Kamis, 27 Agustus 2009

BIRU di SAVANA

Oleh Eko Pujiono

“Pernahkah kamu keliru dalam mengartikan mengenai sesuatu?” tanya seekor burung elang kepada teman akrabnya, kelinci.

“Misalnya?”

“Soal cinta, aku tak paham apa sejatinya itu cinta.”

“Akupun sama. Ibuku tak pernah memberitahuku apa itu cinta. Kemudian guruku di sekolah dulu juga tak pernah menerangkan apa pengertian dari cinta.”

“Memangnya kamu pernah sekolah?”

“Kayaknya pernah. Pernah nggak ya? Kamu pernah lihat aku sekolah?”

Keduanya tertawa terbahak-bahak. Burung elang dan kelinci sedari dulu sudah berteman akrab. Tempat favorit mereka untuk bertemu adalah di pohon ini. Pohon yang hanya satu-satunya di tengah padang rumput yang terhampar hijau warnanya. Sebenarnya masih banyak pohon lain tumbuh di areal savana ini. Namun, pohon-pohon itu tumbuh di pinggiran padang, di lereng bukit yang tidak jauh di sisi padang luas ini, dimana sang surya kembali ke peraduannya.

Padang ini nampak asri. Di sebelah bukit adalah air mengalir dari sumber mata air yang mancur dari celah-celah bebatuan dari dalam lorong goa yang menyeruak ke dalam bukit itu. Airnya jernih, mengalir. Bukit kecil membawa air itu ke tempat yang lebih jauh dan lebih rendah posisinya.

Biasa, kedua sahabat antara elang dan kelinci melepas penat di pohon ini. Pohon yang tidak cukup rindang, karena memang kecil untuk ukuran pohon-pohon lain di hutan sana. Pohon ini hanya cukup menopang tubuh elang yang mlangkring di salah satu cabangnya. Sedangkan si kelinci—karena tidak bisa manjat pohon—duduk asyik di bawahnya. Di tanah yang sekelilingnya penuh rumput hijau sambil mengunyah-ngunyah beberapa untuk mengemil.

Oh ya, elang berjenis kelamin jantan dan kelinci berjenis kelamin betina. Untuk ukuran manusia, usianya baru menginjak usia remaja. Baru puber. Sejak kecil, keduanya sudah bersahabat. Mereka masih bertetangga. Si kelinci tinggal di balik semak di pinggir padang, dekat parit yang mengalirkan air. Sedangkan si elang tinggal di hutan. Awalnya, keduanya sering kali bertemu. Saat elang diajari induknya untuk terbang dan si kelinci diajari induknya berlari dengan lompatan-lompatan.
“Elang, kamu sedang jatuh cinta?” teriak kelinci setelah beberapa saat keduannya terdiam, membuncahkan suasana.

“Jatuh cinta? Aku tak tahu.”

“Kamu naksir siapa?”

“Aku tak tahu, aku bingung, aku tidak bisa mengungkapkan apa-apa. Perasaanku saja yang selalu memikirkan tentang seekor betina yang nantinya akan menelorkan dan menetaskan darah keturunanku. Tapi dia kan saudaraku.”

“Sudah memang seperti itu kan. Kita harus kawin dengan sejenisnya.”

“Tapi itu apakah ada unsur cinta? Aku mengartikan cinta adalah pangkal dari kebahagiaan. Tanpa cinta, apakah akan diperoleh bahagia?”

Si kelinci menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil seperti mendelik matanya, menelan rumput yang telah dikunyahnya. Kelinci terkenal dengan kecerdasan dan kelincahannya. Tak heran, si elang selalu minta arahan tentang berbagai hal. Seperti kali ini. Si elang setelah diberitahu oleh ibunya akan dikawinkan dengan saudaranya oleh bapaknya. Sebelum dipaksa bapaknya, elang diminta dengan baik-baik oleh ibunya.

Semalam si elang baru diberi tahu. Elang kaget harus berbuat apa. Menolak dengan melawan atau menerima dengan tulus ikhlas sebagai tanda balas budi terhadap apa yang selama ini diberikan oleh kedua orang tuanya kepadanya.

“Hmm…, aku tak bisa berpikir soal itu,” jawab kelinci dengan menunduk. “Mungkin aku akan mengalami hal yang sama seperti kamu nanti.”

“Kamu tahu kan saudaraku, sudah ingusan, tak pernah dandan, bulunya acak-acakan. Pokoknya mirip gelandangan deh.”

“Ya, aku tahu. Malah dia suka berak dan kencing sembarangan.”
“Terus, apa sejatinya arti cinta?”

“Entahlah,” si kelinci menghela, “aku juga sedang mencari pengetahuan tentangnya. Yang pasti, menurutku cinta bukan hanya sebuah kata, apalagi ungkapan. Cinta bukan hanya perasaan, pertautan rasa. Cinta adalah universal, universal cinta, cinta universal.”

“Maksudnya?”

“Kamu pikir, jangan hanya nanya doang. Aku juga mikir.”

Si kelinci menggaruk-garuk kepalanya. Si elang juga nampak berpikir. Angin padang rumput ingi juga berpikir. Angin berlalu-lalang dengan santainya. Sepoi yang terasa. Sengat mentari disapu oleh angin. Suara alam memaki sang terik lewat ceceruit binatang yang bersautan. Elang dan kelinci masih berpikir. Matanya kian belok ke kanan-kiri, ke ats-bawah, ke depan-belakang, ke semua penjuru mata angin. Hela nafaspun kian banyak terdengar. Mentari pun enggan menyaksikan pemandangan ini, apalagi dia dimaki-maki penghuni bumi, maka ia berangsur menggelincir ke ufuk barat. Keringatnya bercucuran. Tapi sayang tidak dijatuhkan lewat hujan yang sudah dinanti-nanti penghuni padang ini.

“Begini,” kelinci mencoba menjelaskan, ”cinta universal-universal cinta artinya setiap makhluk memiliki cinta dan merasakan cinta. Setiap waktu, setiap saat, di manapun tempatnya berada.”

“Terus?”

“Pernahkah kamu berpikir bahwa apa yang diberikan dan dilakukan oleh orang tua kita, dari kita bayi sampai seperti ini adalah perwujudan dari cinta. Mereka, orang tua kita, merawat, memberi makan, menyediakan tempat tinggal, membekali kita dengan ilmu, melatih untuk tetap hidup, mempertahankan hidup, mendidik, dan sebagainya. Tanpa memiliki cinta, apakah dengan ikhlas, rela melakukan itu semua kepada kita.”

“Apakah cinta hanya seperti itu? Hanya dari orang tua kepada anaknya.”

“Tidak! Sudah kubilang cinta itu universal. Menurutku cinta adalah pangkal dan muara dari semua hal. Dari yang kita pikirkan, yang kita rasakan, yang kita perbuat. Pokoknya semua yang menyangkut kita sebagai makhluk. Misalnya, ada perasaan benci, marah terhadap manusia yang suka menebang pohon secara membabi buta, memburu dan memangsa kita. Itu karena perasaan cinta kita terhadap kelangsungan kehidupan kita dan masa depan anak cucu kita.”

“Jadi cinta dapat juga diartikan hidup. Tanpa cinta berarti tidak hidup. Mempertahankan cinta berarti mempertahankan kelangsungan hidup kita. Bukankah begitu?”

“Lebih dari itu. Cinta juga yang akan mewarnai, memperindah dan memperkaya makana akan hidup kita ini. Bukan hanya milik kita pribadi, tapi juga apa yang ada di sekitar kita, termasuk anak cucu kita nantinya.”

“Aku jadi tak mengerti.”

“Begitulah cinta, tidak perlu harus dipahami, apalagi dimengerti. Cinta adalah pangkal dan muara segala hal. Karena cinta, ada rasa suka, bahagia meletup-letup, cemburu, marah benci, posesive, minder, malu, takut, muak, jijik, rindu, rasa menggangngu, menyakitkan, bodoh, cerdik, licik, pandai, jujur, bohong, khianat, amanah, sombong, dan semua hal yang lain. Semuanya ada di cinta.”

“Aku jadi bingung.”

“Bingung juga pangkal dari cinta. Kamu memikirkan cinta, kamu jadi bingung, muser-muser kepala, tujuh keliling muternya.”

“Ternyata sudah sore ya, tak terasa. Kira-kira masih ada tentang cinta yang dapat kamu sampaikan padaku.”

“Masih! Tapi aku tak tahu darimana aku akan mengawalinya dan kapan aku mengakhirinya. Lebih baik dicukupkan.”

Si kelinci langsung melompat-lompat menuju sarangnya. Si elang mengepakkan sayapnya. Terbang menuju hutan, tempat ia tinggal.

*******

Elang jadi menikah dengan saudaranya. Pesta kecil diadakan. Cukup meriah. Keduanya langsung membuat sarang, bulan madu, kawin. Bertelor dan mengeram. Pada saatnya telor-telornya menetas dan bayi elang yang merah keluar dari cangkang telornya. Si elang menjadi bapak. Perasaannya bahagia penuh suka cita. Ia pergi ke pohon di tengah padang untuk memberitahukannya kepada sahabatnya, si kelinci. Tapi si kelinci tak ada. Elang menunggu lama, tetap tak nampak si kelinci.Esoknya elang datang lagi dan tak jumpa dengan kelinci. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Tetap tidak berjumpa dengan kelinci. Sampai anaknya sudah cukup besar.

Terhadap anaknya, elang mulai dibuat kerepotan. Anaknya makannya mulai bertambah banyak. Sementara ular yang sebagai makanan pokoknya sudah mulai langka didapat. Elang bertambah bingung ketika pulang tidak membawa makanan hasil buruan. Anaknya merengek-rengek, menangis dengan suara melengking sangat kerasnya. Elang hanya bisa melepas sedikit bingungnya dengan mlangkring di pohon di tengah padang. Tapi, kawannya tetap tidak dijumpainya. Padahal ia ingin mencurahkan segala gundah isi perasaannya, kebingungannya.

Sore selepas hujan mengguyur padang rumput ini, kelinci nampak bercengkerama dengan air yang membasahi tubuhnya, di bawah pohon. Ia mengibas-ibaskan tubuhnya. Beberapa saat kemudian elang datang langsung mlangkring di salah satu cabang yang sudah biasa biasa digunakan untuk menunggu kelinci sehari-harinya.

“Apa kabar elang?” tanya kelinci, “sudah lama kita tak bertemu.”

“Sayang, kabar baik tidak ada menyertai diriku.”

“Ada apa?” tanya kelinci lagi dengan kaget.

“Banyak hal terjadi padaku. Tapi, aku ingin meminta sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Aku butuh cinta darimu.”

“Apa kamu gila? Aku kelinci, kamu elang.”

“Tidak! Aku waras. Aku butuh cinta darimu untuk kelangsungan hidup anak-anakku, istriku dan aku sendiri yang sedari kemarin belum makan. Ular sudah tidak dapat aku temui. Aku mau cinta darimu.”

“Maksudmu?,” kelinci terbata-bata dan ketakutan. Ia memutuskan untuk berlari meninggalkan elang secepatnya. Ya, secepatnya.

Mata elang menjadi merah. Tajam. Naluri memburu kian memuncak dengan sasaran si kelinci. Sayapnya ia kepakkan dengan kuatnya. Segera iapun meluncur terbang mengejar kelinci. Yang dikejar berkelit dengan berbelok kesana kemari. Kelinci ingin menuju sarangnya. Kiranya disana akan aman. Menyadari akan apa yang akan dialakukan kelinci, elang semakin beringas. Ia mempercepat dan mempertegas laju terbangnya. Cakar-cakarnya sudah disiapkan dalam posisi mencengkeram. Tajam. Dan, “Creppp.” Cakar itu menghujam ke dalam tubuh kelinci. Kelinci itu mengerang kesakitan. Sakit oleh luka dari cakar elang, lebih sakit lagi perasaan yang dirasakan atas perbuatan sahabatnya sendiri.

“Kenapa kamu tega berbuat seperti ini padaku, sahabatmu sendiri?”

“Semua berpangkal dan bermuara dari cinta, seperti apa yang kamu jelaskan padaku dulu.”

“Kamu salah.”

“Salah juga pangkal dari cinta.”

Luka di tubuh kelinci mengeluarkan darah merah segar begitu banyaknya. Kelincipun mulai megap-megap. Nafasnya tak beraturan. Matanya membuyar tatapannya. Hampir gelap sekelilingnya. Tapi, ia masih tetap dengan jelas mengamati roman muka elang yang penuh dengan suka cita dan gembira.

“Elang,” kelinci berujar, “kamu terlalu egois menyoal cinta.” Kemudian dirasakannya semua menjadi gelap pekat. Si kelinci telah mati. Kelinci telah menjadi bangkai.
Maka segera bangkai itu dibawa terbang menuju sarang elang. Dipotong kecil-kecil dengan paruh elang yang sangat tajam. Potongan itu kemudian disuapkan kepada anak-anaknya. Sangat lahap. Istrinyapun ikut makan dengan lahap. Bangkai itu beberapa saat hampir habis dimakan dengan penuh lahap. Si elang yang juga sudah sangat lapar berkeinginan untuk memakan bangkai itu, biarpun itu kawannya sendiri. Malah elang juga lahap. Semuanya lahap. Hingga akhirnya tinggal kulit tempat melekat bulu kelinci dan tulang belulangnya saja yang tersisa. Sejak saat itu, kelinci menjadi makanan favorit elang. Elang selalu terngiang setiap memakan daging kelinci akan ungkapan dari kelinci sahabatnya, “Semua berpangkal dan bermuara dari cinta.”

Padang Syarifah, 17 Oktober 2006.

Dia Anak Siapa?

Cerpen Eko Pujiono


“DIA ANAK SIAPA?” tanyaku, sepenuh pertanyaan. Mencari jawaban darimu, hai, kekasihku. Aku duduk di sampingmu, di samping dia.

Tiada kau jawab. Jawabanmu hanyalah bisu. Kelu. Kau hanya terbaring saja. Di salah satu ranjang sebuah rumah sakit yang khusus menangani persalinan. Kau terbaring. Tiada kau jawab pertanyaanku. Aku sudah menunggu. Tidak kau ucap sepatah katapun. Tanganmu hanya sibuk mengelus pipi bayi merah itu. Dia, terbaring di sampingmu. Di kanan-kirinya, guling kecil sebagai pembatas. Pipinya halus seperti pipimu.

Kutunggu jawaban. Masih tidak ada. Kini kusaksikan kau memainkan bibir kecil itu. Milik dia. Mirip punyamu. Dia, manusia kecil yang berselimutkan kain putih. Dia terpejam. Kulihat dia menggerakkan kepalanya. Terlihat seperti menggeleng. Masih kamu mainkan bibir kecil itu dengan jarimu. Bibir kecil milik dia, kau mainkan. Sama seperti kau bermain-main dengan pertanyaanku.

“Anak siapa dia?” kuulangi pertanyaan itu.

Pertanyaan yang sama, namun berbeda struktur kalimat. Perlakukan sama aku terima. Kau tidak menjawab. Menggerakkan bibir pun tidak. Tatapan matamu hanya ke langit-langit ruangan. Warnanya putih. Lalu, ke tubuh kecil yang terbungkus kain itu. Warnanya juga putih. Hanya beberapa kali kau arahkan pandangamu kepada diriku. Laki-laki yang sudah memacari kamu selama tiga tahun. Tidak kurang.

Aku masih menunggu jawaban. Beberapa patah kata kunantikan keluar dari mulutmu. Mulut yang memiliki bibir sama seperti milik dia. Aku mohon, satu kata saja. Biar aku puas. Biar aku bisa bertanya menggunakan pertanyaan lain. Pertanyaan yang berbeda. Supaya dapat kukuak siapa sejatinya dia. Bayi merah itu.
Kutaksir-taksir, tinggi dia hanya tiga puluh centimeter. Beratnya pun tak lebih dari dua setengah kilogram. Dia itu kecil. Pendek. Kira-kira sama sepertimu kalau sudah besar. Kulitnya putih. Sama seperti kulitmu.
Setelah puas kau mainkan bibir kecil itu, lalu berpindah ke hidung. Hidung yang mungil. Tidak mancung. Tidak pula pesek. Bisa dibilang proporsional. Persis sama seperti hidungmu. Eksotis. Memesona. Hidungmu adalah bagian dirimu yang membuat aku jatuh cinta. Hidungmu sama seperti hidung dia. Bayi kecil itu. Dia yang sedang tertidur di sampingmu. Dalam jangkauanmu. Dia yang dalam lindunganmu.

“Siapa dia?” tanyaku lagi.

Ayo jawab. Jangan hanya diam. Jawab, dia itu anakmu. Dari siapa? Laki-laki mana yang menidurimu? Siapa orang yang menelanjangimu? Membuka pakaianmu satu per satu. Membuka kancing bajumu. Melepasnya kemudian membuang ke lantai. Membuka rok panjangmu. Terlebih dahulu melepas kait rok dan menurunkan resliting itu.
Kemudian, laki-laki itu menikmati tubuhmu yang hanya berbalut BH dan cawat. Memelototi tubuh indahmu. Lalu, melepas BH dan cawat itu. Membuangnya ke lantai. Laki-laki itu juga telanjang. Melepaskan pakaiannya sendiri. Membuang ke lantai. Pakaian kalian berserakan.

Laki-laki itu menciumimu penuh nafsu. Di pipi, di dahi, di hidung, di bibir, di leher, di ... Di seluruh tubuh. Tidak terkecuali. Dan, tubuh yang putih itu, yang mulus itu, direngkuh. Penuh nafsu. Hanya nafsu!
Dimana kalian melakukan itu? Pastinya, di sebuah ruang tertutup. Tersembunyi dari norma-norma. Yang kedap suara sehingga tidak terdengar teriakan moralitas. Yang terdengar hanya lenguhanmu dan laki-laki itu. Bernafsu!
“Dia siapa?” tanyaku dengan pikiran yang mulai kacau.

Bagai bensin disulut api. Meledak. Namun, tidak seperti bom 11 September. Hanya letupan kecil. Hampir mirip mercon. Hanya letupan pikiran yang mulai kacau.

Lagi-lagi tidak kau jawab. Malah seolah tidak kau hiraukan. Aku hanya ingin tahu siapa bapak dia. Siapa yang telah menghamilimu?

Dari tadi kau hanya sibuk mengelus dia. Tanpa menghiraukanku. Pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban darimu. Kini, kau mengelus alisnya dengan jari tengah tangan kananmu. Kau memiringkan badan. Menghadap bayi kecil itu yang berada di sebelah kirimu. Berbatasan dengan guling kecil. Kau elus alis bayi ituyang berwarna hitam, tebal, dan halus. Sama seperti alismu. Keduanya, alis punyamu dan alis punya dia, bak rembulan sabit tanggal muda.

Elusanmu turun ke kelopak mata dia yang sedang tertutup. Elusan dengan sangat lembut. Dari yang kiri, pindah ke yang kanan. Begitu terus. Hingga tanpa sengaja, elusan jari tengah tangan kananmu membangunkan bayi itu.
Kelompak matanya terbuka. Didahului tangisan khas bayi, namun hanya sebentar. Hanya dua sampai tiga detik.
”Cup... cup... cup... cup...” begitu ujarmu menghentikan tangisan anak kecil itu.

Itu ujaranmu yang aku dengar setelah lama kau membisu. Itu jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Apakah itu sebuah jawaban? Ahh, setidaknya kamu sudah mulai mau berujar. Mau mengeluarkan suara. Pasti sudah kelu tenggorokkanmu menahan diam.

Astaga! Mata anak kecil itu persis seperti matamu. Sorot matanya jernih, sejernih sorot matamu. Matanya bening, sebening matamu. Lensa matanya hitam, sehitam lensa matamu. Bulat. Sama seperti matamu. Pokoknya sama persis.
“Anak siapa?” tanyaku lagi dengan penuh harapan kamu mau menjawab.

Beritahu aku siapa nama laki-laki itu? Satu orangkah? Dua orang? Atau berapa? Kau sudah berhubungan badan dengan siapa saja. Jika kamu takut aku bakal menghajar laki-laki bejat itu, beritahu inisialnya saja. Dimana alamat rumahnya.

“Siapa?” tanyaku lagi dengan memohon kamu mau menjawab.

Aku ini kekasihmu. Tidakkah kau percaya akan cintaku. Akan kasih sayangku. Aku benar-benar cinta dan sayang kepadamu. Beritahu aku. Kamu melakukan itu atas dasar suka sama suka atau kamu dipaksa. Diperkosa. Oleh satu orang laki-laki atau beramai-ramai.

“Anak...?” tanyaku lagi, tapi aku sangsi akan kau jawab.

Oleh sebab itu, tidak aku tuntaskan kalimat tanya itu. Toh, lagi-lagi kamu tak akan jawab. Namun, arah pandangan matamu, pandangan mata yang sama seperti bayi kecil itu, kamu arahkan ke mataku. Sejurus, arah pandangan mata kita sebidang. Kita saling tatap. Tanpa bicara. Hening. Hanya terdengar tarikan dan helaan nafasku, nafasmu, dan nafas dia. Udara berebut menyesaki paru-paruku, paru-parumu, dan paru-paru dia.

“Dia...?” sambil kutunjuk bayi kecil itu. Tetap pandangan mataku dan matamu sebidang. Kau mulai sedikit demi sedikit buka mulut. Agak bergetar bibirmu. Bibir yang sama persis seperti bibir bayi kecil itu. Tiba-tiba matamu berkaca. Selang beberapa menit kemudian, tetesan mata yang putih itu tumpah dari matamu yang mirip dengan mata bayi kecil itu. Kau masih tetap tak memberikan jawaban. Bibirmu saja yang semakin hebat bergetar.
“Dia anak siapa?” kuulangi pertanyaanku. Tentunya aku tuntaskan kalimat tanyaku. Dengan kalimat yang memiliki struktur kalimat tanya yang lengkap.

Harapanku mendapatkan jawaban darimu kian terbuka. Mulutmu semakin membuka. Semakin bergetar. Masih tanpa suara. Berangsur-angsur kupandangi matamu yang sama dengan mata bayi kecil itu. Bibir, hidung, alis... Kupandangi wajahmu sama saja kupandangi wajah bayi kecil itu.

”Dia anakmu...,” jawabmu terbata, kemudian kamu balik bertanya, ”masih ingatkah kau waktu itu, di tempat itu?”

Kakiku bergetar. Semakin berat kaki ini menopang tubuhku. Di kepalaku berkelebat bayang-bayang itu. Waktu itu di tempat itu... Sembilan bulan lalu sebelum aku pergi jauh, di ... Di ruang rumah sakit ini aku dan kamu baru bertemu kembali. Ada dia...

Tidak usah kau jawab, ”Dia anak siapa?”


Semarang, 31 Desember 2008 (Untuk Hana dari mimpi 281208)

DOMPET

Cerpen Eko Pujiono

HUJAN TIBA-TIBA mencurahi bumi. Usai adzan Subuh dari surau di ujung jalan itu, air mengguyur dengan derasnya. Tidak ada petir yang menyambar. Hanya kilat sesekali menerobos ke dalam kamar lewat lubang udara. Subadi sudah sedari tadi terjaga. Matanya memandangi langit-langit. Tajam. Rasanya dia ogah bangun. Apalagi dingin menyusup. Sayup-sayup suara iqomat terdengar, dia tidak memedulikannya.

Hati Subadi tidak tenang. Ada apa gerangan? Pertanyaan itu tidak bisa ia jawab. Kosong. Berpikir begini, ada hal begitu yang mengganjal. Berpikir begitu, ada begini. Ah, capek rasanya. Terdengar suara lenguhan dan tarikan nafas panjang Subadi.
Di kamar itu Subadi sendiri. Ia seorang bujang yang sudah tidak patut dikatakan bujang lagi. Umurnya sudah berkepala tiga. Ia hidup merantau di kota ini dan bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah lembaga pendidikan kenamaan. Ditanya soal gaji, bisa dibilang pas-pasan. Berkekurangan malah. Dia hanya bisa hidup di kamar kos yang sempit ini. Kunci motor kreditan selalu menemani segenap aktivitasnya. Soal makan, dia sering mampir di warteg, tempat makan murah meriah itu. Urusan pulsa tidak selalu lancar. Untuk menyambung hidup, sering kali dia ngutang. Sejak dulu, hidup Subadi tidak jauh berubah.

Seketika Subadi teringat kejadian seminggu lalu. Di tempat bekerja, sore itu, dia menemukan dompet. Dompet itu berwarna kecokelatan. Agak panjang. Dompet seorang perempuan, pikirnya. Punya siapa kiranya? Tanyanya dalam hati. Dia melihat sekelilingnya. Sepi. Petang sudah menyambut. Malam segera menyusul. Di tempat ini aktivitas berangsur hilang. Subadi sebenarnya sudah akan meninggalkan tempat ini. Di lorong, di antara ruang-ruang kuliah, Subadi terbengong sendiri. Dia merenungi dompet yang kini ada ditangannya itu. Dia duduk di atas bangku panjang tempat mahasiswa menanti waktu kuliah tiba. Dompet itu dia temukan di bawah bangku itu. Persis di bawah tempat dia duduk.

Hatinya bimbang. Subadi bingung. Dompet ini dia kembalikan kepada pemiliknya atau dia ambil isinya. Mungkin di dalamnya banyak uangnya. Dompet ini lumayan tebal. Apalagi saat ini sudah tanggal tua. Isi dompetnya menipis. Ah, kalau tidak dia kembalikan, pasti berdosa. Bukankah mengambil barang milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah sama saja dengan mencuri. Hukumnya haram. Bakal dapat dosa. Begitu Subadi teringat pesan guru ngajinya sewaktu ia masih kecil di kampung halamannya.
Dalam perjalanan pulang, Subadi memikirkan jalan terbaik mengatasi persoalan ini. Tak karuan. Perjalanan pulang yang biasanya menempuh waktu hanya lima belas menit, menjadi molor. Laju sepeda motor yang dikendarai Subadi pelan. Sangat pelan.

***

Di depan pintu gerbang sebuah rumah, Subadi terlihat celingukan. Dia melihat ke sana-ke mari. Bagai pencuri tingkah polahnya. Sesekali dia melihat secarik kartu di tangan kanannya. Kartu itu ia ambil dari dalam dompet yang kini berada dalam genggangan tangan kiri. Terlihat dia mencocokkan sesuatu. Benar, Jalan Kepompong nomor sembilan.

Setelah itu, Subadi memarkirkan kendaraannya seenaknya. Merasa yakin, Subadi menggedor gerbang yang tertutup rapat itu.

“Permisi! Permisi…! Selamat sore, Pak! Bu!” teriak Subadi memanggil si empunya rumah.
Rumah itu besar. Sangat besar. Mewah. Pilar-pilarnya tinggi besar. Rumah itu didominasi warna biru muda. Warna langit. Berbagai jenis tanaman menghias depan rumah. Ada yang tinggi berdaun lebar, ada pula yang seukuran pinggang orang dewasa. Deretan pot yang rapi itu juga berisi tanaman hias. Rumput tampak rapi.

Lama Subadi berteriak-teriak. Namun, tak ada satupun orang yang membukakan pintu. Keringatnya mulai bercucuran. Matahari mulai merangkak menuju ufuk. Dia mulai enggan. Bosan menyergap. Terbersit dalam benaknya untuk pulang saja.

Namun, tunggu dulu. Bagaimana dengan dompet itu? Dompet itu masih dibawa Subadi.
“Mmm.., apa yang harus aku lakukan dengan dompet ini? Dari awal aku sudah berniat mengembalikan dompet ini. Meski hasilnya nihil,” pikir Subadi sambil memandangi dompet itu.

Dengan sedikit gemetar, dompet itu dibuka Subadi. Subadi sudah pernah membuka dompet ini. Dia menemukan sebuah kartu nama dan beberapa uang seribuan lusuh. Berkat kartu nama itu, Subadi bisa berada di tempat ini.

Kali ini Subadi membuka ke celah-celah yang ada di dalam dompet. Selain kartu nama dan beberapa lembar uang seribu itu, dia menemukan STNK atas nama Hartanto tinggal di Jalan Udang 11 Semarang, KTP atas nama Nurul beralamat di Kendal, beberapa kertas kuitansi dan uang seratus ribu terselip di antara sebuah foto seorang laki-laki.
“Aku sudah capek berusaha mengembalikan dompet ini. Lelah. Panas. Kalau usaha ini tidak membuahkan hasil, bukan berarti aku mempunyai niat mengambil isi dompet ini. Jumlah uangnya tak seberapa. Hanya seratus ribu rupiah. Itung-itung sebagai uang lelah bagi aku. Pemilik rumah mewah itu tidak akan jatuh miskin kehilangan uang segitu,” pikir Subadi lagi.

Subadi mengambil uang itu. Lalu, dia meletakkan dompet itu lewat celah yang ada di bawah gerbang. Dia menyorongkannya ke dalam.

“Selain uang, aku tidak membutuhkan barang yang ada di dalam dompet. Mungkin barang-barang itu sangat berharga bagi pemiliknya. Uang ini anggap saja sebagai imbalan. Dompet ini sudah kukembalikan,” bisiknya lirih.

Subadi tidak yakin atas perbuatannya. Mungkin perbuatannya berdosa. Mungkin tidak apa-apa. Dalam hati yang gamang, segera motor itu Subadi arahkan menuju kosnya. Usai sudah urusannya dengan dompet itu.

***

Nurul tidak bisa tidur. Matanya enggan diajak kompromi. Sekarang sudah pukul empat pagi. Dia merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. Nurul belum makan sejak siang tadi. Uangnya habis. Jatah uang dari orangtua Nurul untuknya selama di kota ini telah habis. Dia baru bisa mengambil jatuh uang bulan depan, satu minggu lagi. Nurul kuliah di sebuah lembaga pendidikan kenamaan di kota ini. Sesekali dia mendapat penghasilan tambahan dengan memberi les privat.

Dompet Nurul hilang bersama isinya, tepat satu minggu yang lalu. Beberapa hari yang lalu Nurul mendapat bayaran les bulan ini dari keluarga yang tinggal di sebuah rumah mewah di Jalan Kepompong. Namun, uang itu tak seberapa. Uang itu juga sudah habis tepat pagi tadi untuk sarapan.

Adzan Subuh menggema. Tubuh yang ringkih itu bangkit dari tempat tidur. Terlihat Nurul mengambil mukena. Dia berjalan menuju sumber suara adzan itu. Ketika dia sampai di surau itu, hening menyambut. Setelah berwudhu, dia masuk ke dalam surau itu.
Tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya. Tak lama iqomat mengalun. Segera Nurul mendirikan sholat Subuh berjamaah.

Sambil menahan sakit, Nurul melakukan gerakan sholat sebisanya. Dalam benaknya terlintas pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Tuhan, serta nasib baik dan buruk. Dalam dekapan dingin dan curahan air dari langit, tiba-tiba tubuh Nurul menggigil. Dari bibir Nurul yang tipis itu, keluar suara yang sangat lirih: “Apakah Tuhan itu benar-benar adil?”


Mijen, 13 Juni 2009