Oleh Eko Pujiono
Seorang gadis cilik berjalan menyusuri lorong. Gadis cilik itu mengenakan ransel. Botol minuman dijinjing. Langkahnya gontai. Rasa-rasanya ransel itu dipenuhi batu berat, nampak roman muka si gadis cilik menciut kecut. Punggungnya merunduk takluk.
Ia menengok-tengok ke sekelilingnya. Yang dilihat cahaya menggelap, udara memekat. Mata dan hidung hambar dibuatnya. Kicau-kicau burung yang biasa menceruit tak lagi terdengar. Hari ini sibuk, penghuni bumi dibuat sibuk. Si gadis cilik itu apakah sibuk? Entahlah, aku tak tahu.
Akupun, karena melihat gadis cilik itu menunduk, turut menunduk. Aku tak bisa bergoyang-digoyang oleh angin. Hari ini angin enggan bertiup menyejukkan apa saja yang dilewatinya. Untuk sekedar lewat saja, angin tak mau. Angin tidak ada. Angin bersembunyi entah dimana. Aku tidak tahu. Aku juga tak tahu kapan angin akan keluar dari persembunyiannya. Atau jangan-jangan angin sedang tertidur. Terlelap oleh hembusannya sendiri. Atau malah angin muak dengan gadis cilik itu. Sangat iri karena tidak diberi minuman dari botol yang dijinjing si gadis cilik, saat angin memintanya karena sangat kehausan. Angin mendelik, kemudian minggat.
Itupun aku tak tahu. Aku bukan Tuhan Yang Maha Tahu. Aku bukan angin atau si gadis cilik, pelaku perang dingin itu. Aku adalah aku. Siapakah aku? Akupun rasa-rasanya pun tidak tahu. Untuk menunjuk jati diriku, lihatlah aku. Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, yang mengharap tahu akan secuil rahasia-Nya tentang diriku sendiri. Sebagai individu, kukuak siapa aku sendiri. Aku: dari, oleh, untuk aku. Tapi tak seorangpun kan tahu, pun untuk mengaku, “Aku adalah aku.”
Aku sering dianggap “lain” oleh yang “lain”. Padahal aku bagian dari dirinya, bahkan bagian dari dirimu juga. Biarpun itu dulu. Aku bukan kamu. Tapi aku ada di dirimu. Semua biarlah: aku sudah memilih untuk menyerah. Katanya hidup penuh pilihan. Dan akupun sudah memilih (menyerah). Hargailah pilihanku. Angkatlah topimu untukku. Berilah sambutan kehangatan dengan senyumanmu.
Sudah, kalau engkau tidak mau lakukan itu. Ini menjadi salah satu resiko yang harus aku tanggung atas pilihan yang aku ambil: (menyerah). “Pecundang,” lirihmu saat aku terbuai dengan mimpi. Sudah cukup anggap aku pecundang. Lirihmu itu sudah keras menampar relung hatiku.
Kalau kau masih menghujat, maka engkau masih tetap menghujat bagian dari dirimu. Perhatikan dirimu sendiri. Lihat gadis cilik itu. Ia menghentikan langkah: diam di satu titik tumpu dua kakinya yang mungil. Cahaya masih menggelap, udara masih memekat. (Kian). Angin sedang genjatan senjata!
Tangan kecil itu menyibak-nyibak rok merah ¾. Kemudian dialihkan untuk merogoh sesuatu di dalam kantong baju putih dekil itu. Lihat dengan sepenuh penglihatanmu, sepenuh hatimu, gadis cilik itu tidak lagi menunduk. Apa kamu menunduk? Aku tidak lagi menunduk. Kuperhatikan dengan hati-hati setiap gerak-gerik gadis cilik itu. Gerakannya sangat luwes sekali seperti hendak menari. Senyumnya menyimpul. Ternyata sebungkus permen yang ia rogoh. Rambut hitam bergelombang mendekati untuk dinyatakan keriting, mengayun-ayun seolah mengisyaratkan tanda girang dan suka cita.
Uuupppsstt…., permen itu jatuh. Belum sempat bibir kecil itu melumat.
“Sayang…, cepat ambil. Belum juga lima menit. Cepat ambil, tunggu apa lagi. Ayo…, sayang kan,” bisik-bisik ini, hesstttt!, jangan bilang-bilang, aku dengar dari batok tempurung kepalanya. Suaranya sangat lirih, hampir-hampir tidak terdengar sama sekali. Aku harus hening untuk dapat mendengarkannya.
Yang sedang saya lakukan ini adalah pekerjaan yang katanya paling menjengkelkan sekaligus mengasyikkan. Pekerjaan ini adalah menguping. Banyak orang yang jengkel jika saja pembicaraan seriusnya dikuping oleh orang lain. Banyak orang keasyikan menguping pembicaraan orang lain. Jurus jitu menguping hanya satu. Selalu pasang ancang-ancang untuk mensensitifkan telinga.
Hei, coba kamu perhatikan dirimu sendiri sebelum melakukan pengamatan terhadap anak kecil itu. Dia masih kecil, kamu? Dia masih sekolah, kamu? Dia sendiri, kamu? Aku memperhatikannya, kamu? Perang dingin, kamu? Aku memperhatikannya, kamu? Aku mengupinginya, kamu? Hei apa yang kamu lakukan?
Anak kecil itu kini bermuram durja. Permennya terjatuh dan belum sempat diemut. Tidak! Permen itu tidak dipungut. Ubin teras sekolah merasa keenakkan menjilat-jilat permen anak kecil itu. Seolah ubin itu tidak tahu bagaimana perasaan sang anak yang masih cilik itu. Sungguh terlalu. Prettttt! Ubin itu kan benda mati, tidak punya perasaan. Rocker saja juga manusia, apalagi ubin. Berperasaan ….? Gila! Kamu?
Belum lagi lima menit, sang anak masih tetap tidak mau beranjak dari tempat ia berdiri. Ia masih pada posisi yang sama. Kakinya masih di situ. Permen itu juga masih di situ. Tapi ada yang tidak di situ, apa? Pikiran anak kecil itu entah dimana. Kalau kamu tanya padaku, mana kutahu. Kalaupun kau Tanya Tora Sudiro atau Aming atau pemain Ekstravaganza lainnya, pasti dijawab, “Meneketehek.”
Aku bukan pembaca pikiran orang lain. Kadang saja, malah sering, aku tidak paham akan pikiranku sendiri. Bagaimana pikiranku? Kadang melayang, melambung, terpendam, jenius, bahkan sering pula pikiranku terpaut dengan perasaan yang sedang aku rasakan. Rasanya gimana-gimana gitu. (Ganti). Kamu bagaimana? Pikiranmu itu?
Telah habis lima menit. Maka telah jadi tidak steril (permen) itu. Basi. Telah tidak layak untuk dipungut. Kesempatan telah melayang hilang. Kesempatan telah disia-siakan. Tidak boleh ada penyesalan.
Gadis cilik itupun kini mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Dikibaskan tangannya, kemudian gigit jari. Ia tidaklah meneteskan air mata, menangis pun tidak, apalagi merengek. Ia tampak tegar. Tidak digoyangkan kakinya. Ia tetap berpijak. Kuat. Formasi tubuhnya seperti menara Eiffel. Kaki-kakinya adalah posisi kuda-kuda.
Ia diam. Lama. Ia tidak melakukan apa-apa. Tetap berdiri sendiri di lorong-teras kelas suatu sekolah. Angin telah berperang dingin dengannya. Tarikan dan hembusan nafasnya saja yang terlihat. Detak-detak jantungnya saja yang terdengar. Nafas dan detak adalah pertanda bahwa gadis cilik itu hidup.
Lama-kelamaan aku bosan juga menyaksikan si cilik itu. Tanpa polah, tanpa ekspresi. Tanpa apa-apa, hanya botol minuman yang sepertinya sudah habis isinya, ia tenteng dipundaknya. Seharusnya kan anak kecil itu ceria, banyak canda, menggemaskan, dan menyenangkan orang-orang dewasa, seperti aku. Lama-kelamaan aku muak pada anak kecil itu. Tampak egois dan tidak bersemangat.
Lama-kelamaan aku benci pada anak kecil itu.
Aku runutkan; awalnya anak itu berjalan, terus genjatan senjata dengan angin, perang dingin. Kemudian permennya terjatuh, kesempatan untuk mengambil pun hilang. Permen itu menjadi sia-sia. Ia diam. Tampak tegar. Berdiri diam. Aku sendiri jadi muak. Ia mengingatkanku pada sejatinya diriku sendiri.
Aku ceritakan, aku adalah pohon, adalah daun, adalah akar adalah buah (mangga) di depan kelas, dekat lorong-teras, lima meter di depan gadis cilik itu. Daunku rimbun, rantingku, cabangku, batangku, akarku adalah bagian-bagian tubuhku; bagian dari dirimu juga.
Tidak usah merasa aneh, aku dulu juga sama sepertimu, “manusia”. Aku hanyalah makhluk yang terkutuk menjadi pohon. Aku dikutuk tentu ada sebabnya. Aku kecewa telah membiarkan begitu saja suatu kesempatan. Saat kesempatan itu telah raib, laiknya dirimu, aku menyesal.
Suatu sore seperti sore ini ketika ada bocah cilik ini, di tempat yang sama, di sini, ketika aku bergenjatan senjata dengan angin, aku ……. menggantung di pohon mangga, yang kini telah menjadi tubuhku.
Ajaib, tubuhku tersedot kuat masuk ke relung pohon. Aku, lambat-laun menyusup ke bagian-bagian tubuh pohon, kemudian ke otak dan perasaan. Hingga pada suatu masa aku menguasai pohon mangga ini seutuhnya. Aku yang mengatur semua atas diri pohon mangga yang tidak lain adalah diriku sendiri. Aku adalah pohon mangga itu.
Aku dulu kecewa. Kini aku melihat anak perempuan kecil yang kecewa, tapi tidak mengecewakan dirinya sendiri, pun orang lain. Ia tidak kecewa atas putusannya, secara emosional pribadi ciliknya. Gadis cilik….., permenmu jatuh.
Semarang, 070701
Kamis, 27 Agustus 2009
KABAR BURUNG DARI LANGIT
Cerpen Eko Pujiono
LANGIT MASIH SEPERTI YANG KEMARIN ketika kabar itu merebak di seantero sekolah. Kabar itu dibicarakan setiap saat. Terlebih ketika jam istirahat dan jam kosong pelajaran.
Para siswa berkelompok, empat sampai delapan orang. Putra-putri. Mereka tersebar di penjuru sekolah. Di kelas, di perpus, di kantin, di bawah pohon, dan di sudut manapun yang asyik buat ngobrol. Bicaranya kasak-kusuk ala acara gosip di televisi. Weleh-weleh bagai diskusi politik. Tapi, lebih mirip kampaye parpol untuk merekrut partisan.
Tidak jelas siapa pembawa berita itu. Yang jelas berita itu mengalahkan gosip-gosip selebritis paling hot sekalipun. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Via SMS. Sangat cepat. Secepat komet Halley kalau meluncur ke bumi. Bak virus. Melumpuhkan aktivitas di sekolah.
Siswa dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, semuanya sibuk membicarakan kabar itu. Guru-gurupun mulai terpengaruh, meski sok jaim. Di setiap pelajaran, Bapak-Ibu guru menyelipkan khotbah keagamaan. Ada yang singkat dan ada pula yang panjang. Topik utamanya tentang surga-neraka, kehancuran bumi dan kemusnahan manusia, amal baik dan buruk, serta ajakan beramaliah sesuai tuntunan agama.
Kabar itu diiringi kehisterisan, ketakutan, dan segala macam perasaan lainnya. Bercampur aduk. Seperti es campur. Anehnya, tingkah mereka pun sekarang menjadi bodoh, eh heboh. Masak Junet yang dikenal suka berkelahi kini sukanya ke mushola. Dia mengajak teman-teman gengnya. Tidak hanya Junet Cs, malahan hampir semua siswa yang beragama Islam turut ke mushola. Walhasil saat sholat Dzuhur, mushola sekolah penuh. Bahkan harus rela antri dan berdesak-desakkan. Bagi yang non-muslim, mereka membuat jema’at tersendiri. Melantunkan senandung do’a-do’a dan puji-pujian.
***
Aku dipanggil menghadap Kepala Sekolah. Entah untuk urusan apa. Dag, dig, dug…, detak jantungku.
“Bapak memanggil saya?” sambil agak menundukkan badan ke arah Pak Kadir yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.
“Ya, Jat. Silahkan duduk.”
Aku duduk di sofa, di dekat meja kerja Kepala Sekolah.
“Ada apa, ya, Pak?” tanyaku.
“Begini, sekolah kita sedang merebak adanya isu. Isu ini menimbulkan dampak buruk. Bisa dibilang sudah sangat meresahkan,” kata Pak Kadir sambil memainkan pena antiknya.
“Maaf, Pak. Bukankah malah membuat sekolah kita menjadi religius,” aku menyela.
“Ya, memang. Tapi, tidak bagi kegiatan belajar mengajar. Pikiran siswa semuanya terpecah memikirkan itu. Mana sempat memikirkan pelajaran.”
“Betul juga, Pak. Lalu?”
“Kamu sebagai Ketua OSIS, aku perintahkan untuk mengusut siapa yang menyebarkan isu ini. Ketemu tidak ketemu, kamu harus melaporkan informasi sekecil apapun mengenai perkembangan yang terjadi. Bagaimana?”
Aku terdiam. Pandanganku menerawang ke langit-langit. Mana bisa aku melakukannya. Aku sangsi.
“Soal biaya ini-itu jangan kuatir. Sudah saya siapkan. Mau? Mau? Mau?”
Aku tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Segera aku meninggalkan ruang Kepala Sekolah. Dalam perjalanan ke kelasku, terbayang kepiawaian Detektif Conan dalam mengungkap kasus. Aku punya kesempatan untuk menjadi seperti dia. Wuih.., Conan, tokoh kartun Jepang idolaku.
***
Sudah seminggu aku melakukan investigasi isu ini. Hasilnya, tiga nama aku kantongi. Felisa, Saipul, dan Junet. Aku sudah melaporkan mereka ke Kepala Sekolah dan diperintahkan untuk memanggil mereka. Segera mereka aku bawa untuk menghadap Pak Kadir.
Felisa aku sangka karena dialah biang gosip di sekolah. Semua gossip yang beredar di sekolah ini pasti sumbernya dari dia. Mulai dari gossip artis, film, fesyen, dan apapunlah, pasti Felisa tahu. Kutahu Felisa kedapatan sedang membicarakan isu itu beberapa kali dengan siswa lain. Mungkin Felisa ingin membuat sensasi.
Sementara Saipul kusangka karena dia adalah Ketua Rohis di sekolah. Alasannya sederhana. Dulu mushola yang terletak di pojokan sekolah, sering sepi. Kesannya angker. Tidak ada siswa yang mau berjamaah. Datang saja enggan. Setelah ada isu itu, Saipul sering mengajak teman-teman untuk beramal baik, salah satunya dengan sholat dan memanfaat mushola untuk keperluan ibadah. Kini, mushola selalu berjibun dipenuhi orang. Entah untuk sholat berjamaah, ngaji atau diskusi kecil-kecilan soal Islam.
Junet memiliki pengaruh besar di sekolah. Di adalah ketua geng di sekolah. Banyak siswa yang takut kepadanya. Aku sendiri sungkan kepada Junet. Perawakannya tinggi besar. Kepalan tangannya mantap. Para siswa banyak yang memanggil Junet dengan sebutan “Big Boss”. Apa yang dia katakan, pasti diamini oleh siswa lain. Sudah banyak kejadian, Junet menghajar siswa yang tidak sepaham dengan dirinya.
Di ruang Kepala Sekolah, siang itu usai istirahat kedua, aku bersama ketiga orang itu, menghadap Pak Kadir. Di ruang yang tak seberapa luas ini, suasana tegang mencekam. Tidak ada yang berani bicara. Sambil duduk, Pak Kadir sepertinya sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aku tak coba bersuara.
Pak Kadir mengamat-amati tiga orang yang datang bersamaku. Satu per satu. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Silahkan duduk,” pinta Pak Kadir yang rasanya sudah kadaluwarsa.
Kakiku terasa pegal berdiri lama. Jantungku mulai berdetak kencang. Aku duduk di sebelah Saipul. Aku tegang menunggu apa yang bakal terjadi. Pak Kadir kini berdiri.
“Saya mendapat laporan bahwa salah satu dari kalian adalah penyebar isu yang telah meresahkan sekolah kita. Saya ingin kalian mengaku. Siapa yang menyebar isu itu?” tanya Pak Kadir dengan rona wajah yang menakutkan.
Sumua diam. Lama. Tidak ada yang berani menjawab.
“Kalau kalian tidak ada yang mau mengaku, baiklah, saya interogasi satu per satu. Saipul, kamu tahu isu ini dari siapa?”
“Aku.., akuuu, Pak. Aku tahu dari Felisa, Pak. Info itu kemudian aku gunakan untuk mengajak teman-teman supaya rajin ke mushola. Demi Allah, aku hanya menyebar kabar itu demi kabaikkan, Pak,” jawab Saipul dengan ucapan terputus-putus.
“Felisa, kamu tahu dari siapa?”
“Aku tahu dari Junet. Ketika itu pas di kantin, Junet memberitahuiku mengenai hal ini.”
“Wah, lagi-lagi kamu Junet yang membuat kekisruhan di sekolah kita. Kapan kamu mau insaf? Kenapa kamu tadi tidak mengaku saja. Ternyata, kamu biang keroknya.” Pak kadir meradang.
“Maaf, Pak. Aku tahu info itu dari seseorang. Dia mengirimiku SMS. Aku masih menyimpan SMS itu. Sebentar,” Junet mencari sesuatu di sakunya, “ini, Pak.”
Junet memperlihatkan HPnya kepada Pak Kadir. Sejurus Pak Kadir mengamati dengan cara seksama dan dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya. Pak Kadir menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya memerah.
“Jatmiko, kamu baca SMS ini. Mungkin kamu tahu nomor pengirimnya,” perintah Pak Kadir.
Kuraih HP Junet.
Bc korn hr ni. Tgl 12-12-2012 KIAMAT. Sbrkn k tmn2.
Sender: +628500011333
Message center: +628550000000
Sent: 15-Jan-2009 06:29:43
Aku terperanjat kaget. Ya ampiiuuunnn, itu kan nomor HPku. Maksudku mengirim SMS itu hanya ingin agar teman-teman membaca artikel bagus tentang kiamat di koran itu. Kenapa jadi begini?
“Kamu tahu nomor itu?” tanya Pak Kadir lagi.
“Punyaku….,” jawabku sambil menunduk.
Kucuri pandang. Pak Kadir, Junet, Saipul, dan Felisa, melihatku dengan melotot. Wajah mereka menyala bagai lampu merah bangjo. Aku mendengar suara gigi gemeretakkan. Aku tidak bisa membayangkan hukuman yang akan kuterima. Pak Kadir terkenal seorang yang sangat galak. Wah…, mampus aku!
Semarang, 14 Maret 2009
LANGIT MASIH SEPERTI YANG KEMARIN ketika kabar itu merebak di seantero sekolah. Kabar itu dibicarakan setiap saat. Terlebih ketika jam istirahat dan jam kosong pelajaran.
Para siswa berkelompok, empat sampai delapan orang. Putra-putri. Mereka tersebar di penjuru sekolah. Di kelas, di perpus, di kantin, di bawah pohon, dan di sudut manapun yang asyik buat ngobrol. Bicaranya kasak-kusuk ala acara gosip di televisi. Weleh-weleh bagai diskusi politik. Tapi, lebih mirip kampaye parpol untuk merekrut partisan.
Tidak jelas siapa pembawa berita itu. Yang jelas berita itu mengalahkan gosip-gosip selebritis paling hot sekalipun. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Via SMS. Sangat cepat. Secepat komet Halley kalau meluncur ke bumi. Bak virus. Melumpuhkan aktivitas di sekolah.
Siswa dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, semuanya sibuk membicarakan kabar itu. Guru-gurupun mulai terpengaruh, meski sok jaim. Di setiap pelajaran, Bapak-Ibu guru menyelipkan khotbah keagamaan. Ada yang singkat dan ada pula yang panjang. Topik utamanya tentang surga-neraka, kehancuran bumi dan kemusnahan manusia, amal baik dan buruk, serta ajakan beramaliah sesuai tuntunan agama.
Kabar itu diiringi kehisterisan, ketakutan, dan segala macam perasaan lainnya. Bercampur aduk. Seperti es campur. Anehnya, tingkah mereka pun sekarang menjadi bodoh, eh heboh. Masak Junet yang dikenal suka berkelahi kini sukanya ke mushola. Dia mengajak teman-teman gengnya. Tidak hanya Junet Cs, malahan hampir semua siswa yang beragama Islam turut ke mushola. Walhasil saat sholat Dzuhur, mushola sekolah penuh. Bahkan harus rela antri dan berdesak-desakkan. Bagi yang non-muslim, mereka membuat jema’at tersendiri. Melantunkan senandung do’a-do’a dan puji-pujian.
***
Aku dipanggil menghadap Kepala Sekolah. Entah untuk urusan apa. Dag, dig, dug…, detak jantungku.
“Bapak memanggil saya?” sambil agak menundukkan badan ke arah Pak Kadir yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.
“Ya, Jat. Silahkan duduk.”
Aku duduk di sofa, di dekat meja kerja Kepala Sekolah.
“Ada apa, ya, Pak?” tanyaku.
“Begini, sekolah kita sedang merebak adanya isu. Isu ini menimbulkan dampak buruk. Bisa dibilang sudah sangat meresahkan,” kata Pak Kadir sambil memainkan pena antiknya.
“Maaf, Pak. Bukankah malah membuat sekolah kita menjadi religius,” aku menyela.
“Ya, memang. Tapi, tidak bagi kegiatan belajar mengajar. Pikiran siswa semuanya terpecah memikirkan itu. Mana sempat memikirkan pelajaran.”
“Betul juga, Pak. Lalu?”
“Kamu sebagai Ketua OSIS, aku perintahkan untuk mengusut siapa yang menyebarkan isu ini. Ketemu tidak ketemu, kamu harus melaporkan informasi sekecil apapun mengenai perkembangan yang terjadi. Bagaimana?”
Aku terdiam. Pandanganku menerawang ke langit-langit. Mana bisa aku melakukannya. Aku sangsi.
“Soal biaya ini-itu jangan kuatir. Sudah saya siapkan. Mau? Mau? Mau?”
Aku tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Segera aku meninggalkan ruang Kepala Sekolah. Dalam perjalanan ke kelasku, terbayang kepiawaian Detektif Conan dalam mengungkap kasus. Aku punya kesempatan untuk menjadi seperti dia. Wuih.., Conan, tokoh kartun Jepang idolaku.
***
Sudah seminggu aku melakukan investigasi isu ini. Hasilnya, tiga nama aku kantongi. Felisa, Saipul, dan Junet. Aku sudah melaporkan mereka ke Kepala Sekolah dan diperintahkan untuk memanggil mereka. Segera mereka aku bawa untuk menghadap Pak Kadir.
Felisa aku sangka karena dialah biang gosip di sekolah. Semua gossip yang beredar di sekolah ini pasti sumbernya dari dia. Mulai dari gossip artis, film, fesyen, dan apapunlah, pasti Felisa tahu. Kutahu Felisa kedapatan sedang membicarakan isu itu beberapa kali dengan siswa lain. Mungkin Felisa ingin membuat sensasi.
Sementara Saipul kusangka karena dia adalah Ketua Rohis di sekolah. Alasannya sederhana. Dulu mushola yang terletak di pojokan sekolah, sering sepi. Kesannya angker. Tidak ada siswa yang mau berjamaah. Datang saja enggan. Setelah ada isu itu, Saipul sering mengajak teman-teman untuk beramal baik, salah satunya dengan sholat dan memanfaat mushola untuk keperluan ibadah. Kini, mushola selalu berjibun dipenuhi orang. Entah untuk sholat berjamaah, ngaji atau diskusi kecil-kecilan soal Islam.
Junet memiliki pengaruh besar di sekolah. Di adalah ketua geng di sekolah. Banyak siswa yang takut kepadanya. Aku sendiri sungkan kepada Junet. Perawakannya tinggi besar. Kepalan tangannya mantap. Para siswa banyak yang memanggil Junet dengan sebutan “Big Boss”. Apa yang dia katakan, pasti diamini oleh siswa lain. Sudah banyak kejadian, Junet menghajar siswa yang tidak sepaham dengan dirinya.
Di ruang Kepala Sekolah, siang itu usai istirahat kedua, aku bersama ketiga orang itu, menghadap Pak Kadir. Di ruang yang tak seberapa luas ini, suasana tegang mencekam. Tidak ada yang berani bicara. Sambil duduk, Pak Kadir sepertinya sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aku tak coba bersuara.
Pak Kadir mengamat-amati tiga orang yang datang bersamaku. Satu per satu. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Silahkan duduk,” pinta Pak Kadir yang rasanya sudah kadaluwarsa.
Kakiku terasa pegal berdiri lama. Jantungku mulai berdetak kencang. Aku duduk di sebelah Saipul. Aku tegang menunggu apa yang bakal terjadi. Pak Kadir kini berdiri.
“Saya mendapat laporan bahwa salah satu dari kalian adalah penyebar isu yang telah meresahkan sekolah kita. Saya ingin kalian mengaku. Siapa yang menyebar isu itu?” tanya Pak Kadir dengan rona wajah yang menakutkan.
Sumua diam. Lama. Tidak ada yang berani menjawab.
“Kalau kalian tidak ada yang mau mengaku, baiklah, saya interogasi satu per satu. Saipul, kamu tahu isu ini dari siapa?”
“Aku.., akuuu, Pak. Aku tahu dari Felisa, Pak. Info itu kemudian aku gunakan untuk mengajak teman-teman supaya rajin ke mushola. Demi Allah, aku hanya menyebar kabar itu demi kabaikkan, Pak,” jawab Saipul dengan ucapan terputus-putus.
“Felisa, kamu tahu dari siapa?”
“Aku tahu dari Junet. Ketika itu pas di kantin, Junet memberitahuiku mengenai hal ini.”
“Wah, lagi-lagi kamu Junet yang membuat kekisruhan di sekolah kita. Kapan kamu mau insaf? Kenapa kamu tadi tidak mengaku saja. Ternyata, kamu biang keroknya.” Pak kadir meradang.
“Maaf, Pak. Aku tahu info itu dari seseorang. Dia mengirimiku SMS. Aku masih menyimpan SMS itu. Sebentar,” Junet mencari sesuatu di sakunya, “ini, Pak.”
Junet memperlihatkan HPnya kepada Pak Kadir. Sejurus Pak Kadir mengamati dengan cara seksama dan dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya. Pak Kadir menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya memerah.
“Jatmiko, kamu baca SMS ini. Mungkin kamu tahu nomor pengirimnya,” perintah Pak Kadir.
Kuraih HP Junet.
Bc korn hr ni. Tgl 12-12-2012 KIAMAT. Sbrkn k tmn2.
Sender: +628500011333
Message center: +628550000000
Sent: 15-Jan-2009 06:29:43
Aku terperanjat kaget. Ya ampiiuuunnn, itu kan nomor HPku. Maksudku mengirim SMS itu hanya ingin agar teman-teman membaca artikel bagus tentang kiamat di koran itu. Kenapa jadi begini?
“Kamu tahu nomor itu?” tanya Pak Kadir lagi.
“Punyaku….,” jawabku sambil menunduk.
Kucuri pandang. Pak Kadir, Junet, Saipul, dan Felisa, melihatku dengan melotot. Wajah mereka menyala bagai lampu merah bangjo. Aku mendengar suara gigi gemeretakkan. Aku tidak bisa membayangkan hukuman yang akan kuterima. Pak Kadir terkenal seorang yang sangat galak. Wah…, mampus aku!
Semarang, 14 Maret 2009
Cerpen Eko Pujiono
Sarjan sama sekali tak nampak di rumah pak Subadi saat melangsungkan acara pernikahan anaknya, si Romlah. Kejadian ini sudah cukup menghebohkan seisi kampung.
Adatnya jika salah seorang tetangga memiliki gawe, seperti mantu yang dilakukan oleh keluarga pak Subadi, baiknya tetangga yang lain ikut datang ke rumahnya untuk membantu atau hanya sekedar meramaikan. Istilahnya disebut rewang. Tapi, bukan itu yang membuat geger seisi kampung. Pasalnya pak Subadi pernah menolak lamaran Sarjan untuk meminang Romlah, satu tahun yang lalu. Ada yang menyebutkan Sarjan masih sakit hati, sehingga tak mau datang ke rumah pak Subadi. Adapula yang ngomong begini, “Kasihan ya si Romlah, gara-gara bapaknya, dia harus kawin dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Heh, kalian tahu nggak, kalau kaki yang laki ada ciri-nya? Tadi saja tidak mau diwisuhi oleh Romlah. Lihat nggak mukanya? Padahal, hih…., mukanya juga tidak ganteng-ganteng amat. Dibanding Sarjan, jauh…., kalah deh!”
Adapula yang hanya diam saja mendengar berbagai spekulasi tentang Sarjan. Ada yang lebih ekstrim dengan memaki-maki dan menyalahkan pak Subadi.
“Dasar pak Subadi itu buta, tidak bisa membedakan mana yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan anaknya, Romlah. Katanya, dulu sejak SMA Romlah dan Sarjan sudah berpacaran. Apa ini tidak sama saja dengan zaman Siti Nurbaya, gila tidak?”
Yang lain bilang begini, “Kalau pak Subadi mau lebih melek, Sarjan sudah cukup mapan. Dia jadi pegawai di kantor kecamatan, sudah negeri lagi. Anaknya sopan, rajin, pokoknya kalau saya punya anak perempuan, pasti akan saya suruh kawin sama Sarjan. Tidak pakai lama-lama, langsung saja kukawinkan kalau Sarjan mau.”
Itu baru beberapa omongan yang beberapa hari ini semenjak pak Subadi punya gawe, beredar di sudut-sudut kampung. Omongan-omongan itu diperbincangkan mulai dari pagi sampai malam hari. Di warung-warung, di depan rumah, di sawah, di pasar desa, sampai di pinggir kali. Kejadian ini membuat keluarga pak Subadi terpukul. Karena rata-rata banyak yang menyalahkan pak Subadi. Mereka lebih bersimpati pada Sarjan.
Tentang Sarjan sendiri yang pegawai kantor kecamatan, umurnya sudah dua puluh lima tahun. Badannya tinggi tegap, kulitnya kuning agak gelap. Rambutnya selalu klimies tersisir rapi. Pakaian selalu masuk. Unggah-ungguh-nya baik. Berkepribadian. Ia tinggal di kampung ini seorang diri di rumah milik sendiri. Sarjan aslinya bukan dari sini, tetapi dari kampung seberang kali. Ia pindah kemari karena kampung ini lebih dekat dengan kantor kecamatan daripada kampungnya yang harus menyeberang kali segala. Ia tinggal nyetater motor vespa butut warisan bapaknya yang telah meninggal tiga tahun lalu.
Sebenarnya Sarjan lebih memilih tinggal bersama ibunya dan dua orang adik perempuan di kampungnya sendiri. Pasalnya, disini apa-apa harus ia lakukan sendiri. Dari masak, makan, nyuci pakaian, membersihkan rumah, sampai hiiiiih… tidur sendiri.
Enam tahun lalu, setelah satu tahun ia lulus dari SMA, Sarjan coba-coba ikut tes CPNS untuk formasi pegawai rendahan bidang administrasi perkantoran. Ijazah SMA-nya sudah cukup untuk melamar. Tidak ada badai, tidak ada tsunami, tidak ada topan, tidak ada lesus, Sarjan diterima dan ditempatkan di kantor kecamatan yang sampai sekarang ia bekerja. Untung tidak ada pengumuman ulang yang marak menghiasi seleksi CPNS beberapa tahun belakangan ini. Jadi, lolosnya Sarjan tidak ada anulir. Beberapa kali bapaknya berkata pada Sarjan begini, “Bejane awak ora ono sing bisa ngalahake—kemujuran seseorang tidak ada yang bisa mengalahkan.” Begitu ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Sarjan dan masih selalu dapat diingat-ingat oleh Sarjan. Maka setelah positif lolos, oleh bapaknya dibuatkan selamatan kecil dengan satu ingkung ayam (satu ayam utuh) dan jajanan pasar sebagai pelengkapnya.
Soal geger, tidak hanya di kampung ini. Ternyata di kantor kecamatan, juga begitu. Semua rekan kerja kantor membicarakan Sarjan. Apalagi sejak kejadian ini, Sarjan tidak menampakkan batang hidungnya, baik di kantor kecamatan, maupun di kampungnya. Sarjan hilang, lenyap ditelan oleh bumi. Ditambah hilangnya Sarjan, maka semakin seru dan geger memperbincangkan tentang Sarjan. Semakin banyak spekulasi-spekulasi yang dapat diperbuat. Ada yang mengait-ngaitkan antara kejadian yang satu dengan kejadian lain yang dialami oleh Sarjan. Bahkan ada yang mengaitkan dengan kejadian di masa kecil Sarjan. Kini, pamor Sarjan menjadi melambung. Ibarat artis, Sarjan sedang naik daun di puncak lidah orang-orang, menjadi pusat perhatian, menjadi bahan omongan, gosip, sampai menjadi bahan untuk cuci mulut pembuang selilit setelah makan. Sarjan, nama yang cukup singkat. Ada dua “a”-nya. Tapi, tidak sesingkat mengekspos dirinya saat ini.
Di kantor kecamatan, Sarjan hanya meninggalkan secarik kertas bertandatangan dan bermeterai segala. Isinya tentang permohonan cuti selama beberapa waktu yang tidak dapat ia tentukan berapa lama waktunya. Apakah satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, satu tahun, tidak dicantumkan. Alasannya bukan sakit, karena sehari sebelumnya Sarjan terlihat sehat-sehat saja masuk kerja. Alasan yang ia utarakan berbunyi seperti ini:
“Demi Tuhan, pokoknya saya minta cuti entah sampai kapan. Saya mohon. Kalau tidak diberi, maka sama saja membunuh saya di waktu yang sangat mendesak ini. Please diberi, kalau tidak, awas! Yang lain jangan meri. Trim’s pak camat.”
Pak camat ikut-ikutan klojotan dan terpukul menyaksikan ulah Sarjan yang sampai segila ini. Ia ikut-ikut nimbrung membincang Sarjan. Yang membuat pak camat merasa terpukul adalah apa yang dituliskan Sarjan dalam surat permohonan cutinya. Begitu tidak sopan. Tidak mencerminkan kepribadian Sarjan yang begitu sopan dan lemah lembut, but….
Sebenarnya pak camat sudah tahu apa yang hendak diulah oleh sarjan. Sehari sebelumnya Sarjan sudah membincang apa saja yang hendak dilakukannya selama cuti pada pak camat. Pak camat hanya manthuk-manthuk saja mendengar apa yang disampaikan oleh Sarjan berikut argumen-argumen yang dilontarkan dengan begitu cerdasnya dan terlebih dengan sopannya. Pak camat mengamini saja. Pak camat ikut-ikutan bertingkah seperti yang lain, tak lain, tak bukan, hanya lagak kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu biar semakin heboh.
Di kampungnya sendiri, malah ibu dan dua saudaranya juga ikut menghilang bersama Sarjan. Tetangga di sekitarnya tidak ada yang tahu kapan dan dimana mereka pergi. Seperti hantu mereka menghilang. Ada beberapa tetangga melihat terakhr kali ketika sekeluarga itu sore hari sebelumnya, sedang nyekar di kuburan bapaknya Sarjan. Baru tujuh hari dari hari pertama Sarjan hilang—lebih tepatnya sejak dari hari pak Subadi melangsungkan pernikahan anaknya—Sarjan tiba-tiba menampakkan batang hidungnya. Kampung semakin heboh lagi, Sarjan terlihat sedang membonceng seorang gadis dengan vespanya. Orang yang melihat langsung tercengang menyaksikan Sarjan membonceng gadis yang sangat cantik. Gadis itu berkerudung, berkulit kuning langsat. Perawakakan tubuhnya ideal. Pokoknya waahhh, top B-G-T, top banget deh.
Maka orang itu langsung pergi ke warung, kemana saja yang penting ada orang yang dapat ditemuinya untuk memberitahukan akan apa yang baru saja dilihatnya. Warga ada yang percaya, ada yang setengah percaya, dan ada yang menyangsikan. Padahal, si pembawa warta itu ngotot memberitahukan yang sebenar-benarnya apa yang baru saja dilihatnya. Berita itu cepat menyebar, bahkan sudah sampai di kantor kecamatan. Di kantor juga begitu, suasana menjadi tak karuan. Maka segera diutus seseorang untuk mencaritahu tentang apa saja yang telah dilakukan Sarjan yang telah membuat geger penghuni bumi, langsung ke rumah Sarjan. Yang diutus adalah Mamat, teman dekat Sarjan di kantor kecamatan. Dengan segera Mamat dengan meminjam sepeda motor dinas pak camat langsung menuju rumah Sarjan.
Sesampainya di rumah Sarjan, ternyata sudah banyak orang yang hendak mengorek keterangan dari Sarjan. Termasuk pak Subadi, pembawa warta dan tiga orang yang menyangsikan Sarjan pulang dengan seorang gadis. Mereka sangat ingin tahu bagaimana yang sebenarnya. Setelah berjubel di depan pintu sambil memanggil si empunya rumah, mereka semua diterima oleh Sarjan. Dan langsung dipersilahkan duduk di kursi di ruang tamu yang beberapa meter tepat menghadap pintu masuk.
Aksesori di ruangan ini cukup sederhana. Hanya terlihat gambar-foto presiden dan wakilnya nampang di dinding ruangan, beberapa foto Sarjan dan keluarga, kalender dan jam dinding yang kini telah menunjuk pukul sepuluh kurang lima menit. Ada masing-masing satu jendela di dinding kanan-kiri rumah ini yang terbuka lebar, sehingga cahaya dan udara bebas keluar masuk. Ada lemari panjang berisi buku koleksi Sarjan yang dijadikan penyekat ruangan ini dengan ruang dalam. Rumah Sarjan memang tak terlalu luas. Untuk keluarga kecil, pasti sudah cukup. Yang luas adalah bagian pekarangannya yang ia tanami apotek hidup dan ada kolam ikan di belakang rumah. Sebuah sumur di kanan rumah, dekat dengan bagian kamar mandinya.
Ruangan yang tak begitu luas kini nampak sempit sekali dipenuhi oleh orang. Kursi sofa yang mengelilingi meja kecil—yang hanya cukup menompang enam bokong orang—diduduki oleh enam orang. Sementara itu Sarjan masuk ke dalam untuk mengambil satu kursi lagi untuknya di ruang makan pribadinya.
“Begini lho dik Sarjan, bukan maksud mencampuri kehidupan dik Sarjan, kami semua ini datang ke sini ingin tahu apa saja yang dilakukan adik ini selama sekitar seminggu ini,” terang pak Subadi, “soalnya kampung ini menjadi geger semenjak kepergian dik Sarjan.”
“Ya, Jan,” Mamat menyahut seperti burung perkutut, “di kantor juga heboh banget. Kemana sih kamu?”
Yang lainnya juga turut seperti burung perkutut. Manut dengan manggut-manggut meminta kejelasan dari Sarjan.
“Saya pergi ada urusan penting,” jawab Sarjan dengan singkat.
“Jadi, kamu tidak sakit hati saat Romlah saya nikahkan dengan orang lain?”
“Ya, tidak pak Subadi. Lha wong Romlah mungkin sudah bukan jodoh saya, kok saya harus ngoyo.”
“Terus kamu ada urusan apa?”
“Saya….., ah, hanya urusan pribadi yang sangat penting dan mendesak.”
“Apa?” tanya Mamat penuh penasaran.
“Menikah!”
Kontan semua yang mendengar perkataan Sarjan yang singkat dan tegas itu menjadi kaget dan setengah mematung.
“Jadi bener kamu pulang bawa gadis, cantik lagi?,” tanya salah seorang yang paling sangsi.
“Gadis itu istri kamu Jan,” tanya si pembawa warta.
“Ya!,” jawab Sarjan. “Oh, ya, mari saya kenalkan dengan istri saya. Sebentar…” sambil Sarjan bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam.
Semua orang di ruang tamu itu menjadi tak sabar untuk melihat istri Sarjan. Mereka sudah pasang kuda-kuda dalam bola matanya untuk menyaksikan gadis yang menjadi pilihan Sarjan. Persiapan kuda-kuda itu ternyata mental setelah Sarjan dan istrinya keluar. Semua kaget setelah tahu bahwa yang menjadi istri Sarjan adalah Imah, anak gadisnya pak camat.
Sementara itu Sarjan dan Imah hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan orang-orang yang di depannya kaget dan melongo saja.
“Begini, saya tidak punya maksud apa-apa dengan apa yang saya perbuat ini dengan tanpa memberitahu dulu pada tetangga dan warga sekitar. Saya mohon maaf jika dari ulah saya ini ada yang membuat tidak berkenan. Apa yang saya lakukan ini hanya memenuhi apa yang diamanatkan oleh bapak saya sebelum meninggal, bahwa ketika saya melangsungkan pernikahan harus disaksikan oleh beberapa orang saja dari keluarga saya dan keluarga calon istri saya. Katanya ini sudah menjadi tradisi yang dijalankan oleh keluarga garis keturunan bapak. Mau tidak mau saya harus mematuhi amanat dari bapak. Apalagi disampaikan sebelum tiba ajalnya.”
Semua orang menjadi-jadi melongo mendengar penjelasan dari Sarjan. Maka untuk menghilangkan longoannya, mereka minta ijin pamit pulang. Tapi, dalam hati bukan alasan itu mereka minta undur pulang. Mereka sudah tidak sabar setelah mendapatkan bahan omongan untuk membicarakannya yang akan menghebohkan kampung tentang Sarjan. Istrinya Sarjan adalah anaknya pak camat.
Hanya Mamat yang tidak minta undur pulang. Masih ada pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya.
“Jan, kenapa pak camat ikut-ikutan heboh mengenai cutimu? Terus surat itu?”
“Oh itu, itu pasti pinter-pinterannya bapak camat. Soal surat, saya tidak pernah menulisnya.”
“Pak camat seminggu ini masuk kantor terus, kapan kalian menikahnya?”
“Ya, baru kemarin, hari Minggu. Hari-hari sebelumnya saya dan keluarga pergi ke rumah saudara dan sanak famili bapak dan ibu saya untuk meminta restu darinya. Kamu tahu kan, rumah mereka berada di luar kota semua.”
“Kok bisa istri kamu itu Imah, anaknya pak camat?”
“Itu rahasia, kalau mau tahu tanya sama bapak camat saja sendiri.”
“Ya, ya…, mentang-mentang sudah jadi mantunya pak camat.”
“Bang Mamat,” Imah menyela, “cepet pulang ke kantor dong, ada urusan pribadi yang harus kami tuntaskan. Kalau tidak pulang, awas nanti saya adukan sama bapak.”
Sambil menyeringai tawa, “Ya, kalau saya lama-lama di sini, nanti ganggu. Saya ngerti kok.”
“Kami tidak ngusir lho Mat.”
“Ha, ha, ha…, ha….,ha.., “ semua tersimpul dalam tawa.
Atas kejadian ini, kampung akan tetap heboh dan geger lagi. Tapi, tidak dengan artis tunggal lagi. Kini, artisnya adalah Sarjan dan Imah.
Purwodadi, 17 Oktober 2006.
Sarjan sama sekali tak nampak di rumah pak Subadi saat melangsungkan acara pernikahan anaknya, si Romlah. Kejadian ini sudah cukup menghebohkan seisi kampung.
Adatnya jika salah seorang tetangga memiliki gawe, seperti mantu yang dilakukan oleh keluarga pak Subadi, baiknya tetangga yang lain ikut datang ke rumahnya untuk membantu atau hanya sekedar meramaikan. Istilahnya disebut rewang. Tapi, bukan itu yang membuat geger seisi kampung. Pasalnya pak Subadi pernah menolak lamaran Sarjan untuk meminang Romlah, satu tahun yang lalu. Ada yang menyebutkan Sarjan masih sakit hati, sehingga tak mau datang ke rumah pak Subadi. Adapula yang ngomong begini, “Kasihan ya si Romlah, gara-gara bapaknya, dia harus kawin dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Heh, kalian tahu nggak, kalau kaki yang laki ada ciri-nya? Tadi saja tidak mau diwisuhi oleh Romlah. Lihat nggak mukanya? Padahal, hih…., mukanya juga tidak ganteng-ganteng amat. Dibanding Sarjan, jauh…., kalah deh!”
Adapula yang hanya diam saja mendengar berbagai spekulasi tentang Sarjan. Ada yang lebih ekstrim dengan memaki-maki dan menyalahkan pak Subadi.
“Dasar pak Subadi itu buta, tidak bisa membedakan mana yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan anaknya, Romlah. Katanya, dulu sejak SMA Romlah dan Sarjan sudah berpacaran. Apa ini tidak sama saja dengan zaman Siti Nurbaya, gila tidak?”
Yang lain bilang begini, “Kalau pak Subadi mau lebih melek, Sarjan sudah cukup mapan. Dia jadi pegawai di kantor kecamatan, sudah negeri lagi. Anaknya sopan, rajin, pokoknya kalau saya punya anak perempuan, pasti akan saya suruh kawin sama Sarjan. Tidak pakai lama-lama, langsung saja kukawinkan kalau Sarjan mau.”
Itu baru beberapa omongan yang beberapa hari ini semenjak pak Subadi punya gawe, beredar di sudut-sudut kampung. Omongan-omongan itu diperbincangkan mulai dari pagi sampai malam hari. Di warung-warung, di depan rumah, di sawah, di pasar desa, sampai di pinggir kali. Kejadian ini membuat keluarga pak Subadi terpukul. Karena rata-rata banyak yang menyalahkan pak Subadi. Mereka lebih bersimpati pada Sarjan.
Tentang Sarjan sendiri yang pegawai kantor kecamatan, umurnya sudah dua puluh lima tahun. Badannya tinggi tegap, kulitnya kuning agak gelap. Rambutnya selalu klimies tersisir rapi. Pakaian selalu masuk. Unggah-ungguh-nya baik. Berkepribadian. Ia tinggal di kampung ini seorang diri di rumah milik sendiri. Sarjan aslinya bukan dari sini, tetapi dari kampung seberang kali. Ia pindah kemari karena kampung ini lebih dekat dengan kantor kecamatan daripada kampungnya yang harus menyeberang kali segala. Ia tinggal nyetater motor vespa butut warisan bapaknya yang telah meninggal tiga tahun lalu.
Sebenarnya Sarjan lebih memilih tinggal bersama ibunya dan dua orang adik perempuan di kampungnya sendiri. Pasalnya, disini apa-apa harus ia lakukan sendiri. Dari masak, makan, nyuci pakaian, membersihkan rumah, sampai hiiiiih… tidur sendiri.
Enam tahun lalu, setelah satu tahun ia lulus dari SMA, Sarjan coba-coba ikut tes CPNS untuk formasi pegawai rendahan bidang administrasi perkantoran. Ijazah SMA-nya sudah cukup untuk melamar. Tidak ada badai, tidak ada tsunami, tidak ada topan, tidak ada lesus, Sarjan diterima dan ditempatkan di kantor kecamatan yang sampai sekarang ia bekerja. Untung tidak ada pengumuman ulang yang marak menghiasi seleksi CPNS beberapa tahun belakangan ini. Jadi, lolosnya Sarjan tidak ada anulir. Beberapa kali bapaknya berkata pada Sarjan begini, “Bejane awak ora ono sing bisa ngalahake—kemujuran seseorang tidak ada yang bisa mengalahkan.” Begitu ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Sarjan dan masih selalu dapat diingat-ingat oleh Sarjan. Maka setelah positif lolos, oleh bapaknya dibuatkan selamatan kecil dengan satu ingkung ayam (satu ayam utuh) dan jajanan pasar sebagai pelengkapnya.
Soal geger, tidak hanya di kampung ini. Ternyata di kantor kecamatan, juga begitu. Semua rekan kerja kantor membicarakan Sarjan. Apalagi sejak kejadian ini, Sarjan tidak menampakkan batang hidungnya, baik di kantor kecamatan, maupun di kampungnya. Sarjan hilang, lenyap ditelan oleh bumi. Ditambah hilangnya Sarjan, maka semakin seru dan geger memperbincangkan tentang Sarjan. Semakin banyak spekulasi-spekulasi yang dapat diperbuat. Ada yang mengait-ngaitkan antara kejadian yang satu dengan kejadian lain yang dialami oleh Sarjan. Bahkan ada yang mengaitkan dengan kejadian di masa kecil Sarjan. Kini, pamor Sarjan menjadi melambung. Ibarat artis, Sarjan sedang naik daun di puncak lidah orang-orang, menjadi pusat perhatian, menjadi bahan omongan, gosip, sampai menjadi bahan untuk cuci mulut pembuang selilit setelah makan. Sarjan, nama yang cukup singkat. Ada dua “a”-nya. Tapi, tidak sesingkat mengekspos dirinya saat ini.
Di kantor kecamatan, Sarjan hanya meninggalkan secarik kertas bertandatangan dan bermeterai segala. Isinya tentang permohonan cuti selama beberapa waktu yang tidak dapat ia tentukan berapa lama waktunya. Apakah satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, satu tahun, tidak dicantumkan. Alasannya bukan sakit, karena sehari sebelumnya Sarjan terlihat sehat-sehat saja masuk kerja. Alasan yang ia utarakan berbunyi seperti ini:
“Demi Tuhan, pokoknya saya minta cuti entah sampai kapan. Saya mohon. Kalau tidak diberi, maka sama saja membunuh saya di waktu yang sangat mendesak ini. Please diberi, kalau tidak, awas! Yang lain jangan meri. Trim’s pak camat.”
Pak camat ikut-ikutan klojotan dan terpukul menyaksikan ulah Sarjan yang sampai segila ini. Ia ikut-ikut nimbrung membincang Sarjan. Yang membuat pak camat merasa terpukul adalah apa yang dituliskan Sarjan dalam surat permohonan cutinya. Begitu tidak sopan. Tidak mencerminkan kepribadian Sarjan yang begitu sopan dan lemah lembut, but….
Sebenarnya pak camat sudah tahu apa yang hendak diulah oleh sarjan. Sehari sebelumnya Sarjan sudah membincang apa saja yang hendak dilakukannya selama cuti pada pak camat. Pak camat hanya manthuk-manthuk saja mendengar apa yang disampaikan oleh Sarjan berikut argumen-argumen yang dilontarkan dengan begitu cerdasnya dan terlebih dengan sopannya. Pak camat mengamini saja. Pak camat ikut-ikutan bertingkah seperti yang lain, tak lain, tak bukan, hanya lagak kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu biar semakin heboh.
Di kampungnya sendiri, malah ibu dan dua saudaranya juga ikut menghilang bersama Sarjan. Tetangga di sekitarnya tidak ada yang tahu kapan dan dimana mereka pergi. Seperti hantu mereka menghilang. Ada beberapa tetangga melihat terakhr kali ketika sekeluarga itu sore hari sebelumnya, sedang nyekar di kuburan bapaknya Sarjan. Baru tujuh hari dari hari pertama Sarjan hilang—lebih tepatnya sejak dari hari pak Subadi melangsungkan pernikahan anaknya—Sarjan tiba-tiba menampakkan batang hidungnya. Kampung semakin heboh lagi, Sarjan terlihat sedang membonceng seorang gadis dengan vespanya. Orang yang melihat langsung tercengang menyaksikan Sarjan membonceng gadis yang sangat cantik. Gadis itu berkerudung, berkulit kuning langsat. Perawakakan tubuhnya ideal. Pokoknya waahhh, top B-G-T, top banget deh.
Maka orang itu langsung pergi ke warung, kemana saja yang penting ada orang yang dapat ditemuinya untuk memberitahukan akan apa yang baru saja dilihatnya. Warga ada yang percaya, ada yang setengah percaya, dan ada yang menyangsikan. Padahal, si pembawa warta itu ngotot memberitahukan yang sebenar-benarnya apa yang baru saja dilihatnya. Berita itu cepat menyebar, bahkan sudah sampai di kantor kecamatan. Di kantor juga begitu, suasana menjadi tak karuan. Maka segera diutus seseorang untuk mencaritahu tentang apa saja yang telah dilakukan Sarjan yang telah membuat geger penghuni bumi, langsung ke rumah Sarjan. Yang diutus adalah Mamat, teman dekat Sarjan di kantor kecamatan. Dengan segera Mamat dengan meminjam sepeda motor dinas pak camat langsung menuju rumah Sarjan.
Sesampainya di rumah Sarjan, ternyata sudah banyak orang yang hendak mengorek keterangan dari Sarjan. Termasuk pak Subadi, pembawa warta dan tiga orang yang menyangsikan Sarjan pulang dengan seorang gadis. Mereka sangat ingin tahu bagaimana yang sebenarnya. Setelah berjubel di depan pintu sambil memanggil si empunya rumah, mereka semua diterima oleh Sarjan. Dan langsung dipersilahkan duduk di kursi di ruang tamu yang beberapa meter tepat menghadap pintu masuk.
Aksesori di ruangan ini cukup sederhana. Hanya terlihat gambar-foto presiden dan wakilnya nampang di dinding ruangan, beberapa foto Sarjan dan keluarga, kalender dan jam dinding yang kini telah menunjuk pukul sepuluh kurang lima menit. Ada masing-masing satu jendela di dinding kanan-kiri rumah ini yang terbuka lebar, sehingga cahaya dan udara bebas keluar masuk. Ada lemari panjang berisi buku koleksi Sarjan yang dijadikan penyekat ruangan ini dengan ruang dalam. Rumah Sarjan memang tak terlalu luas. Untuk keluarga kecil, pasti sudah cukup. Yang luas adalah bagian pekarangannya yang ia tanami apotek hidup dan ada kolam ikan di belakang rumah. Sebuah sumur di kanan rumah, dekat dengan bagian kamar mandinya.
Ruangan yang tak begitu luas kini nampak sempit sekali dipenuhi oleh orang. Kursi sofa yang mengelilingi meja kecil—yang hanya cukup menompang enam bokong orang—diduduki oleh enam orang. Sementara itu Sarjan masuk ke dalam untuk mengambil satu kursi lagi untuknya di ruang makan pribadinya.
“Begini lho dik Sarjan, bukan maksud mencampuri kehidupan dik Sarjan, kami semua ini datang ke sini ingin tahu apa saja yang dilakukan adik ini selama sekitar seminggu ini,” terang pak Subadi, “soalnya kampung ini menjadi geger semenjak kepergian dik Sarjan.”
“Ya, Jan,” Mamat menyahut seperti burung perkutut, “di kantor juga heboh banget. Kemana sih kamu?”
Yang lainnya juga turut seperti burung perkutut. Manut dengan manggut-manggut meminta kejelasan dari Sarjan.
“Saya pergi ada urusan penting,” jawab Sarjan dengan singkat.
“Jadi, kamu tidak sakit hati saat Romlah saya nikahkan dengan orang lain?”
“Ya, tidak pak Subadi. Lha wong Romlah mungkin sudah bukan jodoh saya, kok saya harus ngoyo.”
“Terus kamu ada urusan apa?”
“Saya….., ah, hanya urusan pribadi yang sangat penting dan mendesak.”
“Apa?” tanya Mamat penuh penasaran.
“Menikah!”
Kontan semua yang mendengar perkataan Sarjan yang singkat dan tegas itu menjadi kaget dan setengah mematung.
“Jadi bener kamu pulang bawa gadis, cantik lagi?,” tanya salah seorang yang paling sangsi.
“Gadis itu istri kamu Jan,” tanya si pembawa warta.
“Ya!,” jawab Sarjan. “Oh, ya, mari saya kenalkan dengan istri saya. Sebentar…” sambil Sarjan bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam.
Semua orang di ruang tamu itu menjadi tak sabar untuk melihat istri Sarjan. Mereka sudah pasang kuda-kuda dalam bola matanya untuk menyaksikan gadis yang menjadi pilihan Sarjan. Persiapan kuda-kuda itu ternyata mental setelah Sarjan dan istrinya keluar. Semua kaget setelah tahu bahwa yang menjadi istri Sarjan adalah Imah, anak gadisnya pak camat.
Sementara itu Sarjan dan Imah hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan orang-orang yang di depannya kaget dan melongo saja.
“Begini, saya tidak punya maksud apa-apa dengan apa yang saya perbuat ini dengan tanpa memberitahu dulu pada tetangga dan warga sekitar. Saya mohon maaf jika dari ulah saya ini ada yang membuat tidak berkenan. Apa yang saya lakukan ini hanya memenuhi apa yang diamanatkan oleh bapak saya sebelum meninggal, bahwa ketika saya melangsungkan pernikahan harus disaksikan oleh beberapa orang saja dari keluarga saya dan keluarga calon istri saya. Katanya ini sudah menjadi tradisi yang dijalankan oleh keluarga garis keturunan bapak. Mau tidak mau saya harus mematuhi amanat dari bapak. Apalagi disampaikan sebelum tiba ajalnya.”
Semua orang menjadi-jadi melongo mendengar penjelasan dari Sarjan. Maka untuk menghilangkan longoannya, mereka minta ijin pamit pulang. Tapi, dalam hati bukan alasan itu mereka minta undur pulang. Mereka sudah tidak sabar setelah mendapatkan bahan omongan untuk membicarakannya yang akan menghebohkan kampung tentang Sarjan. Istrinya Sarjan adalah anaknya pak camat.
Hanya Mamat yang tidak minta undur pulang. Masih ada pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya.
“Jan, kenapa pak camat ikut-ikutan heboh mengenai cutimu? Terus surat itu?”
“Oh itu, itu pasti pinter-pinterannya bapak camat. Soal surat, saya tidak pernah menulisnya.”
“Pak camat seminggu ini masuk kantor terus, kapan kalian menikahnya?”
“Ya, baru kemarin, hari Minggu. Hari-hari sebelumnya saya dan keluarga pergi ke rumah saudara dan sanak famili bapak dan ibu saya untuk meminta restu darinya. Kamu tahu kan, rumah mereka berada di luar kota semua.”
“Kok bisa istri kamu itu Imah, anaknya pak camat?”
“Itu rahasia, kalau mau tahu tanya sama bapak camat saja sendiri.”
“Ya, ya…, mentang-mentang sudah jadi mantunya pak camat.”
“Bang Mamat,” Imah menyela, “cepet pulang ke kantor dong, ada urusan pribadi yang harus kami tuntaskan. Kalau tidak pulang, awas nanti saya adukan sama bapak.”
Sambil menyeringai tawa, “Ya, kalau saya lama-lama di sini, nanti ganggu. Saya ngerti kok.”
“Kami tidak ngusir lho Mat.”
“Ha, ha, ha…, ha….,ha.., “ semua tersimpul dalam tawa.
Atas kejadian ini, kampung akan tetap heboh dan geger lagi. Tapi, tidak dengan artis tunggal lagi. Kini, artisnya adalah Sarjan dan Imah.
Purwodadi, 17 Oktober 2006.
Langganan:
Postingan (Atom)