Hari ini Tole mulai masuk kuliah. Hatinya tampak sangat sumringah biarpun polahnya terkesan terburu-buru. Ia tidak ingin terlambat sedetik pun. Maka dari itu sejak pagi Tole sudah bolak-balik ke sana ke mari untuk menyiapkan semuanya. Yang pertama-tama ia siapkan adalah dirinya sendiri. Ia bangun tidur sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, dan menyiapkan buku-bukunya sendiri. Semuanya (pokoknya) ia siapkan sendiri tanpa bantuan seorang pun. Maklum kini Tole jauh dari keluarga, tetangga, dan teman-temannya yang biasa ia mintai tolong. Tole ngekos; letaknya sekitar 999 meter dari kampusnya yang megah. Sekos dengannya ada enam orang; semuanya belum ia kenal.
Jam dinding di ruang tamu rumah induk semangnya baru saja berdetak tujuh kali. Tole sudah siap rapi dengan dirinya sendiri. Ia sudah siap untuk berangkat kuliah. Jadwal kuliahnya untuk yang ter-wahid hari ini jam 07.30 WIB. Dalam penanggalan Islam, hari ini, tanggal ini, tahun ini, sudah masuk bulan Ramadhan. Sebagi muslim yang (merasa) beriman sekaligus bertaqwa, Tole berpuasa.
Senyumnya mengembang lembut dan mesra, sedetik setelah ia membuka pintu rumah kos-kosannya. Ia disambut ramah oleh sinar mentari yang hangat. Langkah penuh semangat menuntun Tole menuju kampus tercintanya. Seratus-dua ratus meter mulailah banyak orang yang Tole temui dalam perjalanan. Kebanyakan searah dengan tujuannya. Dalam hatinya, Tole menyapa, ”Hai.., kawan! Apa kabar?”
Setibanya di kampus, Tole langsung menuju ke ruang yang sesuai dengan jadwal kuliahnya, di lantai empat ruang sekian. Di depan ruangan yang ia maksud, telah berkumpul beberapa teman, yang menurut perkiraannya, sekelas. Tole melempar senyum, kemudian dibalas oleh mereka. Lempar-lemparan senyum berlangsung lama. Senyum-senyum itu saling berbalasan. Sesekali diimbangi dengan anggukan kepala. Senyum itu terhenti manakala Tole telah mendudukkan bokong besar miliknya di kursi deretan kedua dari depan, di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba suasana ruangan menjadi mencekam. Hening. Ruangan ini serasa kuburan. Sesekali diselingi cekikikan dan lolongan orang di luar ruangan. Tole kini cemberut. Orang-orang yang ia pandang di dalam ruangan ini tampak arogan dan menakutkan laiknya setan. Bibir Tole cembetut seperti moncong sapi. Matanya tampak jelalatan menghidar dari pandangan yang mengerikan. Dalam benaknya ia berpikir, “Ini orang apa manusia? Kalau orang kok seperti orang-orangan. Kalau manusia kok tidak manusiawi.”
Lima belas menit, serasa di rumah hsntu, telah berlalu; berhenti. Seorang paruh baya dengan pakaian rapi, masuk ke dalam ruangan dan sambil tersenyum beliau menyapa, “Selamat pagi. Apa kabar?” Dijawab kompak, “Pagi! Baik-baik saja.”
Orang yang menyapa itu tadi kemudian memperkenalkan diri. Namanya XXX, panggilan akrabya Pak X. Ia dosen yang akan mengampu matakuliah tertentu yang diambil oleh Tole kali ini. Pak X tampak supel. Gaya bicaranya terkesan bersahabat. Pak X mulai mengajak bicara setiap orang yang ada di dalam ruangan ini, tak terkecuali Tole. Macam-macam yang dibicarakan. Dari topik A-Z. Mulai satu per satu orang-orang yang ada di dalam ruangan ini diberi pertanyaan. Macam-macam pula yang Pak X tanyakan. Dari sekian pertanyaan yang macam-macam itu, ada dua pertanyaan yang tidak macam-macam, yakni: “Siapa namamu?” Dan, “darimana asalnya?” kedua pertanyaan ini dilontarkan Pak X sekali saja, tapi untuk semuanya: “Sekali untuk Semua”.
Setelah mutar-muter, karna acak, pertanyaan yang macam-macam itu tiba gilirannya pada Tole. Dengan riang dan senyum yang masih mengembang, Tole menjawab, “Nama saya Tole Kusudiharjo. Alamat ngekos. Asli Jogjakarta.” Yang seterusnya ini pertanyaannya aneh-aneh, tidak hanya dari Pak X, tapi juga dari orang-orang seruangan dengan Tole.
“Cita-cita, Mas?”
“Hobi?”
“Sudah punya pacar?”
“Suit… suitttt…..!!!”
“Kenapa memilih kuliah di sini?”
“Emmm….. boh seterusnya. Pertanyaannya aneh-aneh.”
***
Dari cerita yang nyata “karangan” di atas, ada tiga hal kurang penting (tapi bermakna) yang ingin penulis tunjukkan. Ketiganya terkadang “murah” bagi sebagian orang dan “mahal” bagi sebagiannya lagi—entah pula berapa persentasenya. Ketiga hal ini adalah “Senyum, Sapa, dan Bicara”.
Bagi orang yang menerapkan senyum itu murahan, tersenyum menjadi sesuatu yang mahal karena ia harus menukarnya dengan biaya perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Dan sebaliknya; bagi orang yang menerapkan senyum itu mahal, tersenyum menjadi sesuatu yang murah karena orang lain tidak begitu tertarik dengan senyumannya. Istilahnya: “Sok jual mahal, jadinya tidak ada yang nawar, ngelirik aja emoh”. Begitu pula dengan dua hal berikutnya: Sapa dan Bicara. Kalau banyak sapa bikin jengkel; tidak menyapa sok ngartis. Kalau banyak bicara tanpa guna disebut cerewet; ditunggu-tunggu bicaranya tapi tak jua bicara-bicara, huh….! Sungguh terlalu.
Senyum
Senyuman manis yang disemaikan oleh seseorang—sepengamatan penulis—mengakibatkan orang lain yang melihat senyuman manis itu akan juga membalas dengan senyuman. Apalagi senyuman manis itu dinikmati dan diresapi dalam kalbu. Alangkah terasa nikmat sekali apabila senyuman itu berasal dari orang-orang yang memberikan senyuman itu dengan setulus hati. Dari kekasih, sahabat, orang tua, saudara, guru/dosen, orang cantik/ganteng, orang baik, misalnya. Senyuman yang manis dari hati yang tulus, menurut penyair, bagi orang yang mengalami kebimbangan hati bagaikan “Air yang menyejukkan di padang pasir yang terik”. Bahkan karena senyuman, seseorang bisa terjerat hatinya dan membuat ia jatuh cinta.
Sapa
Menyapa atau memberi salam adalah suatu bentuk penghormatan. Jika ada orang yang memberi salam, maka sepatutnya dibalas dengan salam pula (yang baik). Melalui salam akan menjalin ikatan dan interaksi yang saling berkesinambungan yang mengikat satu sama lain. Dengan mengucapkan salam, timbullah kedekatan, keterkaitan antar hati, serta penguatan kasih sayang di hati para manusia. Rosululloh SAW bersabda, “Tiga hal yang menjadikan engkau mendapatkan kasih sayang saudaramu, yaitu engkau ucapkan salam ketika bertemu, meluaskan tempat duduk baginya dan engkau memanggilnya dengan nama yang sangat disukainya.”
Bicara
Saling bicara atau ngobrol adalah bentuk dari ramah tamah. Keramah-tamahan di antara manusia adalah sesuatu yang juga dapat mengikat di antaranya. Keterikatan itu dapat berupa suatu jalinan kasih sayang yang mengasyikkan. Penulis beritahu: ada jenis manusia yang kuat ngobrol berjam-jam lantaran mencurahkan kekangenannya dengan lain jenis manusia karena merupakan kekasih hati atau sejenisnya karena lama tidak bertemu, sahabat karib gitu. Ada pula jenis manusia yang sangat perkasa karena betah ngobrol macam-macam hal dan terkadang yang dibahas hal yang aneh-aneh dalam forum yang sangat terkenal bernama ngerumpi atau ngegosip.
Cerita dan uraian singkat di atas keutamaannya hanya mengajak kepada siapapun untuk membiasakan diri tersenyum, menyapa, dan berbicara secukupnya demi makna yang terkandung dalam ketiga hal tersebut. Bahwasannya manusia sebagai mahkluk sosial dituntut untuk bersosialisasi yang baik dan dengan cara yang baik. Ketiganya merupakan sarana yang baik untuk bersosialisasi dengan siapapun yang sama-sama saling menginginkan cara-cara yang baik dan tentunya akan menyenangkan di antara keduanya. Bagi yang cinta damai, menginginkan jalinan emosi yang mengesankan, menginginkan kasih sayang, maka lakukanlah ketiganya. Kepada siapapun tersenyumlah, menyapalah, dan berbicaralah, sebelum ketiganya dilarang. Salam dari Tole.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar