang manis dari hati yang tulus, menurut penyair, bagi orang yang mengalami kebimbangan hati bagaikan “Air yang menyejukkan di padang pasir yang terik”. Bahkan karena senyuman, seseorang bisa terjerat hatinya dan membuat ia jatuh cinta.
Sapa
Menyapa atau memberi salam adalah suatu bentuk penghormatan. Jika ada orang yang memberi salam, maka sepatutnya dibalas dengan salam pula (yang baik). Melalui salam akan menjalin ikatan dan interaksi yang saling berkesinambungan yang mengikat satu sama lain. Dengan mengucapkan salam, timbullah kedekatan, keterkaitan antar hati, serta penguatan kasih sayang di hati para manusia. Rosululloh SAW bersabda, “Tiga hal yang menjadikan engkau mendapatkan kasih sayang saudaramu, yaitu engkau ucapkan salam ketika bertemu, meluaskan tempat duduk baginya dan engkau memanggilnya dengan nama yang sangat disukainya.”
Bicara
Saling bicara atau ngobrol adalah bentuk dari ramah tamah. Keramah-tamahan di antara manusia adalah sesuatu yang juga dapat mengikat di antaranya. Keterikatan itu dapat berupa suatu jalinan kasih sayang yang mengasyikkan. Penulis beritahu: ada jenis manusia yang kuat ngobrol berjam-jam lantaran mencurahkan kekangenannya dengan lain jenis manusia karena merupakan kekasih hati atau sejenisnya karena lama tidak bertemu, sahabat karib gitu. Ada pula jenis manusia yang sangat perkasa karena betah ngobrol macam-macam hal dan terkadang yang dibahas hal yang aneh-aneh dalam forum yang sangat terkenal bernama ngerumpi atau ngegosip.
Cerita dan uraian singkat di atas keutamaannya hanya mengajak kepada siapapun untuk membiasakan diri tersenyum, menyapa, dan berbicara secukupnya demi makna yang terkandung dalam ketiga hal tersebut. Bahwasannya manusia sebagai mahkluk sosial dituntut untuk bersosialisasi yang baik dan dengan cara yang baik. Ketiganya merupakan sarana yang baik untuk bersosialisasi dengan siapapun yang sama-sama saling menginginkan cara-cara yang baik dan tentunya akan menyenangkan di antara keduanya. Bagi yang cinta damai, menginginkan jalinan emosi yang mengesankan, menginginkan kasih sayang, maka lakukanlah ketiganya. Kepada siapapun tersenyumlah, menyapalah, dan berbicaralah, sebelum ketiganya dilarang. Salam dari Tole.
Jam dinding di ruang tamu rumah induk semangnya baru saja berdetak tujuh kali. Tole sudah siap rapi dengan dirinya sendiri. Ia sudah siap untuk berangkat kuliah. Jadwal kuliahnya untuk yang ter-wahid hari ini jam 07.30 WIB. Dalam penanggalan Islam, hari ini, tanggal ini, tahun ini, sudah masuk bulan Ramadhan. Sebagi muslim yang (merasa) beriman sekaligus bertaqwa, Tole berpuasa.
Senyumnya mengembang lembut dan mesra, sedetik setelah ia membuka pintu rumah kos-kosannya. Ia disambut ramah oleh sinar mentari yang hangat. Langkah penuh semangat menuntun Tole menuju kampus tercintanya. Seratus-dua ratus meter mulailah banyak orang yang Tole temui dalam perjalanan. Kebanyakan searah dengan tujuannya. Dalam hatinya, Tole menyapa, ”Hai.., kawan! Apa kabar?”
Setibanya di kampus, Tole langsung menuju ke ruang yang sesuai dengan jadwal kuliahnya, di lantai empat ruang sekian. Di depan ruangan yang ia maksud, telah berkumpul beberapa teman, yang menurut perkiraannya, sekelas. Tole melempar senyum, kemudian dibalas oleh mereka. Lempar-lemparan senyum berlangsung lama. Senyum-senyum itu saling berbalasan. Sesekali diimbangi dengan anggukan kepala. Senyum itu terhenti manakala Tole telah mendudukkan bokong besar miliknya di kursi deretan kedua dari depan, di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba suasana ruangan menjadi mencekam. Hening. Ruangan ini serasa kuburan. Sesekali diselingi cekikikan dan lolongan orang di luar ruangan. Tole kini cemberut. Orang-orang yang ia pandang di dalam ruangan ini tampak arogan dan menakutkan laiknya setan. Bibir Tole cembetut seperti moncong sapi. Matanya tampak jelalatan menghidar dari pandangan yang mengerikan. Dalam benaknya ia berpikir, “Ini orang apa manusia? Kalau orang kok seperti orang-orangan. Kalau manusia kok tidak manusiawi.”
Lima belas menit, serasa di rumah hsntu, telah berlalu; berhenti. Seorang paruh baya dengan pakaian rapi, masuk ke dalam ruangan dan sambil tersenyum beliau menyapa, “Selamat pagi. Apa kabar?” Dijawab kompak, “Pagi! Baik-baik saja.”
Orang yang menyapa itu tadi kemudian memperkenalkan diri. Namanya XXX, panggilan akrabya Pak X. Ia dosen yang akan mengampu matakuliah tertentu yang diambil oleh Tole kali ini. Pak X tampak supel. Gaya bicaranya terkesan bersahabat. Pak X mulai mengajak bicara setiap orang yang ada di dalam ruangan ini, tak terkecuali Tole. Macam-macam yang dibicarakan. Dari topik A-Z. Mulai satu per satu orang-orang yang ada di dalam ruangan ini diberi pertanyaan. Macam-macam pula yang Pak X tanyakan. Dari sekian pertanyaan yang macam-macam itu, ada dua pertanyaan yang tidak macam-macam, yakni: “Siapa namamu?” Dan, “darimana asalnya?” kedua pertanyaan ini dilontarkan Pak X sekali saja, tapi untuk semuanya: “Sekali untuk Semua”.
Setelah mutar-muter, karna acak, pertanyaan yang macam-macam itu tiba gilirannya pada Tole. Dengan riang dan senyum yang masih mengembang, Tole menjawab, “Nama saya Tole Kusudiharjo. Alamat ngekos. Asli Jogjakarta.” Yang seterusnya ini pertanyaannya aneh-aneh, tidak hanya dari Pak X, tapi juga dari orang-orang seruangan dengan Tole.
“Cita-cita, Mas?”
“Hobi?”
“Sudah punya pacar?”
“Suit… suitttt…..!!!”
“Kenapa memilih kuliah di sini?”
“Emmm….. boh seterusnya. Pertanyaannya aneh-aneh.”
***
Dari cerita yang nyata “karangan” di atas, ada tiga hal kurang penting (tapi bermakna) yang ingin penulis tunjukkan. Ketiganya terkadang “murah” bagi sebagian orang dan “mahal” bagi sebagiannya lagi—entah pula berapa persentasenya. Ketiga hal ini adalah “Senyum, Sapa, dan Bicara”.
Bagi orang yang menerapkan senyum itu murahan, tersenyum menjadi sesuatu yang mahal karena ia harus menukarnya dengan biaya perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Dan sebaliknya; bagi orang yang menerapkan senyum itu mahal, tersenyum menjadi sesuatu yang murah karena orang lain tidak begitu tertarik dengan senyumannya. Istilahnya: “Sok jual mahal, jadinya tidak ada yang nawar, ngelirik aja emoh”. Begitu pula dengan dua hal berikutnya: Sapa dan Bicara. Kalau banyak sapa bikin jengkel; tidak menyapa sok ngartis. Kalau banyak bicara tanpa guna disebut cerewet; ditunggu-tunggu bicaranya tapi tak jua bicara-bicara, huh….! Sungguh terlalu.
Senyum
Senyuman manis yang disemaikan oleh seseorang—sepengamatan penulis—mengakibatkan orang lain yang melihat senyuman manis itu akan juga membalas dengan senyuman. Apalagi senyuman manis itu dinikmati dan diresapi dalam kalbu. Alangkah terasa nikmat sekali apabila senyuman itu berasal dari orang-orang yang memberikan senyuman itu dengan setulus hati. Dari kekasih, sahabat, orang tua, saudara, guru/dosen, orang cantik/ganteng, orang baik, misalnya. Senyuman yang manis dari hati yang tulus, menurut penyair, bagi orang yang mengalami kebimbangan hati bagaikan “Air yang menyejukkan di padang pasir yang terik”. Bahkan karena senyuman, seseorang bisa terjerat hatinya dan membuat ia jatuh cinta.
Sapa
Menyapa atau memberi salam adalah suatu bentuk penghormatan. Jika ada orang yang memberi salam, maka sepatutnya dibalas dengan salam pula (yang baik). Melalui salam akan menjalin ikatan dan interaksi yang saling berkesinambungan yang mengikat satu sama lain. Dengan mengucapkan salam, timbullah kedekatan, keterkaitan antar hati, serta penguatan kasih sayang di hati para manusia. Rosululloh SAW bersabda, “Tiga hal yang menjadikan engkau mendapatkan kasih sayang saudaramu, yaitu engkau ucapkan salam ketika bertemu, meluaskan tempat duduk baginya dan engkau memanggilnya dengan nama yang sangat disukainya.”
Bicara
Saling bicara atau ngobrol adalah bentuk dari ramah tamah. Keramah-tamahan di antara manusia adalah sesuatu yang juga dapat mengikat di antaranya. Keterikatan itu dapat berupa suatu jalinan kasih sayang yang mengasyikkan. Penulis beritahu: ada jenis manusia yang kuat ngobrol berjam-jam lantaran mencurahkan kekangenannya dengan lain jenis manusia karena merupakan kekasih hati atau sejenisnya karena lama tidak bertemu, sahabat karib gitu. Ada pula jenis manusia yang sangat perkasa karena betah ngobrol macam-macam hal dan terkadang yang dibahas hal yang aneh-aneh dalam forum yang sangat terkenal bernama ngerumpi atau ngegosip.
Cerita dan uraian singkat di atas keutamaannya hanya mengajak kepada siapapun untuk membiasakan diri tersenyum, menyapa, dan berbicara secukupnya demi makna yang terkandung dalam ketiga hal tersebut. Bahwasannya manusia sebagai mahkluk sosial dituntut untuk bersosialisasi yang baik dan dengan cara yang baik. Ketiganya merupakan sarana yang baik untuk bersosialisasi dengan siapapun yang sama-sama saling menginginkan cara-cara yang baik dan tentunya akan menyenangkan di antara keduanya. Bagi yang cinta damai, menginginkan jalinan emosi yang mengesankan, menginginkan kasih sayang, maka lakukanlah ketiganya. Kepada siapapun tersenyumlah, menyapalah, dan berbicaralah, sebelum ketiganya dilarang. Salam dari Tole.
Diary Tole
Kubuka mata melihatmu
Bukan aku suka padamu
Kututup mata karenamu
Bukan aku membencimu
(Petikan puisi "Cerita Aku" karya S.S)
Saya sangat apresiatif terhadap puisi di atas. Dikarang oleh teman saya sendiri. Teman kuliah di IKIP PGRI Semarang. Dari pertemanan yang hanya kurang dari dua tahun sudah dapat kukuak betapa pribadi perempuan yang satu ini luar biasa.
Bagaimana tidak? Sudah berkeluarga, memiliki seorang putri cantik dan lincah, masih sudi kuliah. Capek-capek naik-turun "gunung" utama. Sikapnya sangat tegas sehingga tidak membingungkan. Sangat bertolak dari kebanyakan mahasiswa yang lain. Dia supel sekaligus peramah.
Namun ada cerita tersendiri darinya yang pastinya tidak patut diceritakan di sini. Ini sebagai bagian dari tanggungjawab saya terhadap seseorang yang bercerita pada saya mengenai hal ini. So jangan penasaran kalau tidak diceri-tai.
Kembali ke...., puisi di atas, ada beberapa hal yang menggelitik ruang pikir saya. Bahwa ada ruang di dalam perasaan setiap insan yang dihuni oleh rasa "abu-abu" antara benci dan suka. Ruang itu tidak tampak. Tertutup oleh kamuflase. “Kubuka mata.....”, “Bukan aku suka”; “Kututup mata....”, “Bukan aku membencimu”.
Hal ini mengisyaratkan bahwa sikap care, peduli, bukan berarti menandakan suka, cinta. Sebaliknya, sikap acuh tak acuh, tidak peduli, bukan berarti membenci.
Tampaknya memang sederhana saja. Ya, memang sederhana. Bukankah dalam hidup ini tidak ada yang rumit? Kalau toh rumit, pastinya ada yang membuat rumit. Siapa? Kamu, si pelaku hidupmu sendiri. So jangan perumit hidupmu sendiri.
Pesan ini khusus dan spesial ditujukan kepada saya.
Kemudian di dalam pikiran saya ini tergelitik dengan hal lain. Apakah itu? Yang pasti bukan kemoceng ataupun kili-kili. Begini:
Bisa saja "kamuflase" semacam itu terjadi pada diri saya. Dilakukan oleh orang lain terhadap saya. Orang lain itu adalah orang-orang yang ada di dekat saya, di sekitar saya, orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya.
Lalu, bagaimana mengidentifikasi kamuflase semacam itu? Huh! Rasanya sulit jika orang yang harus mengidentifikasi adalah semacam saya. Orang yang, kata orang berinisial H, tidak sensitif, tidak perasa, tidak peka.
Apapun kata mereka yang pasti jalani hidup agar tetap hidup. Lakukan saja yang hams dilakukan sekarang. Easy going. Tidak usah mengkhawatirkan sesuatu yang belum pemah terjadi. Tidak usah bingung dengan sesuatu yang belum jelas.
Kalau ada yang membenci saya, ya, saya ucapkan nikmati saja bencimu itu. Kalau ada yang suka saya, ya, saya ucapkan nikmati saja suka itu. Jadinya jangan ditutup-tutupi. Ungkapkan saja. Bebaskan saja. Ekspresikan kebencianmu atau ekspresikan rasa sukamu. Bebaskan dan lepaskan perasaanmu. Jangan ditahan-tahan. Jangan terbebani dengan kamuflase semacam itu.
Ada cara lain yang lebih baik?
Bukan aku suka padamu
Kututup mata karenamu
Bukan aku membencimu
(Petikan puisi "Cerita Aku" karya S.S)
Saya sangat apresiatif terhadap puisi di atas. Dikarang oleh teman saya sendiri. Teman kuliah di IKIP PGRI Semarang. Dari pertemanan yang hanya kurang dari dua tahun sudah dapat kukuak betapa pribadi perempuan yang satu ini luar biasa.
Bagaimana tidak? Sudah berkeluarga, memiliki seorang putri cantik dan lincah, masih sudi kuliah. Capek-capek naik-turun "gunung" utama. Sikapnya sangat tegas sehingga tidak membingungkan. Sangat bertolak dari kebanyakan mahasiswa yang lain. Dia supel sekaligus peramah.
Namun ada cerita tersendiri darinya yang pastinya tidak patut diceritakan di sini. Ini sebagai bagian dari tanggungjawab saya terhadap seseorang yang bercerita pada saya mengenai hal ini. So jangan penasaran kalau tidak diceri-tai.
Kembali ke...., puisi di atas, ada beberapa hal yang menggelitik ruang pikir saya. Bahwa ada ruang di dalam perasaan setiap insan yang dihuni oleh rasa "abu-abu" antara benci dan suka. Ruang itu tidak tampak. Tertutup oleh kamuflase. “Kubuka mata.....”, “Bukan aku suka”; “Kututup mata....”, “Bukan aku membencimu”.
Hal ini mengisyaratkan bahwa sikap care, peduli, bukan berarti menandakan suka, cinta. Sebaliknya, sikap acuh tak acuh, tidak peduli, bukan berarti membenci.
Tampaknya memang sederhana saja. Ya, memang sederhana. Bukankah dalam hidup ini tidak ada yang rumit? Kalau toh rumit, pastinya ada yang membuat rumit. Siapa? Kamu, si pelaku hidupmu sendiri. So jangan perumit hidupmu sendiri.
Pesan ini khusus dan spesial ditujukan kepada saya.
Kemudian di dalam pikiran saya ini tergelitik dengan hal lain. Apakah itu? Yang pasti bukan kemoceng ataupun kili-kili. Begini:
Bisa saja "kamuflase" semacam itu terjadi pada diri saya. Dilakukan oleh orang lain terhadap saya. Orang lain itu adalah orang-orang yang ada di dekat saya, di sekitar saya, orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya.
Lalu, bagaimana mengidentifikasi kamuflase semacam itu? Huh! Rasanya sulit jika orang yang harus mengidentifikasi adalah semacam saya. Orang yang, kata orang berinisial H, tidak sensitif, tidak perasa, tidak peka.
Apapun kata mereka yang pasti jalani hidup agar tetap hidup. Lakukan saja yang hams dilakukan sekarang. Easy going. Tidak usah mengkhawatirkan sesuatu yang belum pemah terjadi. Tidak usah bingung dengan sesuatu yang belum jelas.
Kalau ada yang membenci saya, ya, saya ucapkan nikmati saja bencimu itu. Kalau ada yang suka saya, ya, saya ucapkan nikmati saja suka itu. Jadinya jangan ditutup-tutupi. Ungkapkan saja. Bebaskan saja. Ekspresikan kebencianmu atau ekspresikan rasa sukamu. Bebaskan dan lepaskan perasaanmu. Jangan ditahan-tahan. Jangan terbebani dengan kamuflase semacam itu.
Ada cara lain yang lebih baik?
Jumat, 14 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)